Diary: Perbandingan? (*huh)

Jujur, awalnya saya tidak mau membahas ini. Eh, maksudnya saya mau membahas ini, tapi bukan sekarang. Tapi, karena sepertinya ini yang paling menggerogoti pikiranku sesaat sebelum saya menulis postingan ini, ya saya bahas ini saja.

Setiap kali menulis sebuah postingan, saya hampir selalu mau tertawa sendiri. Lucu, kadang kesal juga. Kali ini saya mau membahas ย tentang perbandingan. Perbandingan apa? Yang jelas bukan perbandingan dalam Matematika atau Fisika yang pakai variabel a, b, c, d, x, y, z, bahkan sampai huruf-huruf Yunani juga (eh, Yunani atau Latin, ya? Entahlah…), bukan juga perbandingan Kimia yang pakai istilah molalitas, molaritas, fraksi mol, dan lain sebagainya. (*Aduh, nyampah banget ini kalimat, ya? Maklum, hobi…). Perbandingan yang saya mau bahas di sini adalah perbandingan yang diangkat ayahku ketika menasehati adikku yang sedang ‘goes to UN SMA’.

OK. Kita bahas satu per satu dulu. Adikku, laki-laki, kusamarkan namanya di sini menjadi ‘Jombreng’ (kenapa? suka-suka saya, ‘kan?), kelas XII IPA SMA, ranking 1 di sekolahnya, sebentar lagi akan UN, terobsesi dengan silat, sibuk dengan kegiatan les dan pekerjaan jadi ketua kelas. Cukup? Kayaknya belum. Tambahan, adikku ini orangnya sangat koleris, karakternya keras, kemauannya keras, sayangnya fokusnya saat ini adalah silat dan game, masalah Ujian Nasional sepertinya tidak masuk dalam kepalanya, dan setelah menguji dia kami sekeluarga menilainya dengan predikat ‘buruk’ dalam hal pengetahuan standar untuk memasuki Ujian Nasional (UN).

Ayahku, seorang guru, orang yang koleris melankolis, tidak punya catatan buruk dalam hal akademik, selalu lulus dari tingkat pendidikan yang dia jalani dengan waktu tercepat (tidak pernah terlambat lulus), IPK-nya tinggi (cum laude terus), punya prinsip yang kuat, oportunistik. Poin pentingnya di sini adalah koleris melankolis. Beliau orangnya keras, kemauannya keras, tidak bisa dilawan, suka menyindir hal yang menurutnya salah, dan kadang-kadang ‘menjengkelkan’.

Mereka membuat percakapan ketika adikku sedang latihan silat malam-malam (yang notabene adalah waktunya belajar). Percakapan itu bertujuan untuk mengarahkan adikku belajar. Percakapan itu memperbandingkan beberapa orang, yang tidak saya sangka adalah akhir dari percakapan itu.

Sebenarnya yang mau saya bahas juga adalah tentang orang lain yang diperbandingkan oleh beliau, tapi cukup dua itu saja, karena mereka tidak masuk dibahas dalam percakapan. Jadi, begini percakapannya:

Saya : Jom, kenapa lembek sekali gerakanmu?
(saya kira artinya jelas, ya…)

Jombreng : Sedang hapal gerakan ji, kalau pakai gerakan betulan, keringatanka lagi nanti.
(=sedang menghapal gerakan saja, takutnya keringatan kalau pakai gerakan betulannya)

Ayah : (*sengaja lewat) Bulan 3 Ujian Nasional mako itu, pergi mako belajar, jangan silat terus.
(=UN tinggal 3 bulan, belajar sana!)

Jombreng : Ih, Ayah, masa dibilang silat terus… Kita baru mulai, gang…
(gang = ungkapan manja, tidak ada artinya)

Ayah : Bagaimana tidak dibilang silat terus, tadi sore latihan silat, sekarang malam-malam silat lagi. Tutup itu laptop, pi belajar sana.
(pi = singkatan dari pergi / pergilah)

Jombreng : Ih, Ayah… Hmmnghnghnghngngngng…
(ungkapan manja lagi)

Ayah : Dulu itu Kakak Falzart-mu itu dia hentikan silatnya pas mau Ujian Nasional terus lulus mi sampai UMPTN. Fokusko, nak.
(mi = sisipan yang tidak ada artinya. Fokusko = fokuslah!)

