Sebuah Catatan tahun 2009

(Published on facebook on 10 October 2009)

Kubuka sebuah map hijau bening di dalam dasar laci pakaianku, dan kutemukan benda-benda ini. Buku Tahunan ‘Benang Kusut’, benda-benda gantungan kunci, pas foto lamaku, dan buku angkatan MTs N Model Makassar.

Kuingatlah mereka. Mungkin yang kutuliskan ini bukanlah kenangan totalku dengan mereka, karena kenangan itu pasti akan pupus oleh zaman, seiring kenangan baru yang datang menggantikannya. Inilah mereka. Orang-orang yang berharga, sampai-sampai aku taksanggup harus membayar mereka berapa untuk apa yang telah mereka lakukan selama ini.

Kelas Akselerasi angkatan ke-6 SMA Negeri 17 Makassar.

Asifa Nurul Husnah (Chyphenk=Asifa)

‘Sebelumnya, dia adalah teman sekelasku di MTs N Model Makassar, seorang juara kelas bertahan. Karena tidak ada urusan dan sangkut-pautnya denganku waktu itu, aku tidak pernah berbicara sedikit pun kepadanya, kecuali suatu hari ketika Qardhawi mengajukan teka-teki rahasiaku ke bangkunya. Sungguh sangat tidak mengenalnya, bahkan hingga semester pertama di SMAN 17 Makassar. Setelah itu kami pun sekelas di kelas Akselerasi, dan saat itu mulailah ada interaksi bicara sedikit-sedikit, meskipun tetap saja aku tidak begitu mengenal dia. Yang kuingat hanyalah, perkataan Ulil bahwa Asifa jago makan. Wah, tidak kusangka ternyata seperti itu. Ada lagi, ketika aku berbicara tentang pribadi Sufyan, temanku di MTs N Model Makassar, yang sepertinya aku ingin sekali memiliki pribadi seperti Sufyan itu, tanggapannya bertentangan denganku karena menganggap sepandai apapun Sufyan, dia tidak mampu berbicara di depan secara langsung. Menurutku tidak harus selalu kita berani bicara secara langsung, ada yang namanya Behind The Scene. Hehehe…’

Fifi Elfira (Fhee-Cheel=Fifi)

‘Tidak tahu orangnya seperti apa aslinya, tetapi sejak kenal di Kelas Akselerasi, aku berasumsi bahwa Fifi ini orangnya fisik perempuan, tetapi kata-kata plus pribadinya separuh laki-laki (Hehehe, maaf ya!). Entah karena terkesan sedikit preman, atau karena kekanak-kanakan seperti kata Ijul. Entahlah agak aneh, seringnya sih si Fifi ini berkelahi dengan Ijul (ya,saling menuding), atau malah menggambar di dekatnya Echa, atau dibilang tokoh antagonis oleh Novi, entah yang mana yang dominan. Oh iya, yang kuingat Fifi ini seorang seniman gambar disinggkat jadi ‘senimbar’ atau ‘sesumbar’ (lho, koq?), tepatnya ‘penggambar’. Hal yang kuingat, Fifi ini lahir pada tanggal kelahirannya Albert Einstein, beda sehari dengan ulang tahunku, makanya biasanya yang ingat hari ulang tahunku, ya Fifi. Oh iya, Fifi ini sepertinya suka dengan binatang yang namanya kucing, mungkin kebalikannya Widy, gak tau juga sih kenapa bisa pendapatku seperti ini, hanya saja beberapa kali Fifi ramah pada kucing yang bertamu, dan pada tugas kesenian akhir, dia menggambar kucing.’

Hanifa Reza Zuraida (Echa)

‘Orangnya juga aku kenal pribadinya secara pasti, yang jelas kalau aku berbicara dengannya, sepertinya dia menyerahkan segala perkara kepadaku (pasti capek ya, ngomong sama aku?). Kadang-kadang menganggap apa yang kubicarakan itu lucu, padahal kayaknya tidak, tidak selalu. Hehehe… kadang-kadang juga kulihat Echa main kejar-kejaran sama Osel, Osel megang kepalanya Echa, trus Echa ngejar begitu saja, dan terjadilah salah satu pemandangan bodoh di kelas Akselerasi ini. Echa ini sering gambar kupu-kupu pake spidol warna hijau, dugaanku warna favoritnya memang hijau, dan kupu-kupu itu adalah iconnya. Yang kuingat sedikit, waktu di JILC, pertama kalinya Echa mendengar kebodohanku bersama Ulil, dan akhirnya tertawa lepas seperti orang gila (aku sudah gila duluan sejak jauh sebelumnya, sih) dan merambatkan kebodohan kata-kataku ke Novi di sebelahnya, dan menjalar sampai ujung. Berakhir di Shofa yang mengatakan, “Ih, jayusmu Falzart”, sungguh ada-ada saja. Padahal cuma sebuah pelesetan kata, menjatuhkan image-ku yang ternyata dianggap pendiam menjadi orang gila. Pernah suatu hari di ruangan computer kelas, memasukkan flashdisk yang namanya aneh gila, tidak tahu apa artinya itu, entah flashdisk itu punya Nining, atau punya Echa, SAYAARTERLO, dst.dst., kubilang kenapa namanya bukan TAUCO saja?”

