Diary: Pak Muhtar dan Pak Slamet

Sebenarnya saya sama sekali tidak kenal dengan kedua orang yang namanya kusebutkan di judul, hanya saja salah seorang pemilik nama di atas itu ‘mengganggu’ pikiranku beberapa hari ini. Saya tidak pernah bertemu dengan Pak Slamet, saya hanya bertemu dengan Pak Muhtar dalam beberapa kesempatan sepulang dari posko KKN.

Pak Muhtar adalah seorang montir serba bisa, beliau cerdas, tapi sayangnya beliau tidak sekolah. Usianya sekitar enam puluh. Beliau tinggal di rumah bengkel beberapa blok di belakang kantor Lurah (posko KKN). Kalau pagi hari saya ke posko, saya pasti lihat beliau, saya senyum ke beliau. Kalau sore hari saya pulang dari posko, saya juga pasti lihat beliau nongkrong, saya senyum ke beliau. Beliau itu suka menceritakan kisah yang terulang-ulang kepada anak muda yang lewat, bikin capek.

Saya tidak tahu kalau namanya adalah Pak Muhtar. Beliau cerita panjang lebar tentang Pak Slamet. Beruntung, karena ucapannya terulang-ulang saya mampu menyerap dengan baik apa yang beliau katakan (*entah kenapa saya mulai merasa menggunakan kata beliau menggambarkan orang itu sudah meninggal, huft… Maaf, ya…).

Pak Muhtar:
(lagi duduk-duduk di pinggir jalan, saya lewat mau ambil motor yang kuparkir juga di pinggir jalan)
“Hei pulang mako?”
(=sudah pulang, ya?)

Saya:
“Iye’, yang lain sudah pulang mi dari tadi, Pak.”
(iye’=iya, tapi ungkapan ini lebih sopan)
(mi =tidak usah dibaca, sama saja artinya dibaca atau tidak)

Pak Muhtar:
“Di kunci ji jendela di atas? Nanti kena angin lagi najatui lagi anak-anak di bawah. Dulu waktu jatuh itu, saya yang pasang.”
(=Apakah jendela di atas sudah dikunci?)
(najatui=menjatuhi)

Saya:
“Iye’, sudah mi saya kunci, Pak.”

Pak Muhtar:
“Saya ini sebenarnya cerdas. Otak saya ini otak-otak pemikir.”
(Saya heran, kenapa dia tiba-tiba curhat begitu)

Saya:
“Oh, iye’ Pak”

Pak Muhtar:
“Saya ini bisa pikir, orang lain belum pi pikir. Saya dapat, orang lain tidak dapat. Otak-otak Professor ini otak saya.”
(=Saya memikirkan yang orang lain belum pikirkan, dst.)

Saya:
(mengiyakan saja)

Pak Muhtar:
“Saya itu tidak sekolah dulu, tapi otak-otak saya, otak-otak professor, otak pemikir.”
(seingatku ini kalimat yang paling sering dia ulang-ulang)

Saya:
(mengiyakan lagi)

Pak Muhtar:
“Ada itu namanya Pak Slamet, dia tinggal di sana, tapi empat rumahnya, banyak mobilnya. Professor dia, dia dosen di Bandung, di sini, di mana lagi, ya? Dia dosen keliling, orang hebat dia.”
(mulai curhat tentang Pak Slamet)

Saya:
(mengiyakan saja lagi, memperhatikan wajah Pak Muhtar dengan senyum-senyum)

Pak Muhtar:
“Tapi Pak Slamet itu dia akui saya, saya sama dia ces. Teman saya dia itu. Dia akui penemuan saya.”
(ces=akrab)

Saya:
(sudah tahu ‘kan?)

Pak Muhtar:
“Saya punya bengkel itu, alat-alatnya saya ji yang bikin, tapi tidak ada orang yang bikin itu. Orang Jepang, orang Amerika tidak ada yang dapat itu. Saya ji yang dapat.”
( ji=cuma, saya ji= cuma saya)

Saya:
“Alat kayak bagaimana, Pak?”
(daripada diam senyum-senyum terus, saya bicara sedikit)

Pak Muhtar:
“Alat-alat bengkel, saya yang buat itu, banyak orang foto bengkel saya, alat-alat saya, terkenal saya.”
(*bangga)

Saya:
(sudah tahu ‘kan?)

Pak Muhtar:
“Dulu itu saya bisa lolos di mana-mana, mau di Unh*s, di mana saja, tapi saya nda lanjut. Kalau kita kuliah, sama ji terus yang naajarko dosen itu, kau jadi peniru saja.”
(naajarko = yang diajarkan kepadamu)

(sesi saya di-skip karena saya diam terus)

Pak Muhtar:
“Saya itu bisa sukses di mana-mana, tapi Saya memang tidak lanjut. Keponakan saya tidak ada yang tembus di Universitas, beda memang sama otaknya Omnya.”

Pak Muhtar:
“Kayak saya bagus, tidak meniru. Saya tidak mau meniru karena otak-otak saya ini otak-otak cerdas.”
(*repetition)

Pak Muhtar:
“Pak Slamet itu dulu ditolak di Bandung kuliah, terus dia kuliah di sini dia jadi Professor. Hebat dia.”

