Diary: Request Doa?

Sederhananya, judul tiap postingan bertajuk diary adalah apa yang saya pikirkan dalam sehari ini. Hal-hal tertentu tidak mungkin terpikirkan kalau tidak mengganggu pikiran, dan juga tidak mungkin kalau tidak ada yang merangsang supaya pikiranku terganggu oleh suatu hal itu. Aduh, muluk-muluk sekali gayaku menulis postingan nih, ya?Β Saya sebenarnya cuma mau bilang kalau latar belakang saya menulis postingan adalah adanya sesuatu yang saya pikirkan, itu saja.

OK, kenapa judulnya ‘request doa’? Saya kira mengenai hal ini sudah tidak perlu dipertanyakan lagi. Jawabannya adalah karena perihal ‘request doa’ itu mengganggu pikiranku πŸ™‚ .

Di dunia maya, ataupun di dunia semi maya (sms-an: ini versi saya), sering saya dapati orang yang ‘request doa’. Saya pikir setiap orang yang rajin jalan-jalan ke blog pribadi milik orang lain akan menemui hal ini juga. ‘Request doa’, saya tidak tahu bagaimana yang sebenarnya, tapi saya merasa kalau ada yang ‘request doa’ dan saya melihat request itu, ‘request doa’ itu adalah hutang saya.

Saya tidak habis pikir, misalnya saya blogwalking ke blog satu, dia berharap sebelas hal, dia minta didoakan, misalnya. Ke blog yang satu lagi, berharap sebelas hal lagi, minta didoakan juga, misalnya. Bahkan, kalau jalan-jalan ke blog yang ‘menyentuh’, meskipun tidak minta didoakan, saya merasa punya hutang untuk mendoakan. Bayangkan, berapa banyak subjek doa dan jenis permintaan yang mau didoakan. Kalau sekedar komentar ‘amin’, di postingannya semua orang juga bisa, ‘kan?Β Ini adalah masalah keikhlasan mendoakan seseorang.

Kalau ada yang punya hasrat semacam itu, pasti bingung, bagaimana doakannya, ya? Kalau menurut saya ya, terpaksa dibombardir saja: “Ya Allah, kabulkanlah keinginan setiap pemilik blog yang berharap dan saya lihat harapannya, ya Allah. Amin”. Aduh, doa global seperti ini bagaimana statusnya, ya? Bukannya lebih baik kalau didoakan seperti ini saja: “Ya Allah, jadikanlah si Falzart itu sarjana dengan segera, ya Allah. Kasihan dia sudah lama menunggu. Mudahkanlah jalannya menuju gelar yang sedang dia tuju, dan jadikanlah ilmunya berguna bagi siapa pun di mana pun dia berada, ya Allah. Amin”. Yah, kalau begitu ‘kan lebih spesifik, lebih bagus (menurut saya). Tapi satu hal, itu pasti merepotkan. Bayangkan saja sebelas dikali sekian permohonan yang tadi. Itulah repotnya kalau mau dikabulkan, kita harus menghadirkan hati juga ketika berdoa, dan tidak mungkin dilakukan kalau kita tidak ingat persisnya apa harapan itu. Lebih lengkap, baca di sini, di sini, atau di sini, atau sekalian googling saja tentang adab berdoa.

Ketika berdoa, bayangkan kita sedang bercakap-cakap dengan Allah (saya tidak peduli yang pembaca anggap Tuhan itu siapa, yang saya anggap Tuhan cuma Allah). Tentu kalau sedang bercakap-cakap, atau lebih tepatnya meminta kepada Zat yang akan mengabulkan (atau kalau bahasa ini terlalu tinggi, bayangkan saja berdoa itu meminta sesuatu kepada pejabat tinggi yang memang akan mengabulkan permintaan Anda), kita tentu tidak akan langsung meminta, pastinya diawali dengan basa-basi dahulu, kalau perlu dipuji-puji dulu baru kemudian utarakan permohonan. Setahu saya, yang diajarkan ke saya, doa itu harusnya diawali dengan Puji-pujian atau Hamdalah, kemudian sholawat kepada Rasulullah, kemudian ajukan pemohonan dengan sungguh-sungguh dan suara rendah, setelah itu ditutup dengan doa penutup. Itu saja yang saya tahu. (*maaf pengetahuan saya terbatas)

Ya, akhir kata, saya berharap kalau yang saya utarakan di atas tidak lengkap, mohon cari sumber-sumber yang lebih terpercaya dan lebih lengkap. Saya hanyalah orang yang dididik untuk berdoa seperti itu, dan saya juga hanyalah orang yang sebenarnya selalu berharap didoakan πŸ˜› . Tapi, satu catatan kecil bahwa Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sebelum kaum itu sendiri yang berusaha mengubah nasibnya.

<<Previous Diary<<

>>Next Diary>>

NB: Sumber gambar langsung klik di gambarnya saja.

Iklan

16 thoughts on “Diary: Request Doa?

  1. Terkait dengan paragraf sebelum paragraf terakhir, ada yang bilang saat berdoa sebaiknya membayangkan wajah orang yang didoakan. Nah, apa Allah tidak tersinggung saat kita berbicara dengan-Nya, tapi yang ada dipikiran kita bukan “wajah-Nya”. Lalu, bagaimana yang disebut dengan khusyu’ dalam berdoa?

    • saya mencoba menjawab ini ya, meskipun pengetahuan saya terbatas.

      khusyu’ itu ‘kan menghadapnya hati kepada Allah Swt dengan ketundukan. Saya diajarkan kalau kita tidak bisa membayangkan wajah Allah pastinya, karena kita bisa gila kalau mencoba melakukan itu. Nabi Musa saja langsung pingsan waktu dia request mau melihat wajah Allah. Allah tidak memerintahkan sesuatu yang kita tidak sanggup lakukan ‘kan? Jadi, tidak usah. Nabi Musa kemudian ‘kan bercakap-cakap dengan Allah melalui perantaraan tabir, jadi Nabi Musa tidak melihat Allah (karena kalau melihat Allah pasti Nabi Musa tidak akan sanggup). Jadi ya… lakukan begitu saja.

      (Ihsan = beribadah seolah-olah melihat Allah, maka apabila kita tidak melihat Allah, sesungguhnya Allah melihat kita)

      Membayangkan wajah orang si fulan yang didoakan, menurut yang diajarkan ke saya sih untuk menegaskan kalau si fulan yang kita maksud itu si fulan yang itu, kan pengandaiannya kita sedang bercakap-cakap dengan Allah. Sebenarnya Allah ‘kan Maha Mengetahui jadi meskipun tidak dibayangkan tidak apa-apa. Itu cuma untuk mempertegas.

      khusyu’ dalam berdoa? gimana ya? setahu saya Sholat itu juga termasuk Doa, bacaan sholat itu doa, kalau kita sholat artinya kita berdoa. Jadi ya… simpulannya… simpulkan saja deh… nanti saya tanya Ustadz-ku dulu…

      Wallahu ‘alam bishshawab…

    • Iya, bro. Sama-sama.
      Saya berteman dengan siapa saja kok. Makanya orang yang menyakiti hati saya juga dari golongan sana-sini. Orang Muslim diajarkan untuk memaafkan, bahkan mendoakan kebaikan bagi orang menzhalimi dirinya (seperti yang dilakukan Nabi Muhammad ketika berkunjung ke Thaif / Ethiopia), jadi ya… insya Allah saya juga begitu. Eh, kita ‘kan gak ada salah apa-apa, atau … mungkin saya salah karena kurang silaturahmi ya? Saya meluncur ke lokasi deh…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s