Novia Arista (Novi)

‘Orangnya biasa, sama seperti Echa. Akan tetapi sepertinya pikirannya agak sedikit ‘dewasa’ kali, ya. Mengertilah apa yang kumaksud. Kadang-kadang di sudut kelas kudengar dia menuding Fifi sebagai tokoh antagonis, entah apa maksudnya. Novi ini kayaknya punya hobi jalan-jalan, karena promotor utama untuk menggerakkan Akselerasi ke luar dan mengumpulkan kami di tempat-tempat seperti Mall, home party dan sebagainya adalah Novi, biasanya bersama Echa, entah yang mana promotor utama yang aslinya. Novi dan Asifa sepertinya teman lama, entah di mana, di SD mana aku taktahu (dan memang kurasa aku takperlu tahu). Beberapa yang kuingat tenang Novi, dia pernah bilang waktu pembagain kelompok Sosiologi, “Ih, barunya pi satu kelompokka dengan Falzart, kau pernah mko?(sambil menoleh ke arah lain, lupa entah siapa, dan jawabannya ‘ia, pernahma satu kali’)”, pertanyaannya mungkin, perlukah kita sekelompok semuanya? Hehehe… Ingat juga, waktu itu kita sedang menggunting plastik bening untuk pelapis taplak meja guru, dan kemudian Novi menanyakan sesuatu tentang ‘seseorang yang tidak ingin kusebutkan namanya’, dan kubilang silakan tanya pada Asifa, trus jawabannya adalah ‘sudahmi kutanya kalau sama Asifa’. Dugaanku adalah Novi, Asifa dan ‘seseorang yang tidak ingin kusebutkan namanya’ itu berasal dari satu tempat yang sama pada awalnya. Satu lagi, yang mungkin tidak kulupakan, Novi biasanya bilang “ih, lucumu, Falzart”, padahal aku tidak sedang melucu. Hehehe… terbiasa mendengar kata-kataku itulah akibatnya, jadi agak kurang waras juga.’

Siti Hardianty Lukita Ningrum (Nining)

‘Awalnya aku bingung nih, ini orang koq namanya bisa jadi Nining, ya? Tapi kemudian, aku paham sembari berkata dengan perlahan ‘bukan urusanku’ (ini ya, yang namanya paham?) Kerjaannya orang ini, mendengarkan music dari HP kesayangannya waktu itu (HP kesayangan? Wah ini baru sotta’), HP Nokia, entah tipe apa, warna putih, bentuknya kotak, kalau dibungkus dengan pembungkus sabun tidak bakalan ada yang bisa bedakan, kayaknya. Mendengarkan musik seiring indahnya jam kosong yang memang dikosong-kosongkan, hehehe… Mulanya rambutnya panjang, terus dipotong sapai sependek rambutnya Dora The Explorer, yang memang lagi tenar saat itu, jadilah dia, Nining The Expolorer. Sekarang dia pakai Jilbab, jadi tidak akan aku ceritakan lebih lanjut lagi tentang rambut gaya Dora. Temannya Nining dengar musik biasanya, Osel, Ulil, dan Ijul. Musik-musiknya gayanya agak kurang jelas kudengar saat itu (memang saya benci musik waktu itu). Nining ini orangnya juga agak mirip seperti Echa, melakukan kebodohan yang hampir sama dengan Echa, berkejaran aneh-anehan dengan Osel atas alasan yang sama. Nining ini, kadang-kadang agak lebih tahan ngomong denganku sebelum akhirnya juga mengucapkan, “ya, terserah kau mi deh, Falzart”. Tapi kalau dibandingkan dengan Echa hampir sama daya tahannya terhadap percakapan bodoh denganku.’

