Diary: Kanal Bakti

Firstly, pertama-tama, gambar di samping ini hanya illustrasi, HANYA ILUSTRASI!! (kalau gambar di-klik bisa keluar sumber aslinya dari mana). Soalnya saya tidak punya kamera, satu-satunya kesempatan yang pernah saya punyai adalah handphone dengan kamera 2MP, tapi sekarang sudah hilang diambil orang (maling). Jadinya sekarang saya sudah tidak punya kesempatan lagi untuk mengambil gambar. Tapi, gambar di samping itu cukuplah untuk menjelaskan apa yang kulakukan hari ini. Lokasinya juga sama, yaitu di Kanal Rappocini, Makassar (di-bold supaya kelihatan keren).

Tadi pagi, setelah balada mata terlambat terbuka, dan mimpi delay tayang gara-gara sibuk bikin posting di tempat lain pada malam harinya, akhirnya saya terlambat bangun. Hal biasa mungkin, ya, memang hal biasa. Tapi bagaimana caranya kalau mau pergi kerja bakti dalam rangka KKN sambil tidur? Tentu tidak bisa. Hari ini saya ada jadwal untuk kerja bakti di Kelurahan Maricaya Selatan, di pinggir kanalnya. Jadwal jam 9, tapi saya tiba di sana jam 9 lewat 1 jam 😀 . Untung saja saya tidak datang pas waktu makannya saja, jadi bisa dilihat juga kalau saya juga ikut membantu. Oh iya, dari ilustrasi di atas, sebenarnya saya teringat bahwa dalam kerja bakti KKN ini katanya mau dibantu tentara, tetapi tadi tidak ada terlihat tuh. Mungkin mereka masih tidur juga (*eh nggak ding, yang tukang tidur itu cuma saya saja barangkali, ya).

Kesan pertama ketika panik, ya segera bongkar muatan ke kamar mandi dahulu. Terus, sms-an dengan orang-orang yang ‘rencananya’ memang tidak mau datang kerja bakti di kanal. Terus sarapan, terus tidur lagi, eh maksudnya berangkat ke kanal.

Sebenarnya lokasi kanal itu tidak jauh dari tempat tinggalku, yang jauh itu jarak dari mimpi ke kamar tidur, terus ditambah jarak dari kamar tidur ke kamar mandi, terus dari kamar mandi ke kamar tidur lagi, terus dari kamar tidur ke meja makan, terus dari meja makan ke parkiran motor, terus dari parkiran motor ke kantor kelurahan, terus dari kantor kelurahan ke kanal. Semuanya 1 jam. Kemudian, sebenarnya aroma kanal itu tidak aduhai gimana gitu, hanya saja perbedaan aroma makanan tadi pagi dan aroma kanal itu berbeda 180,5 derajat. Alhasil, aroma kanal tercium seperti aromatherapy untuk ‘euthanasia’ (suntik mati).

Sampai di sana, alangkah terkejutnya saya. Orang yang kerja bakti sedikit sekali, bahkan dari warganya sekalipun (dari yang KKN jangan ditanya, sudah saya sebut di atas). Pas, saya tanya-tanya, ternyata orang pertama yang saya ajak bicara adalah ketua RT 1, terus ketua RT 2, terus pemuka masyarakat, tidak lama kemudian, saya lihat Pak Lurah ikutan membersihkan kanal. Wah, ternyata membersihkan kanal itu hanya untuk para petinggi, ya. Luar biasa! Kalau begitu, kenapa Pak Camat, Pak Walikota, Pak Gubernur, dan Pak Presiden tidak sekalian turun saja, ya? Ah, mungkin mereka sedang kerja bakti di kanal mereka sendiri, ya? Hahaha.

Ada hal yang lebih luar biasa lagi. Setelah membersihkan kanal, ada hidangan nasi kuning. Memang ada kran air untuk cuci tangan, tapi tidak ada sabun. Jadilah kami makan dengan tangan ber-aromatherapy khas kanal penuh sampah.

Sekarang, saya sedang sibuk mengurusi ini. Mungkin kalau ada yang mau melihat kesibukan saya dan memberikan semangat untuk saya, silakan berkunjung di sana dan memberi saran. 🙂 Terima kasih.

Wassalam.

<<Previous Diary<<

>>Next Diary>>

Iklan

4 thoughts on “Diary: Kanal Bakti

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s