Pak Muhtar:
“Saya juga hebat, itu alat-alat saya tidak ada yang samai”
(samai=sama = menyamai)

Pak Muhtar:
“Terus itu lagi (menunjuk ke tiang gapura) itu saya yang bikin. Saya kerja batu bisa, kerja motor bisa, kerja bengkel bisa, kerja listrik bisa, saya bisa semua. Ada itu orang Professor tapi dia cuma bisa satu ji. Saya banyak karena otak saya otak-otak cerdas, otak-otak pemikir.”

Pak Muhtar:
“Sama ji Pak Slamet itu waktu saya tanya-tanya kenapa dia jadi Professor itu karena dia bikin sesuatu yang aneh, yang unik, tidak ada yang bisa bikin, kayak yang saya bikin, pokoknya yang tidak ada orang pernah bikin, terus dia kirim, ih dia diangkat. Hebat dia. Professor dia. Saya professor juga karena saya begitu juga, otak-otak saya ini, otak orang cerdas.”

Pak Muhtar:
“Coba tanya Pak Slamet itu, siapa itu Muhtar, pasti dia bilang orang hebat itu Muhtar, temanku, cesku, karena saya ini professor juga. Saya itu akrab sama dia karena saya dari dulu waktu kecil sama-sama dia. Coba tanya itu Pak Slamet, dia pasti kenal saya.

Pak Muhtar:
“Oh, kau mahasiswa ko kau di? Dosenmu itu, kalau tanya dosen siapa saja pasti kenal itu sama Pak Slamet. Mungkin kau kalau ketemu sama Pak Slamet itu tunduk-tunduk, tapi saya ces sama dia. Nanti pale kalau ada orangnya saya kasi ketemuko supaya diajarko juga. Jangan mako terlalu tunduk-tunduk nanti, saya antarko, saya ces ji sama dia, nanti saya bilang kau keponakanku jadi bisako akrab juga.”
(=Katanya: karena saya mahasiswa, saya pasti segan. Pak Slamet Β dosen terkenal [tapi saya tidak kenal dia]. Saya mau dipertemukan dengan beliau, diantar sama Pak Muhtar supaya saya tidak terlalu segan, nanti saya mau diperkenalkan sebagai keponakannya)

Pak Muhtar:
“Coba mi nanti tanya Pak Slamet, diajarko dasarnya. Pasti diajarko supaya bikin yang aneh, yang unik. Jadi Professorko juga itu kalau kau bikin yang aneh, yang unik. Jangan hanya ikuti dosen, itu namanya meniru.”
(=Katanya: saya dipersilakan tanya Pak Slamet, nantinya saya akan disuruh buat yang unik juga supaya jadi Professor)

Yap, itu tadi. Untuk pulang ke rumah, saya menghabiskan banyak waktu untuk improvisasi. Tahu kenapa? Karena setiap kali saya mau menghentikan percakapan, dia selalu mengulang dan mengulang lagi. Saya jadi berpikir kalau saya sedang dikader oleh Pak Muhtar ini karena setahu saya salah satu teknik untuk mengkader adalah dengan merepetisi suatu paham, dan paham yang mau ditanamkan di sini adalah: “Jadilah Professor dengan membuat sesuatu yang tidak terpikirkan orang lain, jangan meniru saja.”

Sejatinya, Pak Muhtar ini adalah benar-benar Professor, saya mengakui beliau. Dan sepertinya beliau juga butuh pengakuan di usianya yang renta. Repetisi itu dan caranya memulai percakapan itu sangat menunjukkan kebutuhan akan pengakuan itu, kurasa. Beliau professor, meskipun dunia tidak pernah melihat hasil karyanya yang menakjubkan. Bahkan saya pun sebenarnya belum melihat hasil karya beliau, hehehe… Tapi, saya percaya saja padanya karena ternyata dari sepuluh pegawainya beberapa tahun yang lalu, hampir semuanya sudah lepas dan membuka usaha serupa di tempat lain. Dan semuanya ahli.

Mungkin banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari Pak Muhtar ini, dan mungkin lebih banyak lagi pelajaran yang bisa kita ambil dari Pak Slamet kalau saya ketemu nanti. Saya tidak tahu dari mana ini bermula, dari senyum kah? Tapi sepertinya ini akan menjadi sesuatu yang menyenangkan sementara saya rehat dari sana. πŸ˜€

<<Previous Diary<<

>>Next Diary>>

Iklan

12 thoughts on “Diary: Pak Muhtar dan Pak Slamet

  1. aaah, ,mungkin semakin berumur memang semakin perlu pengakuan ya..
    jadi ingat, dulu alm. mbah kakung saya juga selalu mengulang-ngulang cerita tentang prestasinya sewaktu sekolah pada cucu-cucunya.
    kami semua sampe hapal. hehehe
    dulu sih kadang sebel kalau udah diceramahi gitu

    sekarang kangen, pingin diceritain lagi

  2. profesor = guru…

    dokter = guru…

    intinya…semua bisa jadi prof dan dokter…selama kita bisa jadi org yg bisa menyalurkan ilmu…

    pak muhtar mungkin sebaiknya dibawa ke psikiatri…

    org yg narsis punya kecenderungan gila

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s