Hj. Widyanti Khaeruddin (Widy)

‘Awal masuk belum Hajjah, kemudian jadi bu Hajjah, deh. Yang teringat tiba-tiba adalah rentetan huruf buatannya yang tidak jelas seperti ini: d6tHAcCeLerAtiOnClassOf17, kreatif sih, tapi bingung bacanya. Merupakan orang yang bhuurhueeengk bhaangeedz, dan sepertinya selalu menjaga penampilan. Hampir perfect deh orangnya, kalau dipandang dari sisi seperti itu. Salah satu murid dari Guru Besar Kita dalam Hal Djayuzz-Mendjayusi, Bapak Guzztian Rante Di Kapal, hingga akhirnya menjadi ahli djayus amatiran juga, pada akhirnya. Sering diganggui oleh Pak Ismail, guru Biologi yang kalian tahulah bagaimana, saat sang guru sedang mengajar. Stress kalau gemuk, atau dibilang gemuk (tenang aja Widy, seberapa pun gemuknya kamu, ga’ bakalan dijadikan hewan kurban). Beberapa yang teringat, Widy adalah orang yang pertama kali menanyakan tentang ‘seseorang yang tidak ingin kusebutkan namanya’ itu, setelah tepat kemarinnya Bu Sumi membaca pikiranku (baca: meramal). Dan lagi, Widy ini pernah bikin repot satu kelas Akselerasi, karena kami diundang (baca:disuruh) datang ke Galesong, kampungnya untuk syukuran. Tega. Tega sama mobilnya Rezan, dikeroyok soalnya sih sama belasan orang sekaligus. (Lho, yang tega siapa?). Oh iya, Widy kayaknya adalah orang yang paling histeris saat Majid dengan entengnya tidak memakai baju karena gerah seusai olahraga, seperti lihat kucing, sementar Novi biasa-biasa saja reaksinya. Widy phobia sama kucing, bahkan dengan suara kucing yang biasa kubuat-buat, padahal takgentar sedikit pun dengan kodok dan kecoa (malah dimainin, lho!). (Widy=Djayus tipe Beginner, Learner)’

Nurmajid Setyasaputra (Majid=Jigonk=Om=Kepala suku)

‘Pertama kali melihatnya di SMA, terpikirkan sudah berapa cucunya orang ini. Tidak tahu juga sih, kenapa bisa kenalan dengan orang macam ginian. Tapi, sudahlah si Majid ini memang masih muda (kalau dibandingkan dengan si Guzzzzzzzzzzzzzty) hehehe… Majid ini punya lima orang anak dan 3 orang istri (lho?)… Nggak, itu hanya penampakan luarnya saja. Si Majid ini, suka tertawa agak terpaksa, kelihatannya ketawa tidak ikhlas. (Mungkin karena pengaruh cambang dan janggut yang subur). Mengapa yang dibahasakan di sini adalah tertawa, karena kayaknya memang itu saja yang terlihat setiap hari di Akselerasi. Majid adalah lelaki dewasa, seorang yang memiliki jiwa kepemimpinan yang tinggi. Terbukti dalam pemilihan raja hutan, dia menduduki klasemen teratas musim ini (lho?). Majid adalah sang kepala suku (ketua kelas/kambing hitam). Hobinya, gak tau pasti, tapi sepertinya suka mengoleksi software-software rusak dan bajakan dalam laptopnya. Merupakan orang yang eksis dalam pergaulan meski tidak berorganisasi aktif. Kalau habis olahraga, biasanya kegerahan dan ngumpet di ruang computer sambil gak pake baju, dan bulunya, wah!!! Kayak bulu biasa ji… Kalau main catur di kelas sering sekali kalah, makanya agak jarang main sih. Juga merupakan salah satu pelaku pemecahan kaca kelas akselerasi dalam kasus permainan kasti batu besar yang dibungkus dengan koran dan pemukul dari bambu. Perangainya sederhana, entah mengapa dia pergi begitu cepat, apa memang dia sudah tua, hiks…hiks… (maksudnya pergi dari Makassar) (Majid=Djayus tipe Terpaksa)’

Rezan Achmad (Rezan=Echan)

