Diary: Jelek?!

OK. Mungkin ada yang tanya kenapa judulnya begitu. Saya juga bertanya-tanya kenapa saya bisa sampai sangat emosi sampai tulis judul jelek begitu. Ya, kondisi hari ini jelek sekali. Saya merasa kembali ke suasana beberapa tahun yang lalu ketika saya menilai diriku sendiri tidak berguna. Mungkin, setelah lepas dari masa jabatan di organisasi, mentalku kembali ke mental useless people. Saya bingung. Sekarang bahkan seolah tidak ada urusan yang bisa kuselesaikan.

Menjadi tidak berguna, menjadi sampah, wah sisi itu menjadi begitu dominan lagi sekarang. Dulu, ketika paham itu masih sangat kuat di pikiranku, saya menganggap itu wajar. Kemudian, suatu hari mataku terbuka oleh kenyataan bahwa tidak ada manusia yang tidak berguna. Manusia dilahirkan untuk menjadi sesuatu sesuai dengan fungsinya (bukan berarti saya yakin saya akan ditakdirkan jadi dokter).  Saya menemukan kenyataan bahwa meskipun pas-pas-an, saya punya kecerdasan, hobi, dan kemampuan. Ya, saya memang tidak bisa memaksimalkan potensi itu, contohnya sebenarnya pada dasarnya dari kecil saya suka menggambar dan membuat cerita, sebenarnya saya berpikir bahwa hal yang paling potensial untuk saya kembangkan adalah menjadi seorang komikus. Mungkin seharusnya saya kuliah sastra saja, tidak usah jadi dokter. Tapi, itu pikiran lalu.  Ternyata saya ditakdirkan untuk kuliah kedokteran. Suatu hari barangkali saya akan beralih profesi menjadi seorang komikus lagi, hehehe…

Jujur, saya merasa tidak percaya diri dengan penampilan, makanya saya berkesimpulan kalau saya ini jelek. Jelek, ya benar-benar jelek, saya bahkan punya alergi yang saya tidak tahu alergennya apa, dan hal itu selalu membuat rasa gatal luar biasa di kulit sampai-sampai banyak krusta-nya (hitam-hitam bekas garukan), dan ini terasa semakin sulit kutangani. Bukan hanya penampilan yang jelek, hati dan sikap juga sepertinya begitu, saya punya sifat jelek: penakut, pemalas, lambat, tidak konsisten, penghianat (kadang-kadang), dan tidak mau susah. Bayangkan betapa banyak ciri penampilan, sifat dan sikap yang harus saya ubah.

Kalau seperti yang dipaparkan di atas itu benar pikiran orang pasti jijik dengan saya (saya saja kadang-kadang jijik), tapi saya adalah orang yang menerima diriku apa adanya. Saya bahkan tidak tahu kenapa saya menuliskan paragraf di atas. Saya hanya sedang kesal saja.

Keadaan jelek yang lain adalah kondisi di rumah. Ayahku, hmmph, kerjanya marah-marah terus. Saya tidak tahu perilaku seperti itu masih mendidik atau tidak untuk usia seperti saya, tapi saya rasa tidak lagi. Ingin rasanya kukatakan: “Ayah, saya perhatikan hari ini marah-marah terus, bisa tidak kasih tahu pelan-pelan saja?” atau “Ayah, jangan marahi saya! Saya tidak suka! Kalau ada yang harus saya kerjakan pasti saya kerjakan.” Tapi itu kan tidak sopan, sudahlah.

Postingan ini sungguh postingan paling kekanak-kanakan yang pernah saya buat. Berharap suatu hari saya akan berubah menjadi laki-laki yang baik tanpa sifat jelek tersebut. Mudah-mudahan saya bisa kembali ikhlas dimarahi tanpa harus kembali rendah diri.

Saya minta maaf kepada semua pihak yang merasakan sifat jelek saya ini. 😦
Untuk yang memaafkan, terima kasih 🙂 doakan saya supaya berubah jadi lebih baik, ya. 😀

<<Previous Diary<<

>>Next Diary>>

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s