Jombreng : (kesal, guling-guling di lantai, speechless)

Ayah : Ayah tahu ji kalau sukako main silat, tapi fokusko dulu ke Ujian Nasional, nak. Semester genapmu nanti itu bukan enam bulan, tiga bulan ji efektif, setelah itu ujian terusko itu.
(Intinya: semester genap efektif 3 bulan saja, jadi fokuslah untuk UN)

(Jombreng masih sama, sesinya di skip saja ya…)

Ayah : Banyaknya itu contoh, nak, orang yang tidak berhasil karena ndak fokus sama akademiknya.
(artinya jelas)

Ayah : Lihatko itu Kakak Falzart-mu, (*apa? Saya lagi?) terlambat lulus, teman-temannya sudah sarjana mi semua.
(lihatko = lihatlah)

Ayah : Kakak Falzart-mu belum pi selesai karena sibuk di TBM terus, di TBM terus, sampai dia tidak perhatikan mi kuliahnya. Janganko sibuk di silatmu terus, kemampuan UN-mu masih kurang sekali, nak.
(pi di sini mengandung makna: belum)

Ayah : Ayah tahu ji kau rajin pergi les, tapi harus tetap diulang-ulang lagi itu nak.
(ji = sisipan yang tidak ada artinya)

Jombreng : Ih, sudah ma belajar tadi, Ayah…
(sudah ma = saya sudah)

Ayah : Tapi hasil try out-mu jelek… Coba Passing Grade-mu 100, terserah mi kau mau bikin apa. Di 17 saja, waktu Ayah mengajar anak-anak tidak perhatikan mi apa yang Ayah jelaskan, dia pergi kerja itu soal UMPTN di dalam kelas. Ayah tidak larang, karena begitu mi memang harusnya, dekat mi UN, nak. (17 = nama SMA Unggulan tempat Ayahku mengajar).
(ada yang tidak tahu bagaimana maksudnya? Saya rasa jelas ya…)

Ayah : Kalau asal-asalanko belajar, nanti lambatko sarjana nanti itu juga. Mau seperti Kakak Falzart-mu? Untung dulu dia sudah lulus UMPTN-nya. Atau seperti Mas Wisnu? Terlambatnya lulus karena sembarang dia kerja.
(ko = kamu, asal-asalanko = kamu asal-asalan, lambatko = kamu lambat)

Jombreng : Saya kira Mas Wisnu ada mi kerjanya? (mencoba mengalihkan pembicaraan)

Ayah : Ada memang tapi tidak tetap, tidak tahu juga bagaimana itu anak, lihat mi sekarang teman-temannya sudah mi kawin semua, dia belum pi, mauko juga terlambat kawin??!!
(pi sisipan, bukan berarti pergi)

Jombreng: (kesal, tutup laptop, buka buku, belajar)

(*semua nama tokoh diubah)

Kenapa ujungnya harus analogi terlambat kawin? Saya paling tidak suka analogi itu. Sumpah. Haruskah pakai analogi terlambat kawin? Saya tersinggung, seolah saya juga didoakan begitu… Ya, saya memang terlambat lulus, singgungan terlambat lulus itu sudah menyakitkan, terus pakai singgungan terlambat kawin lagi!? Huh… Andaikan Mas Wisnu dengar percakapan itu saya tidak tahu dia akan setersinggung apa… (*teriak-teriak dalam hati)

Huh, saya tersinggung, tapi saya berharap itu tidak terjadi ke saya. Sekarang mari kita berharap itu tidak terjadi ke saya, tapi tidak usah kasih tahu saya, karena doa seorang muslim (bagi yang merasa muslim) kepada saudaranya (yang muslim juga) yang saudaranya itu tidak tahu dia didoakan, pasti dikabulkan dan doa itu berlaku untuk dirinya juga.