‘Wah, kalau orang ini sangat luar biasa amat sangat-sangat hebat sekali soal fisika. Dalam hal yang lain juga sih. Tapi intinya, ada tiga hal yang bikin saya ingat dengan Rezan; fisika, catur dan nebeng. Kayaknya kalau Rezan ada di kelas, Pak Bakri lepas tangan deh. Dan kayaknya kalau main catur dengan aturan kalah ganti, yang diam di sana Cuma Rezan dan Ijul deh. Rezan adalah orang yang baik, baik untuk dibohongi, baik untuk dimanfaatkan, dan baik-baik lainnya. (hehehe…) Rezan, seorang penolong yang selalu memberikan tebengan gratis sampai rumah, enak banget ya, setidaknya sampai Rezan punya pacar. Rezan juga salah seorang yang agak mudah dibohongi (tenang sobat, kalau masalah fatal tidak pernah ji terjadi), jawaban yang paling terngiang-ngiang di kepalaku tentang suatu pernyataan yang kulontarkan kepadanya adalah: “Oh, iyakah?” Padahal jelas-jelas itu bohong. Contohnya saja, waktu itu kubilang, “Kalau orang balap naik motor terus jatuh, beeh… pasti kena Gegarus Otakus.” Sontak saja Rezan percaya, kalau yang namanya Gegarus Otakus itu memang ada. Padahal Gegarus Otakus itus kalaus orangus kepalanyus terbenturus. Atau waktu kubilang, “Nanti, kau akan mati tepatnya di Jalan Domba no.20”. Wah, gila. Belum lagi, kalau Ulil yang kerjai Rezan, pasti lebih kacau. Rezan (maksudnya mobilnya), sangat berharga karena banyak kenangan bersamanya, mulai dari tebengan pertama, tebengan ke Galesong syukuran Hj. Widy, tebengan waktu kartu siswaku hilang, tebengan waktu ngumpul di mall, tebengan antar jemput gratis, tebengan terakhirnya pun masih membekas di kepalaku (eh, maksudnya saya yang nebeng). Laptopnya Rezan juga punya kenangan yang unik, karena di situlah Rezan belajar bikin persentasi di Macromedia Flash, dan kemudian tugas presentasi serahkan padanya! (hahaha…). Penampilan luar seperti businessman atau mungkin businessboy. (Soal Hasanuddin bin Aco juga masih kuingat, lho)’

Zulkarnain Muin (Ijul)

‘Seorang manusia multitalenta, yang cepat sekali belajar. Yang membuat sakit hati adalah ketika aku dikalahkan main catur oleh Ijul, padahal Ijul baru pertama kali belajar. Whaaa… bayangkan!! Bayangkan! Penting sekali, ya masalah ini? Ijul paling hebat dulu kalau masalah menghapal mati sampai titik koma spasi tanda petik dan halaman bukunya pun bisa dihapal dalam waktu singkat. Luar biasa! Biasanya agak kurang suka dipanggil Muin, karena itu nama ayahnya. Sepertinya Ijul adalah pemicu utama pencarian nama keluarga antarsesama Akselerasi, karena M*in, Kal*, N*rmin, ketahuan semua, makanya sepertinya dia tidak terima dan membalas dendam dengan seluruh alam semesta hingga matahari terbelah tujuh dan kita semua makan semangka bersama, (Lho?). Orang yang paling sering kubuat merasa tidak nyaman, terutama ketika dia mengekor mobilnya Rezan dengan motor Jupiter Z merahnya itu. Dia kutertawai habis-habisan tanpa alasan yang jelas dari dalam mobil, sampai orang mendefinisikan aku=dongok, Ijul=temannya orang dongok… wah, ga ada malunya kita dulu itu. Dalam hal olahraga, Ijul adalah orang yang paling mahir, terutama soal bola-bola. Nilai penjaskesnya kayaknya 10,1 deh dikasih sama Pak Sahid. Ijul sepertinya agak mudah tersinggung, mungkin ada beberapa masalah pribadi intraAkselerasi yang tidak tampak, kulihat hal itu dua kali, mudah-mudahan itu tidak benar. Yang kuingat lagi, Ijul terlalu waspada ketika ada yang mengapuri jalanan sehingga tampak polisi tidur, padahal tidak ada apa-apa dan Ijul menghindari kapur itu, seperti menghindari polisi tidur. Ijul juga seorang adaptator yang baik, mudah menyesuaikan diri dengan siapapun. Di balik itu, dulu Ijul suka jingkrak-jingkrakan ala Nidji, sambil pakai headset, geleng-geleng kepala. Entah apa yang didengarnya, sepertinya lagu-lagu yang itu-itu saja deh tiap hari.’

Gustian Rante Tiballa (Gusti=Guzzty=Tyan)

‘Kecil, pendek, tapi jangan salah. Dia adalah orang yang usianya paling tua di Akselerasi. Bercita-cita menjadi gubernur, walikota, atau semacamnya. Tapi entah mengapa juga bercita-cita menjadi dokter. Merupakan biang gossip, jayuz-menjayusi, tertawa tidak jelas, dan saya juga menertawainya dengan alasan yang tidak jelas. Asal Toraja, tapi entah mengapa suka mempelesetkan kata (apa hubungannya?). Biasanya gossip dengan Shofa, atau yang lainnya. Merupakan salah satu The Bhuurhueengkz. Mungkin saingannya Widy. Tetapi tidak tahu pasti, sih. Soalnya, si Gusti ini adalah salah seorang yang kalau bicara agak kurang jelas, (bagaimana tidak? Kata-katanya dipelesetkan terus, mentang-mentang lantainya licin). Si Gusti ini adalah pendiri liga Othello Aksel lho!!! (Itu pasti karena Gusti tidak bisa main catur). Sebelumnya mungkin mohon maaf karena tanggapan tentang Gusti ini tidak terlalu banyak, mungkin karena Bang Gusti ini lebih senang menikmati keindahan pantai kanal laguna yang menawan. Maklumlah, Gusti tinggal di tepi pantai. (Gusti=Djayus tipe Advance, Mastered) ’

