Diary: Kalasi

Saya pikir saya akan libur dulu memposting di tempat lain, sebagai gantinya saya belajar bagaimana membuat website, ternyata ribetnya minta ampun (maksudnya saya yang minta ampun karena terlalu ribet). Tapi, untuk permulaan akhirnya website pertamaku jadi juga. Biarpun berakhiran co.cc, ternyata itu dibuatnya susah juga. Bikin repot. Jujur, saya tidak tahu website itu mau diisi apa πŸ™‚ . Saya hosting di 000webhost, domain di co.cc, FTP pakai FileZilla, dan semua itu gratis. Serius, Gratis! Ya, tapi entah mengapa website itu lebih lambat terbuka daripada blog ini sendiri.

Saya banyak belajar hanya untuk membuat website. Awalnya saya sudah tahu teorinya kalau ada yang namanya domain dan ada yang namanya hosting. Domain itu nama situs, dan hosting itu tempat simpan data untuk suatu situs. Yang saya tidak tahu adalah bagaimana cara pakai hosting, bagaimana menghubungkan itu ke domain, bagaimana memakai FTP seperti FileZilla, apa gunanya mySQL, dan lain-lain. Sekarang saya sudah tahu, meskipun belum lancar. Sebenarnya saya mau sharing di sini tentang bagaimana saya membuat website saya dengan susah payah karena baru belajar, meskipun jadinya tidak ada bedanya dengan blog ini.

Suatu hari saya berpikir untuk punya uang online, tapi ternyata hal itu masih sedikit sulit. Menemukan hal yang menyenangkan yang dapat kulakukan dengan benar saja belum tentu ada. OK, sepertinya saya cerita sudah terlalu jauh menyimpang, dengan kalimat barusan saya jadi ingat kenapa alasan postingan ini seperti itu: Kalasi.

Kalasi adalah perbuatan tidak mau susah, perbuatan orang pemalas yang mengakali orang lain untuk melakukan pekerjaannya, perbuatan orang yang tidak sungguh-sungguh dalam melakukan kewajibannya dengan alasan malas, dan lain-lain semacam itu. Saya ini kalasi πŸ™‚ . Mungkin saya bukan orang yang paling kalasi seantero teman-teman saya, tapi saya cukup kalasi kalau mau dibandingkan dengan orang sekitarku saat ini.

Di lokasi KKN-ku tadi, ada seminar awal program kerja. Bagianku adalah sebagai seksi perlengkapan sekaligus presentator untuk salah satu program kerja. Untuk urusan administrasi program kerja, saya sudah sangat terbiasa dengan itu, makanya saya lakukan itu dengan sangat cepat dari dua hari sebelumnya. It’s just so simple. Yang bermasalah adalah soal perlengkapan. Seharusnya, saya sudah sangat expert di bidang perlengkapan suatu acara. Bagaimana tidak? Selama tiga tahun, SK kepanitiaanku jatuh di seksi perlengkapan terus. Jujur, kalau urusan berbicara dengan orang lain, itu memakan sisi diriku yang lainnya, itu menguras energi lebih banyak dari biasanya, dan itu menutupi sisi diriku yang asli, yang pendiam, yang pemalas, dan lain-lain. Makanya saya malas sekali dengan urusan perlengkapan karena harus pinjam perlengkapan di sana dan di sini. Saya pun mengambil langkah kalasi.

Sampai dua jam sebelum acara, saya belum menyiapkan perlengkapan sama sekali. Tidak ada kursi, tidak ada LCD, tidak ada laptop, tidak ada colokan, dan tidak ada-tidak ada yang lainnya, sementara saya sibuk main game (sindroma tidak fokus). Jadi, intinya saya sudah kalasi dalam hal waktu. Apa lagi? Tidak sampai di situ, saya mempercayakan kemudian urusan LCD kepada teman seposko yang sehari yang lalu akan membantu dari hal meminjamkan LCD, LCD aman, dia yang bawa, saya bebas. Urusan kursi dan sound system, tanya ke Pak Lurah, Pak Lurah arahkan pinjam ke Pak RW, Pak RW bisa pinjamkan sound system, tapi untuk kursi Pak RW arahkan untuk pinjam ke Majlis Ta’lim. Terus, karena katanya kalau mau pinjam kursi harus bayar, saya minta ditemani Pak RW ke sana (jadi tidak bayar: kalasi dana). Setelah ada kesepakatan, saya mengarahkan teman-teman saya untuk ‘membantu’ mengangkat kursi dari penyimpanan kursi Majlis Ta’lim ke lantai 3 gedung Kelurahan, padahal sebenarnya saya sendiri tidak mengangkat apa-apa (kalasi tenaga). Sampai di situ saja? Oh, tidak. Mengatur ruangan seminar seharusnya adalah tugasku, tetapi saya sok sibuk di tempat, saya sebenarnya santai main game, mungkin yang lain mengira saya sedang mempersiapkan slide untuk presentasi program kerja. Sekali lagi, saya kalasi. Seusai acara, saya masih kalasi lagi. Kursi-kursi yang harus dikembalikan, sound system yang harus dikembalikan, ruangan yang harus dirapikan, semuanya seperti saya mandatkan kepada orang yang ada di sekitar.

Wah, saya durhaka sama teman-teman seposko nih. Tega nian diriku. Pada akhirnya, semua orang keringatan, yang lain keringatan karena kerja angkat-angkat barang ke sana ke mari, saya keringatan ketawa terbahak-bahak setelah mengakui ke-kalasi-anku di hadapan mereka waktu briefing akhir (ini salah satu contoh tidak baik, bukan untuk ditiru). Hahaha… Untung saja suasananya bercanda, kalau tidak, saya bisa dilempar dari lantai 3 gedung Kelurahan. πŸ™‚

<<Previous Diary<<

>>Next Diary>>

Iklan

6 thoughts on “Diary: Kalasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s