Mudah-mudahan kita semua dapat yang terbaik, dan saya tidak kena kutukan lebih dari ini, apalagi sampai seperti itu. Amiin. :mrgreen:

<<Previous Diary<<

>>Next Diary>>

NB: Sumber gambar langsung klik di gambarnya saja.

Iklan

16 thoughts on “Diary: Perbandingan? (*huh)

  1. hahahahaha, don’t be sad man!! saya pun termasuk ke dalam kelompok yang terlambat wisuda, hahahaha.. santai saja lah, suatu saat pun kita akan merasakan indahnya pake toga.. ๐Ÿ˜€

    tapiiiii, ayahmu pun tak salah bilang begitu.. namanya orang tua sob, beliau pasti ingin yang terbaik untuk anak2nya.. mungkin ayah takut akan masa depanmu yang masih “belum jelas”, kan kamu dan saudara2 kamu itu laki-laki yang pastinya nanti jadi kepala keluarga.. ambil positif thinking saja.. duh, kok malah ceramah saya.. sorry kalau kesannya menasehati..

    • gak… Terlambat lulus itu tidak buruk (meskipun ‘sangat’ menyakitkan hati karena iri).
      Saya sudah tentukan jalan, sudah tentukan pilihan, tapi berbeda dengan idealisme yang dianut Ayahku, makanya saya ‘dihabisi’ terus setiap hari…
      ‘Jalan’-ku jelas kok insya Allah, insya Allah juga saya tahu mau kemana setelah ini dan setelah-setelahnya… (aminkan dong…)

      Betewe, thanks buat nasehatnya… saya juga sering berpikir seperti itu, sering sekali, itulah yang buat saya tahan meskipun ‘dihabisi’ tiap hari… ๐Ÿ™‚

      (dihabisi = kalau bukan diomeli, dibentak, dimarahi, disinggung… ini istilah saya pribadi, ya) ๐Ÿ˜€

  2. cup..cup..cup.. adekku falzart…
    yang semangad.. rejeki itu gak kemana lho, entah itu orang terlambat lulus atau apalah…
    sabar.. emang dibanding2in gak enak.. aku juga udah rasa kok.. tapi cuek aja, jangan dibawa sampe mimpi ya bro.. hehehe…

    saya doakan semoga segera wisuda dan menyusul yah..

  3. Aduuuh, sabar ya, saya tahu kok rasanya diomongin “terlambat lulus” ama orang terdekat kita. ๐Ÿ˜ฅ
    Tapi saya bersyukur, meski saya 5 tahun setengah lulusnya, ortu saya terus mendukung dan mengerti apa yang saya pilih ini. Tak ada sindir-menyindir, hati saya terasa lega. ๐Ÿ˜ณ

    Soal adik Falzart, saya rasa tak perlu khawatir. Meski dia terlihat tak fokus pada UN, saya yakin dia sebenarnya bisa. :mrgreen:

    Buktinya saya sendiri. ๐Ÿ˜€ Bukan maksud sombong, Jujur saja, saya SMP gak rajin belajar, gak tahunya bisa masuk SMA unggulan di Surabaya. Begitupun saat tes masuk universitas, alhamdulillah saya bisa masuk ITB walopun saat itu saya tak mempersiapkan diri. ๐Ÿ˜‰

    • Setiap orang punya cerita masing-masing pada kehidupannya. Cerita adik saya yang begitu, cerita saya yang begini, kita belum pernah tahu akhirnya bakalan gimana. Apakah mas Asop pernah tahu dari SMP kalau bisa sampai akselerasi SMA, terus lanjut ke ITB? Tentu tidak, tidak ada yang tahu sebelum itu terjadi. Saya pun begitu, saya sepakat dengan mas Asop. Hanya saja setiap orangtua memiliki cara mendidiknya masing-masing, dan itu yang membuat saya ‘stress’. Hehehe… :mrgreen:
      Oh iya, mas Asop.. makasih komennya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s