Diary: Dilarang ke Kampus

Semua mahasiswa tanpa kecuali, hari ini Selasa, 15 November mulai jam 18.30 s/d 16 November Rabu tidak boleh ada kegiatan untuk S1 (diliburkan besok) dan yang masih tinggal malam ini akan ditangkap polisi, ini keputusan Rektor.

Luar biasa. Saya dapat sms ini 3 x dengan redaksi yang sama dari nomor yang berbeda-beda. Saya tidak begitu tahu persisnya apa yang terjadi, yang saya ketahui adalah adanya tawuran di kampus.

Waktu hari senin sore, saya memang berada di kampus, menghadiri pertemuan yang saya janjikan kepada junior saya di kampus, selesainya pertemuannya magrib. Nah, karena sudah masuk waktu, kami sholat lah, berhubung tempat pertemuannya juga di masjid. Waktu langit sudah agak biru gelap gitu, orang-orang sudah mau sholat semua, tiba-tiba di luar masjid kedengaran suara orang kejar-kejaran pakai teriak-teriak bicara kotor (ini menunjukkan bahwa orang tersebut sedang emosi, saya kira sebenarnya hal semacam ini tidak perlu dibahas). Orang-orangnya banyak, saling kejar-kejaran, teriak-teriakan, lempar-lemparan. Suaranya menjengkelkan sekali. Tidak tahu bagaimana pokoknya jengkel! Tahu gak bagaimana rasanya mau sholat terus diganggu begitu? Saya juga jadi emosi, hampir saja saya keluar masjid ambil batako terus nostalgia praktekkan gaya tolak peluru ke orang-orang rese itu. Daripada saya panas, emosi, gelisah, resah, marah, ya mending lanjut sholat saja. Untung Imamnya ikutan keluar panggil jamaahnya yang sudah keluar semua. Awalnya saya kira Pak Imam mau nonton tawuran juga, tapi ternyata Pak Imam tidak sehobi itu nonton tawuran dan ternyata kita semua dipanggil masuk. Mungkin semua jamaah magrib hari itu emosi setengah jiwa sama orang tawuran itu. Kalau Pak Imamnya emosi atau tidak, saya gak tahu deh.

OK, sebenarnya saya tidak peduli dengan aksi mereka yang lempar-lemparan batu tidak jelas seperti itu. Itu mungkin hanya perbuatan (atau efek samping) dari doktrin senior mereka: untuk membentuk solidaritas diperlukan konflik, konflik membuat solidaritas semakin solid. Tapi, wah, ini paham yang salah. Memangnya kampus tempat perang? Memangnya kalau sudah lulus jadi sarjana, kita tidak ketemu lagi? Kalau ketemu lagi mau nostalgia bagaimana? Jadi nanti bialngnya begini: ‘oh, kamu dulu yang saya lemparkan batu terus kepalanya bocor itu, ya?’, terus dibalas begini, ‘oh, jadi kamu rupanya, si*lan kau, sini kubalas!’ Kan aneh? Ini contoh perilaku kekanak-kanakan kawan! Bodoh sekali kalau mahasiswa tawuran sesama mahasiswa, setahuku lembaga kemahasiswaan tidak seharusnya mengajarkan nilai-nilai semacam itu kepada kaum intelek. Ini namanya barbar (bukan barbeque).

Selama ini saya tidak peduli, sampai sekarang pun begitu. Tapi, kalau rektor sudah melibatkan polisi, itu artinya saya harus peduli. Ya… karena adik-adik saya suka tinggal di kampus, soalnya wireless-nya bagus, dan kucing-kucingnya lucu, bisa dilempar dari lantai 3 tapi gak mati (serius, lho!). Wah, saya tidak bisa membayangkan kehidupan organisasi kampus tanpa mahasiswa di dalamnya.

Firasatku, anak-anak yang suka tinggal di kampus akan tetap tinggal di kampus. Mereka akan menyamar sebagai mahasiswa S2 (soalnya mereka bermutu [bermuka tua], wajah mereka tua-tua semua), dan kalau malam mereka akan pasang pagar tinggi yang tidak pernah ditutup di depan sekretariat. Nanti saya cek saja apa yang terjadi.

Rabu, rencananya saya mau ke kampus. Tapi gak boleh. Saya banyak janji banyak agenda di kampus. Tapi gak boleh ke sana. Buat yang berhasil mengacaukan jadwal kencanku, selamat deh, selamat yah, selamat tawuran, semoga menang dan tidak menangis. Kan lucu kalau tawuran terus menangis, lucu kan? Mahasiswa kok nangis? Mahasiswa kok tawuran? Malu sama umur bung!

(saya pergi ke KKN atau ke tempat lain saja, daripada bingung, huh..)

<<Previous Diary<<

>>Next Diary>>

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s