Shofa Dzakiah (Shofa)

‘Kemungkinan 70% Shofa ini lahir di Sofa. Kebenarannya belum diketahui dan masih merupakan misteri Ilahi (lho?). Shofa ini biasanya suka bicara-bicara dengan Gusti sepengelihatanku, sih. Maklumlah, tempat duduk mereka berdekatan. Mungkin mereka rajin sekali berdiskusi (baca:gossip) tentang pelajaran dan kondisi sekitarnya. Oh iya, Shofa ini kayaknya seorang informer yang baik, buktinya kalau Ulil tidak tahu ada tugas atau tidak, tanya ke Shofa, pasti dijawab. Mungkin kalau disuruh kerjakan mau juga kali ya? Hehehe… Suatu hari, kuingat Gusti mengatakan tentang angka 13 (katanya angka 13 itu angka sial, dasar sialan), setahuku hanya tiga orang kelahiran bulan 13, eh salah tanggal 13 di Akselerasi, aku, Rezan, dan Asifa. Taktahunya Shofa ikutan tersinggung kalau angka 13 itu dibilang angka sial, usut punya usut, nomor absennya Shofa adalah 13. Oh iya, masih ingat juga tentang film “Ghost Ship” yang katanya Shofa mau dia CD-kan(Compact disk). Dipelesetkan menjadi CD (celana dalam) yang mau di “Ghost Ship”-kan (baca:gossip). Hehehe… Ternyata Shofa tidak punya hati, karena suatu hari, Shofa bilang, “Ini Ulil, mencela tidak pake hati. Nda ada hatimu iyo?”, Ulil menjawab, “Kau kayak ada hatimu saja!”, Shofa bilang, “Ada iya!”, Ulil melancarkan kata-katanya, “Mana?”, dan percakapan pun stagn sampai di situ. Aku tidak tahu terlalu banyak tentang Shofa, tetapi Shofa kayaknya orang yang enak diajak ngomong, bahkan sama orang aneh sekalipun. Bayangkan saja, malam itu sms-an pakai bahasa aneh, diladeni sampai aku geleng-geleng kepala, “Kenapa orang ini tidak menyerah juga? Tidak cukup anehkah saya? Biasanya orang langsung menyerah.” Ya sudahlah, salah satu bentuk keanehan memang begitu adanya. (Shofa=Anti-Djayus)’

Andi Rahmayanti (Rahma=Detective)

‘Seolah ada missing link antara ini semua, mengapa Rahma menyebut dirinya detektif? (mestinya atlet). Rahma adalah orang yang tidak terdeskripsikan, seperti halnya kebanyakan yang dituliskan di sini. Jadi, mohon maaf apabila ada kata-kata yang kurang berkenan di hati, Wabillahit-Taufiq wal Hidayah, wassalamualaiku warahmatullahi wabarakatuh… Pemirsa pun menjawab, “Waalaikum salam warahamtullahi wabarakatuh” (lho? Koq jadi gini sih?) Rahma, yang pertama kupikirkan “bukan perempuan” lihat saja aksinya, benar-benar atlet laki-laki professional. Saingannya Ijul mungkin kalau di matanya Pak Sahid, tapi kebenarannya entahlah. Mulai terdengar ke-djayusannya pada era 80-an, waktu itu Presiden Soekarno lagi buang hajat, tiba-tiba alien datang dari dasar laut, menggeliat-geliut, kalang-kabut, kocar-kacir, dan tiba-tiba Presiden pun lupa cebok (lho?) Mulai memasuki empat bulan ketiga (istilahnya sih kelas XII), terdengar kabar dari kejauhan bahwa ada orang djayus yang membuat orang disekitarnya jadi menderita akibat ke-djayusannya. Akibat pergaulan yang tidak jelas, akhirnya ia menjadi tokoh djayus yang disegani di daerahnya, tetapi tetap saja masih kalah sama Ulil. Buku legendaries yang dimilikinya adalah buku matematika yang bertuliskan “Rosdiana”, bisa terbaca meski dari kejauhan pelosok sisi yang tersisihkan. Mohon maaf mungkin, karena di bagian ini lebih banyak kebodohannya dibandingkan dengan deskripsinya, soalnya masih bingung mau nulis apa. (Rahma=Djayus tipe Beginner, Self-Learner)

Andi Irhamnia Sakinah (Irham=Hame)

