Sahabat-sahabatku

“Susah bagiku mendapatkan teman. Makanya ketika seseorang telah kuanggap teman, seseorang itu akan menjadi sangat berharga. Dan seorang teman yang betul-betul teman, tidak akan pernah aku lupakan.”

Pernyataan yang kini tidak begitu sesuai lagi, tetapi pernah benar ada masa dalam hidupku ketika pernyataan itu benar. Berikut adalah tiga orang temanku, teman yang benar-benar kuanggap teman. Teman yang sudah seperti saudara sendiri, beserta kenangan tentang mereka masing-masing.

Aku dan mereka adalah penghuni sudut kelas, sejak bangku kelas kami yang tadinya disusun berbaris dijadikan berbentuk huruf U. Tempat kami, sudut belakang kiri kelas III-1 jika dilihat dari meja guru dan papan tulis, semuanya masih lekat dalam ingatan di kepalaku dengan tembok kelas yang dicat berwarna hijau. Sebelah kiri bibir pintu jika hendak masuk kelas, meja sebelah depan, tempat duduk ‘seseorang’ yang selama ini masih aku pikirkan. Koridor lantai dua tepat di depan pintu arah keluar kelas, tempat aku dan tiga orang temanku itu sering saling bercerita sambil memandangi lapangan di mana anak-anak bermain dan berolahraga. Kami hanya anak-anak yang hanya datang ke sekolah untuk belajar dan bercanda seperlunya, tidak ada organisasi, bahkan kami anti dengan yang seperti itu. Benar-benar masa itu merupakan masa yang paling berkesan dalam hidupku. Setidaknya sampai postingan ini dibuat.

Muhammad Qardhawi Arif. Ambisi sebagai detektif. Bacaannya komik. Benda kesukaannya uang logam. Kata-kata khas-nya “Need not to know”. Termasuk sosok yang jenaka. Kata-katanya hampir selalu bermakna ambigu dan mengarahkan ke arah pikiran kotor. Dia menyebut orang duduk di sebelahnya saudara. Awi, panggilannya. Si Gendut ini masih tetap gendut ternyata bahkan sampai empat tahun tidak bertemu. Aku ingat, kata-kata terakhirnya yang dia ucapkan padaku secara langsung, bahwa suatu hari aku dan Awi akan bertemu, dan hari itu aku sudah tidak mengenal Awi lagi, tetapi Awi tetap mengenaliku, kemudian kami berdua hanya berlalu seolah-olah tidak ada yang saling mengenal di antara kami berdua. Orang yang aneh. Bagaimana pun cara bicaranya, aku tetap saja selalu tertawa melihat caranya menyampaikan sesuatu. Aku merindukan si gendut ini. Sekarang dia sekolah untuk menjadi guru sekolah dasar. 🙂

Sufyan Hakim. Seorang yang pendiam (sewaktu kami masih sekelas, konon dia berubah total setelahnya). Hobinya menggambar, sama denganku. Sayangnya, karena dia tidak pernah mengajariku langsung bagaimana caranya menggambar, jadi aku malah menggambar dengan gayaku sendiri. Merupakan salah seorang yang paling populer di sekolah karena gayanya yang cool, dan dia sangat pintar. Aku tidak ingat lagi, berapa kali aku mencoba untuk menyaingi dia di kelas tetapi tidak pernah bisa kesampaian. Seolah-olah dia bisa melakukan semua yang bisa aku lakukan dengan lebih sempurna. Bikin iri saja. Setiap setahun sekali aku pergi ke rumahnya sekedar membaca komik dan bercerita tentang nostalgia masa lalu itu. Beberapa tahun ini kami sibuk, jadi aku tidak ke rumahnya karena tidak ada waktu, dan jika aku berkesempatan, justru dia yang tidak ada waktu. Sekarang, dia sepertinya sekolah untuk menjadi guru atau dosen biologi.

Rustam Maturidi. Aku sekelas dengan Rustam selama sembilan tahun. Dia ini agak liar, preman, tetapi dia rajin ke masjid. Dia orang yang baik, karena rumahnya dekat dengan rumahku, kami biasa bermain sepeda, menyewa PS1, mengerjakan tugas, sampai menzhalimi orang bersama-sama. Kami sebenarnya tidak begitu akrab di enam tahun awal kami sekelas, tetapi tiga tahun kemudian, kami menjadi teman yang saling bawa. Dia adalah teman dudukku sebelum aku bertemu Awi dan Sufyan, sainganku di akademik sewaktu jamannya kami saling tanding nilai tugas. Orang yang ‘kalasi’ sekaligus setia kawan. Seingatku aku sering dizhalimi olehnya, tetapi aku tidak menganggap itu sebagai suatu masalah (karena biasanya langsung kulampiaskan ke Awi). Dia adalah yang pergaulannya paling luas di antara kami. Mungkin ketika kami bertemu kembali, dia sudah menjadi pengusaha besar.

Itulah kami. Dan aku sendiri hanyalah pemimpi yang cengeng dan duduk di antara mereka.

Iklan

2 thoughts on “Sahabat-sahabatku

  1. selagi kenangan masih dihati
    sahabat tak kan pernah mati
    akan tetap terpatri
    selamanya tetap sahabat sejati

    senangnya punya sahabat 🙂
    tukaran link yuuuuuuuk

    Falzart : thanks puisinya… OK, saya ke lokasi deh…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s