Diary: Sanksi

Sanksi adalah hukuman yang harus dihadapi ketika melakukan suatu pelanggaran, begitulah menurut saya. Yang saya maksud bukannya ‘sangsi’, tapi ‘sanksi’ ya! Bedakan! Sangsi itu sama dengan galau, sedangkan sanksi itu adalah hukuman. Ya, berhubung persoalan galau sudah dibahas hari sebelumnya, dan saya dari awal memang berniat membahas tentang sanksi, makanya pembahasan kali ini adalah tentang sanksi.

Bismillahirrohmanirrohim, saya mulai. Mudah-mudahan saya tidak ngaco’ dalam menyampaikan lagi (soalnya ‘flight of idea’ adalah kebiasaan saya yang alamak sangat sulit saya ubah). Kita mulai dengan definisi dari sanksi. Menurut kamus, sanksi adalah sebagai berikut:

1 tanggungan (tindakan, hukuman, dsb) untuk memaksa orang menepati perjanjian atau menaati ketentuan 1022 undang-undang (anggaran dasar, perkumpulan dsb): dl aturan tata tertib harus ditegaskan apa — nya kalau ada anggota yang melanggar aturan-aturan itu; 2 tindakan (mengenai perekonomian dsb) sebagai hukuman kepada suatu negara: Dewan Keamanan PBB mengadakan — terhadap negara yang menyerang negara lain3 Huk a imbalan negatif, berupa pembebanan atau penderitaan yang ditentukan dalam hukum; b imbalan positif, yang berupa hadiah atau anugerah yang ditentukan dalam hukum;

ber·sank·si v memiliki kekuatan hukum dalam melakukan tindakan atau menerapkan sanksi; ada sanksinya

Seperti biasa, saya tidak pernah bisa mengerti arti kata dalam kamus dengan benar. Ada yang tahu apa yang orang macam saya pikirkan? Dari awal saya berpikirnya sanksi itu negatif, maksudnya hal yang tidak menyenangkan, ternyata ada juga yang positif seperti yang dikatakan di poin 3 makna kata sanksi. Ternyata pikiranku sempit ya? Ya, setidaknya saya tidak berpikir kalau sanksi itu adalah sebutan untuk orang yang tahu tentang suatu kejadian dan biasanya dipanggil pengadilan untuk memberikan keterangan tentang kebenarannya. Eh, ini saksi ya artinya? (*ngaco [lagi])

Lebih dari definisi, dalam diary saya, saya membahas hal sedang saya pikirkan selama seharian. Hari ini saya berpikir tentang sanksi ini karena sebuah perkataan ayahku: “Segala bentuk kelalaian yang tidak disengaja, harus mendapat hukuman, apalagi yang disengaja”. Bukan tanpa alasan sih itu. Logikanya kalau misalnya seseorang lalai dan menimbulkan suatu kerugian, dia toh harus mengganti kerugian itu, padahal tidak sengaja. Yang saya masalahkan adalah ketika seseorang itu sudah mengganti dan dia tetap dihukum, dengan alasan bahwasanya ganti kerugian itu untuk menebus kerugian, dan hukuman untuk menebus kesalahan. Apakah ini adil?

Saya tidak berpikir itu adil, tapi saya berpikir itu mendidik. Semua kesalahan itu harus diberikan hukuman supaya menimbulkan efek jera dan supaya tidak ada lagi orang yang ‘pura-pura’ tidak sengaja.

Hal yang saya renungkan adalah tentang pencuri ayam di kampung-kampung yang harus dipenjara bertahun-tahun untuk pembelajaran agar tidak mencuri ayam lagi (emang ada ya? Ada, mungkin 🙄 ). Sementara itu kasus korupsi yang ‘katanya’ tinggal ganti uang terus liburan di penjara mewah dan lalu pulang (entah masih begitu atau tidak). Menanggapi itu, saya berpikir lagi, bagus-bagus kalau uangnya ternyata betulan diganti, kalau tidak dimana logikanya?

(untuk orang yang mengenal saya lebih jauh, pasti komentarnya begini: “Sejak kapan sih si Falzart pakai logika? Emang dia bisa mikir ya?” *[efek pencitraan selama ini])

Saya masih mau menanggapi tentang sanksi, tapi kali ini saya menanggapi sanksi positif. Sebenarnya saya baru dengar yang istilah sanksi positif ini. Biasanya saya pakai kata ambulan, eh maksud saya imbalan. Ya, setidaknya lebih enak didengar kalau pendek ‘kan? Saya jarang sekali menemukan (maksudnya saya jarang dapat sanksi semacam ini), tapi kayaknya hal-hal begini sudah sering dialami oleh teman-temanku yang berhasil keluar daerah, ikut lomba, menang, biaya ikut lomba ditanggung, dan insentif pun ada. Saya iri 😦

Sudahlah, saya hanya menginginkan hal yang saya rasa benar. Benar dalam artian, ya, apa ya? Saya harap saya tidak dihukum karena sudah berleha-leha dengan waktu luang. Meskipun saya sebenarnya tidak tahu ‘Leha’ itu sepupunya si ‘Lela’ atau bukan, sesungguhnya selama ini saya sudah korupsi waktu. Kalau korupsi uang masih bisa ganti rugi berupa uang, kalau waktu ‘kan tidak bisa. Saya harap saya bisa ganti waktu yang hilang itu dengan penyesalan (agar tidak terulang) dan semangat (supaya bisa lebih baik lagi). 😀 (Tapi saat ini masih belum realistis). Semangat!!!! 😀 😀 😆 😆 :mrgreen:

<<Previous Diary<<

>>Next Diary>>

NB: Sumber gambar langsung klik di gambarnya saja.

Iklan

12 thoughts on “Diary: Sanksi

  1. Betul juga ya, sanksi selalu berkonotasi negatif. Padahal kalau kita kerja sebulan, akhir bulan dikasih sanksi sebuah amplop. Sementara imbalan lebih posiif konotasinya. Padahal imbalan juga dipakai untuk menyatakan perbuatan negatif. Rupanya kita punya kecenderungan menajam arti satu kata dari 2 kata yg bermakna sama untuk tujuan yg berbeda. Salam ya 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s