‘Mulanya aku tidak tahu, bahwa ternyata Irham itu nama laki-laki, tapi orangnya perempuan. Hehehe… Irham, seorang yang ekstrem, aku berani bilang begitu karena ya memang begitu. Bayangkan saja, bercanda bisa mukul kayak orang serius mau berkelahi, sakiiit. Pukulannya bukan seperti pukulan bercanda pula. Kalau versi lebay-nya, orang dipukul sama Irham bisa terlempar ke tembok, terus temboknya bolong sampai tujuh lapis, terus tiba-tiba kena tiang listrik, kesetrum, masih terlempar, melayang ke pom bensin, meledak, DHUUUAAARRR. Kena pom bensin lain, DHUUUAAAAAARR Lagi, akibatnya satu Makassar meledak, terus ada sinyal gawat darurat dari pemerintah pusat, kemudian pemerintah salah sangka dikiranya Amerika mau menyerang Indonesia, dan terjadilah perang dunia ke III. Selain bisa bikin perang dunia ke III, Irham juga punya jurus mematikkan, hypersonic attack wave, menghancurkan telinga, bisa-bisa kita terlempar kalau dengar teriakannya, dan buruknya adalah Irham tidak bisa bicara pelan-pelan. Irham itu ekstrem, bukan hanya serangannya yang bisa bikin perang dunia III, tapi ekstrem juga kalau burengk, makanya dia juga salah satu The Bhuueeerhuueeeengk. Pernah kuingat, di suatu pagi yang cerah aku sedang menyapu, di dalam kelas bersama beberapa orang duduk-duduk di dalam. Tiba-tiba terjadi gempa yang menewaskan 70.678.120.123 ekor nyamuk, dengan suaranya, sambil bilang “Halo teman-teman, tahu ndak kemarin saya dapat DAMRI yang ada AC-nya lho!?!!” Terus, dengan pandangan sinis, kami melihat ke arah Irham dan berkata, “Terus kenapa?”, dan kelas pun menjadi hening, yang terdengar hanya hembusan angin pelan yang mendayu dengan santainya. Menyebut namanya Irham, bisa bikin bingung, bayangkan saja, pernah pelajaran agama, namanya Irham masuk di situ, Pembentukan Keluarga Irhamniah Sakinah Mawaddah Warahmah, wah kayaknya ada yang salah nih dari rangkaian kata-kata itu.’

Hanita Putra Djaya (Hanita=Ha-chan)

‘Si ekstrem juga, dalam hal Histeris. The Most Hysterical Woman in The World, bedanya dengan Irham, Ha-chan tidak suka memukul, dan bisa bicara pelan-pelan. Tapi, kalau sudah masuk Hysterical Mode, hypersonic attack wave juga bisa keluar, whaaaaa… Hobinya sih tidak jelas, kalau masalah kucing, dia juga bisa histeris, bukan seperti Widy, tapi malah kebalikannya. Mencari dimana kucing itu, dan memaikannnya layaknya boneka. Kejam, padahal kalau Ulil akan langsung membebaskan kucing itu dengan melemparkan kucing itu dari tempat yang tinggi (lho? Siapa yang kejam sih?) Ha-chan juga sering main catur, biarpun mainannya amatiran sekali. Tapi, bisa-bisanya aku kalah dari Ha-chan waktu itu, andai saja aku tidak mengalah. Sukanya sih, nih orang main-main sama Osel si aneh, main kejar-kejaran layaknya anak kecil yang kurang kerjaan tanpa alasan yang jelas (setidaknya, mungkin Echa lebih beralasan, tapi sama saja ‘kan?)’

Nur Atika Syarif (Atika=Atice)

‘Atika, paling muda, padahal usianya masih seumur jangung, tapi mengapa? Mengapa? (ah, tidak ada yang berduka koq…)(kalau Majid itu bukan seumur jagung, tapi seumur kura-kura janggutan, Gusti apa lagi!) Tidak teridentifikasi, tidak terdefinisi, tidak terjamah oleh dunia luar dan tidak makan selama 234.652 hari berturut-turut (lho?). Intinya, aku tidak terlalu sering berbicara dengan orang ini, mungkin aku dendam karena obsesiku menjadi orang termuda gagal (penting, ya?) Mohon maaf mungkin, karena tulisan pada bagian ini tidak bisa mendeskripsikan Atika secara gamblang. Aku ingat, setiap pulang sekolah Atika selalu dijemput oleh pace-nya(baca=ayahandanya), dan selalu ada mata-mata, adiknya, menengok masuk lewat jendela, memastikan keadaan aman-aman saja dan BOFF, menghancurkan Konohagakure dengan hanya sekejap saja (wah, nyambung dimana nih?) Intinya, memastikan Atika sudah pulang atau belum. Itu saja.’

