Diary: Rencana

Bertahun-tahun saya mempelajari tentang perencanaan. Pelaksanaan memang tidak selamanya selalu nol besar, tetapi kebanyakan memang begitu (disebut sebagai nol kecil). Kadang-kadang kita mengatakan akan melaksanakan plan A, tapi yang jadi justru plan Z-2100. Ya, bagus-bagus kalau memang bikin planning dari awal, kalau tidak bagaimana?

Kalau ditanyakan planning itu penting atau tidak, jelas jawabannya bagi saya: TIDAK. Alasannya sudah saya paparkan di paragraf pertama: karena hampir tidak pernah terealisasi, akreditasi ‘nol kecil’. Mungkin satu di antara alasan yang membuatnya penting adalah karena suatu kegiatan tidak boleh dijalankan kalau tidak punya administrasi berupa perencanaan. Selebihnya, setelah administrasi disepakati, disetujui, maka rencana pun berjalan dengan omong kosong (action tidak sama dengan planning). Hahahaha. Nggak ding (bercanda kok, bercanda. Untuk yang orang manajemen, tolong paragraf ini jangan digubris, ya…)

Sebenarnya, rencana yang sering berhasil terealisasi menurut pengalaman empiris saya adalah rencana yang datangnya dari ilham (bukan nama orang) dan rencana yang datangnya dari hati nurani dengan tekad yang terdalam. Selebihnya, kalau bukan karena itu, kembalilah seperti paragraf sebelumnya. πŸ˜€

Saya berkepribadian perceiver, kepribadian yang sembrono, dengan ciri khas yang menerima apa adanya, dan lebih sering menjauhi masalah dengan menjadi pengamat dibandingkan dengan harus datang dan menyelesaikan masalah. Ciri khas lain orang perceiver adalah sering terlambat, nah bagaimana caranya semua sesuai rencana kalau memang saya-nya yang sering terlambat? Haruskah keterlambatan direncanakan juga? Kepribadian perceiver itu suka ‘wandering’, suka berkelana, dengan kata lain suka melakukan apapun yang tidak penting, bukan seperti seorang judger (kebalikan perceiver) yang bisa dengan tepat memutuskan apa yang harus dilakukannya. Ini adalah kendala yang besar, karena setiap kali saya membuat jadwal saya selalu merasa menderita melaksanakannya, rasanya selalu hilang mood pada waktunya. Ya, selalu ada pikiran yang oportunistik lewat-lewat di kepalaku.

Kadang-kadang saya membujuk diriku sendiri untuk melakukan segalanya sesuai rencana, tetapi tidak semua bujukan berhasil. Contohnya, kalau pikiranku sedang membawakuΒ  ‘wandering’, saya selalu berkata kepada diriku:

“Hei, apa tujuanmu ke sini?”

itu tidak mempan, tapi kalau saya menggantinya dengan kata seperti ini:

“Hei, sebenarnya apa yang kau harapkan dengan pergi ke sini?”

biasanya mempan. Semua pertanyaan itu sebenarnya bisa saja tidak mempan kalau diriku yang suka ‘wandering’ itu bisa menjawab pertanyaan itu dengan tegas (dengan kata lain, sebenarnya saat itu saya bukan sedang ‘wandering’, hanya sedang lupa saja saya sedang apa). Kata-kata tidak mempan lainnya adalah:

“Besok apa yang harus dilakukan, ya?”

yang mempan itu:

“Besok enaknya ngapain ya?”

Lucu ‘kan? Masa sama diri sendiri saja harus main bujuk-bujukan kayak orang pacaran?

Ya, kadang-kadang diri kita itu terbagi menjadi alam sadar dan alam bawah sadar. Bagaimana memasukkan perintah ke alam bawah sadar adalah sebuah seni yang harus dikuasai masing-masing individu agar mampu me-manage dirinya sendiri. Saya adalah salah satu manusia yang memiliki kesulitan untuk melaksanakan rencana karena saya ini orangnya moody, pikiranku suka ‘wandering’ ke mana-mana, dan terlebih lagi saya bukan orang yang percaya diri. Tapi, satu hal yang saya yakini bahwa Tuhan sekali pun tidak akan mengubah nasib kita kalau kita tidak mengubahnya sendiri (innAlloha laa yughoiyyiru maa biqaumin hatta yughoiyyiru maa bianmfusihim). Makanya saya harus berubah, saya harus bikin rencana, dan saya harus laksanakan rencana itu. Saya bahkan harus membujuk-bujuk diri saya untuk melakukan hal mustahil itu. Itu susah.

Itu susah, memang susah. Makanya kita harus selalu semangat. πŸ˜€ Semangat semuanya! πŸ˜€ Saya juga akan selalu semangat.

<<Previous Diary<<
>>Next Diary>>

Iklan

8 thoughts on “Diary: Rencana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s