Diary: Pencitraan

Hari ini saya mau bahas tentang pencitraan, deh. Entah kenapa sepertinya orangtuaku tidak puas karena saya (anaknya) tidak seelok ayah ibunya, ya saya punya penyakit memang, penyakit fisik dan mental yang membuat saya tidak sedap dipandang (disingkat : jelek). Sudah deh, saya mau berhenti menghina diri sendiri. Kalau orang terhina makin dihina jadinya teraniaya. Sebaiknya saya segera melakukan perbaikan, dalam hal ini yang paling mungkin cuma … ya … pencitraan. Hmm…

Pencitraan. Apa sih pencitraan itu? Menurut Kamus:

Citra
cit.ra
[kl n] (1) rupa; gambar; gambaran; (2) Man gambaran yang dimiliki orang banyak mengenai pribadi, perusahaan, organisasi, atau produk; (3) Sas kesan mental atau bayangan visual yang ditimbulkan oleh sebuah kata, frasa, atau kalimat, dan merupakan unsur dasar yang khas dalam karya prosa dan puisi; (4) Hut data atau informasi dari potret udara untuk bahan evaluasi;

Pencitraan
pen.cit.ra.an
(1) Sebuah usaha untuk menonjolkan citra terbaik di mata publik; (2) Usaha pembuktian keeksisan; (3) Menunjukkan apa yang dirasakan secara sangat berlebihan hingga tidak sesuai lagi.

Sebenarnya saya agak bingung baca kamus (karena saya tidak setuju dengan definisi pencitraan menurut kamus, terutama definisi di poin [3], bertentangan dengan hati nurani saya). Pencitraan dalam bahasa Inggrisnya itu imaging. Dalam dunia kedokteran, juga ada yang namanya pencitraan, tapi satu-satunya yang saya ketahui adalah pencitraan radiologi (yang tentang rontgen, sinar X, dll). Waktu belajar Geografi juga ada yang namanya pencitraan, tapi pencitraannya dari satelit. Dalam dunia politik juga ada pencitraan, pencitraan tokoh politik yang menurutku tidak jauh beda dengan yang namanya kebohongan publik (*ups maaf). Mungkin dalam dunia akting juga ada. Bingung.

Pencitraan berasal dari kata citra. Awalnya kalau mendengar kata citra ada dua hal yang terpikir: nama cewek yang tinggal di ujung jalan sana, atau nama merek salah satu body lotion. Ternyata citra itu image (tapi tidak enak didengar kalau sebutan orang yang jaim [jaga imej] diganti jadi jaga citra, nanti pacarnya si Citra bisa marah).

Dalam kehidupan saya sehari-hari, pencitraan dalam hal imej dan kredibilitas ataupun sekedar cari muka sering terjadi. Contohnya, waktu masih mahasiswa baru ada teman yang sudah dengan gagahnya mau ‘menggagahi’ ketua BEM (*eh salah: maksudnya sudah mau menjadi segagah ketua BEM). Padahal masih mahasiswa baru yang style rambutnya dibilang gagah saja tidak layak (=botak). Contoh lain pencitraan yang sering saya dapatkan adalah pencitraan gaya NATO (no action talking only), pencitraan semacam ini gagal dalam keseharian, tetapi berhasil dalam rapat dan debat. Pencitraan NATO ini sangat tidak baik menurutku, ini menurunkan kredibilitas seseorang.

Sepertinya saya harus bisa menciptakan pencitraan juga. Ya, berhubung pencitraan saya saat ini adalah seperti orang gila yang suka tertawa tidak jelas, kadang-kadang jadi murung tidak jelas (pencitraan alami saya). Mungkin saya harus mencitrakan diri sebagai orang yang berwibawa. Ah tidak, mungkin sebagai orang yang selalu ramah saja. Ah tidak, mungkin sebagai orang yang keren saja. Ah tidak, sebagai orang yang alim saja. Ah tidak, mungkin sebagai orang yang … orang yang … (*aduh lupa, orang yang begitulah…). Tuntutan pencitraanku sekarang adalah mencitrakan diri sebagai (1) seorang muslim, (2) seorang calon dokter, (3) sebagai kakak, (4) sebagai guru, (5) sebagai orang tampan menawan yang bersih dari segala keburukan. Mungkin yang saya coret itu masih terlalu susah, susah sekali. Jangankan poin (5), poin (1) saja sulit kalau tidak istiqomah (dan saya orang yang moody, sangat susah untuk istiqomah)

Sekedar saran yang saya dapatkan dari sebuah sumber, bahwa untuk membuat suatu pencitraan yang baik adalah dengan betul-betul menjadi sesuatu yang mau kita citrakan itu, jangan berbohong (anti-NATO) dan jangan ceritakan kebohongan. Dan seperti yang dikatakan Pak Muhtar tempo hari, jadilah professor yang menciptakan sesuatu yang unik yang berguna yang berbeda dari orang lain. Dengan itu semua saya rasa kita sudah bisa membentuk citra yang baik.

Satu lagi pendapat saya tentang pencitraan. Dengan melakukan pencitraan dengan benar (anti-NATO),  artinya kita sedang berusaha mengubah pribadi kita menjadi pribadi yang lebih baik, bukan hanya berusaha mengubah pandangan orang lain terhadap kita. Dan ini adalah sesuatu yang positif menurut saya.

OK, jadi alangkah baiknya jika kita membuat pencitraan yang baik di mana saja kita berada. Tapi, apapun yang kita lakukan tidak akan berhasil jika kita kurang semangat dalam melakukannya. Jadi, semangat, ya! (menyemangati diri sendiri 😆 )

<<Previous Diary<<

>>Next Diary>>

NB: Sumber gambar langsung klik di gambarnya saja.

Iklan

12 thoughts on “Diary: Pencitraan

  1. Saat ini yg paling banyak terjadi memang pencitraan dari segi negatif, misalnya “cari muka”.

    Pencitraan pada dasarnya memang cukup penting , asalkan dilakukan secara positif, dan dimulai dari meningkatkan kredibilitas dan kualitas diri sendiri dulu, hehe….

    Salam 🙂

    • Bisa saja. Atau mengubah diri kita yang apa adanya. Misalkan murah senyum itu baik, kita mau punya citra sebagai orang yang murah senyum, maka kita betul-betul menjadi orang yang murah senyum, bukannya bikin spanduk yang tulisannya: saya murah senyum, atau update status di mana-mana: Saya murah senyum, dulu ahh…
      Ya, menurut saya sih…

  2. pencitraan itu merupakan suatu proses dalam diri seseorang untuk menjadi pribadi yang baik dan menjadi panutan nantinya, namun pencitraan yang ideal adalah dimulai dari keikhlasan individu tersebut tanpa adanya pamrih dikemudian hari…. 😀

  3. saya juga setuju. beberapa hal yang saya yakini antara lain seperti ini:
    1. Terima diri sendiri dulu, segala kekurangan dan kelebihannya
    2. Hargai diri sendiri. Diri sendiri juga perlu dianggap keren, jadi jangan pasrah kalau memang ada yang kurang memuaskan (menurut kita atau menurut orang lain). Caranya adalah menjadikan diri layak di mata orang lain. Penampilan, sikap, dan perilaku. Kita pasti juga akan senang kalau kita bisa menata diri sebagaimana mestinya.
    3. Hargai orang lain. Menjadi orang baik tidak pernah salah. Membahagiakan orang lain memiliki manfaat sangat besar, termasuk membentuk citra yang baik dari diri kita sendiri.

    Good luck. Sukses selalu ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s