Ahmad Ulil Albab (Ulil)

‘Ulil panggilannya, hal pertama yang terlihat adalah pendiam dan tukang tidur, dulu mungkin aku juga tertawa melihat kemalasan itu, tapi kini juga tertular padaku. Itulah karma, biarpun aku takpercaya karma. Ulil, pertama kali kulihat di Akselerasi biasa saja, tetapi namanya aku langsung kenali, karena dari pengamatan sederhana, kuperhatikan adanya bibit-bibit keanehan. Kuingat, waktu itu aku baru beberapa hari menggunakan kacamata. Dan rasanya tentu saja pusing sekali, sampai mual. Terus sambil duduk di tempatku, kubilang “Ahh, sakitnya mataku, ribut sekali ini semua!” (tapi sambil pasang gaya pegang perut), Osel menjadi orang pertama yang sadar dengan keanehan itu, dan menyampaikannya ke Ulil. Kemudian Ulil membalas dengan keanehan yang serupa, “Adah, sakitnya kakiku, ribut sekali bela!” terus Osel memberikan reaksi aneh juga, sambil pakai gaya tutup hidung seperti ada yang kentut, dia bilang, “Adahh, ributnya e, tidak tahanka.” Sambil melihat satu sama lain, kita pun tertawa. Maknanya apa? From the first sight, what I see from Ulil is a weirdity (artinya: buanglah sampah pada tempatnya). Ulil, dalam kesehariannya dulu, sering mencela orang lain, objek celaannya itu kayaknya 60% aku, 30% Osel, 10% sisanya, jika ada yang belum disebutkan harap melapor ke kantor pusat Badan Meteorologi dan Biostatistik Pertahanan Nasional(?) Hanya karena aku ini berkulit lebih hitam dari yang lainnya, ditambah dengan faktor pendukung Ulil dekat denganku (tempat duduknya, maksudnya) akhirnya celaan selalu datang bertubi-tubi dari Ulil, seperti Machine Gun di permainan Counter-Strike, kalau di-klik dan tidak dilepas-lepas kliknya, nembak terus sampai sakit hati. Kuingat salah satu celaan yang bikin kujadi sakit hati, “Ini foto Aksel, ada gambarnya 17 orang, tapi kenapa bayangannya ada 18?” Wah, kering saya dicela, panas, bisa meledak ini…. Kebiasaan lainnya, Ulil sering menyiksa Osel dengan menggunakan dasi Jubel yang dijadikan ketapel atau cambuk atau semacamnyalah. Sehingga Sering terjadi perang bodoh, antara Osel dan Ulil, kejar-kejaran berongol-ongol ria keliling kelas. Tetapi masalahnya, kenapa dalam adegan itu, aku ikutan nyiksa Osel, sampai-sampai Osel terkepung. Ulil juga biasa langsung tiba-tiba main kick and run dengan Osel dan aku. Tanpa alasan, kita ditendang, terus dia lari, terus kita balas nendang, terus dibalas lagi, terus lari, terus membalas lagi, terus lari lagi. Ulil juga biasa memulai perkara dengan bilang Osel cina, dan permainan pun dimulai, kejar-kejaran. Ulil juga orang yang suka main catur, awalnya mainannya payah, tetapi setelah itu Ulil-lah yang mengajarkan kepada kami bagaimana menggunakan kuda dengan benar, setalah mendapatkan bimbingan khusus dengan melawan kakeknya (serius lho ini!). Ulil dulu kalau pulang, sering tidak bawa motor, makanya biasanya lewat pintu belakang, aku dan Ulil naik becak yang sama ke tempat mengambil pete-pete. Dan Ulil memang selalu curang, sisi becak yang ada bayangannya dia duduki, sedangkan sisi becak yang panas matahari, disuruh aku yang duduki. Awalnya kupikir, suatu hari akan ada gantian, tetapi TIDAK. Ulil juga menjadi orang yang mengganti segala kalimat menjadi berbau uang, sehingga dikiranya Ulil itu matre. Akan tetapi, perubahannya terasa sekali ketika Ulil sedang dekat dengan pacarnya, sering sms-an sendiri, sering tiduran sendiri sambil dengar musik, sering menghambat langkah main catur untuk sms, padahal permainan lagi seru-serunya. Pokoknya seperti ada yang menjauhkanku dari kebodohannya Ulil. Sampai kalau ditanya itu sms-an sama siapa dia bilangnya, “bacot!” Makanya dugaan awalnya, nama pacarnya Ulil itu Bacot, tapi ya tidak penting bagiku, karena itu bukan urusanku. Terlebih lagi perubahannya waktu awal-awal usia 18nya, sepertinya dia mulai berusaha meninggalkan kebiasaan aneh-anehannya di masa lalu. Intinya, sepertinya tawa dan kebodohan, keanehan dengan Ulil selama di Akselerasi bisa dibilang paling banyak kurasakan, tetapi seiring dengan berjalannya waktu, hubungan tawa itu merenggang. Ulil sepertinya mencoba untuk dewasa, dan seperti tadi kukatakan, itu bukan urusanku. (Ulil=Djayus type pacalla)’

Osel Novandi Witohendro (Osel)

‘Orang ini mungkin adalah juara bertahan, yang ranking-nya tidak pernah turun (selalu di bawah). Osel, orang yang acuh dengan sekitarnya, hanya peduli dengan urusannya sendiri dan ketertarikannya pada sesuatu. Osel juga merupakan orang yang membuatku jadi gila main game, nonstop 2.342.091 jam! Bagaimana tidak, Osel-lah yang mengajarkanku tentang game computer, dari pengetahuanku yang sempit tentang internet. Osel, orang yang kalau lagi tidak ada kerjaan pasti gangguin Ha-chan, atau main kejar-kejaran sama Ulil dan aku, atau main kejar-kejaran sama Echa, main ketawa-ketawa di belakang waktu guru menerangkan, atau main catur. Biasanya Osel kalau diajak keluar sama-sama Aksel yang lain paling susah munculnya. Hanya peduli dengan urusannya sendiri. Kalau game-nya belum tamat, mungkin belum mau keluar. Game bersama yang Ulil, Osel, dan aku mainkan bersama adalah Pokemon, mulai dari FireRed, sampai Emerald, ga ada bosan-bosannya. Osel kalau main game biasanya curang, karena langsung browsing cheat, sementara aku katro soal begituan, makanya Ulil juga sering cela saya tentang hal ini. Sering aku bicara aneh-anehan gaya alien dan makhluk dasar laut dengan Osel dan hasilnya adalah nyambung, hebat nih anak… Biasanya Osel ini tampak lesu, kurang bersemangat, terutama saat Osel mengucapkan kata “semangat!” pasti ekspresinya hampa, mata disipitkan (memang udah sipit koq), mulut menganga sambil liur berjatuhan, dan terlihat tangan dikepalkan dinaikkan setinggi mata searah bahu menghadap ke depan. Oh, iya Osel ini orang yang konsisten, waktu itu Ibu Nuralam tersinggung karena Osel dan aku seperti bermain-main, padahal kenyataannya karena Osel malas bawa buku, makanya kita berdua satu buku, aku mengajukan kepada Osel untuk meminta maaf kepada Ibu Nuralam, tetapi Osel menolak. Osel juga orang yang bikin saya paling malu sama guru Sosiologi, tidak tahu mana yang lebih aneh, aku ataukah Osel, sehingga diperhatikan oleh guru itu (maaf aku lupa namanya).

Falzart Plain (Falzart / Adhan)

‘Tidak terlalu banyak pengalaman dengannya, tetapi dia menulis ini:

Takkan rela sang langit mendung

Bila sang awan takkumpul jua

Takkan ada emosi yang terbendung

Bila kita taklalui ini semua

Kita telah bersama lama

Meskipun dalam waktu yang singkat

Kita telah membuat sang langit mendung

Menghalangi sinar jatuh ke bumi

Tetapi memberikan harapan kehidupan dari hujan

Ya, kumpulan emosi itu kelak akan menjadi hujan

Dan kita akan menjadi awan hitam yang besar

Sehingga mampu menghujani daerah kering yang gersang

Tetapi pahamilah…

Kumpulan awan hitam itu berbahaya

Dan merupakan takdir Tuhan untuk kita berpisah

Berpisah jauh…

Agar kita bisa menjadi besar

Dengan cara kita sendiri…

Ya, dengan cara masing-masing

Maka akupun rela kalian pergi…

Dan suatu hari nanti

Kuyakin awan-awan besar itu telah ada

Dan awan-awan itu akan berkumpul di suatu daerah gersang

Menghujani daerah itu perlahan

Hingga tumbuh bunga, dan rumput yang hijau…

Kita adalah awan itu…

Hitamnya awan itu adalah kenangan…

Awan itu besar karena kerinduan…

Padang gersang itu adalah hati yang kesepian…

Hujan itu adalah haru…

Dan bunga dan rerumputan itu adalah kebahagiaan

Kebahagiaan kita saat semua berkumpul kembali…

Dan ternyata kalian telah menjadi awan besar yang siap menaungi…

Mau mengucapkan: Happy Anniversary for 6th Accel of 17 yang ketiga, mohon maaf kepada teman-teman… (301006-301009) dan mohon maaf juga atas salah kata dan salah publish yang kelewat cepat ini. Hehehehe…

(Published on facebook on 10 October 2009)

Iklan

9 thoughts on “Sebuah Catatan tahun 2009

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s