Diary: Susah?

#1: “Jangan coba-coba masuk ke sana, kamu pasti tidak bisa, masuk ke sana sulit.”

#2: “Buat begituan sulit.”

#3: “Semuanya mudah bagiku.”

#4: “Susah sekali!”

#5: “Kenapa semuanya susah?”

#6: “Ternyata mudah!”

Ada yang berpikir kalimat-kalimat di atas adalah percakapan? Sebenarnya bukan (kalau Anda berpikir itu percakapan: Anda mungkin sedang tidak konsentrasi). Itu hanya pengandaian dari postingan kali ini. Jadi begini, suatu hari, maksud saya suatu sore yang mendung, saya sedang berada di pete-pete (angkot versi Makassar), dan kala itu saya masih muda (baru masuk SMA), saya bersama dengan seorang teman saya yang masuk SMA Unggulan dan tiba-tiba seorang anak SMA dengan kaos kaki beda warna kiri-kanan naik ke pete-pete itu.

Sepertinya kami bertiga merasa senasib, baru saja dikerjai senior kami masing-masing dalam acara MOS (masa orientasi siswa)  di sekolah masing-masing (saya bersyukur MOS itu bukan kepanjangan dari ‘Masa Orientasi Seksual’). Percakapannya begini:

Orang asing: Dari SMA mana?

Teman saya: Dari SMA ****? Kita’ iya?
(Kita’ = Anda versi sopan, Kau = Anda versi sederajat atau lebih rendah, versi Makassar)

Orang asing: Deh, susah iyo masuk di sana?

Teman saya: Tidak tahu mi, saya biasa-biasa ji.
(mi = tidak ada artinya, ji = saja, kadang juga tidak ada artinya)

Orang asing: Saya dulu tes di SMA ****, tapi nda luluska. Susahnya soalnya…

Teman saya: Tidak susah ji soalnya iya menurutku, jadi di mana ki’ sekarang?
(ki’ = kita’ = Anda versi sopan)

Orang asing: Saya di SMA ####, dari SMP mana ki’ dulu?

Teman saya: Dari SMP ******, kita’ iya?

Orang asing: Saya dari SMP #######. SMP-ta’ SMP unggulan iye’?
(ta’ = kalau dalam bahasa inggris itu: ‘your’, iye’ = iya = iyo versi sopan, dalam kalimat ini artinya -kah?)

Teman saya: Bukan ji.

Orang asing: Oooh…

(*percakapan pun terhenti karena saya sudah harus turun dari pete-pete)

Jadi begitulah percakapannya kalau tidak salah. Ada sesuatu yang saya maknai di atas. Persepsi kata ‘susah’ itu ternyata berbeda pada setiap orang. Kita dianugerahi kemampuan masing-masing, dan kemampuan yang diberikan kepada kita itu berbeda satu sama lainnya. Olehnya ada yang menganggap sesuatu itu susah ada yang menganggap sesuatu itu tidak susah.

Dalam ilmu kedokteran misalnya, hasil pemeriksaan Laboratorium kalau dibaca oleh orang Biokimia bisajadi berbeda dibandingkan dengan kalau dibaca oleh orang Patologi Klinik (dalam kedua praktikum ini saya sering mendapati paham yang berbeda tentang nilai normal suatu pemeriksaan lab). Apa yang menyebabkan semua itu adalah standar yang diambil.

Orang asing tadi mempunyai standar sendiri untuk apa yang dikatakannya susah, dan teman saya juga punya standar sendiri untuk apa yang dikatakannya susah. Oleh karena itu, susah dan tidak susah adalah perbandingan empirisme atau hasil yang didapatkan dengan standar yang dipakai.

Saya di sini mau mengingatkan diri sendiri dan mungkin orang lain juga bahwa sesuatu itu tidak ada yang susah sebenarnya. Susah atau mudah tergantung bagaimana standar kita dalam menilai sesuatu, begitu pula dengan kata-kata lain seperti panjang, tinggi, keras, cepat, gelap, banyak, dan lain-lain. Semakin tinggi standar kita, semakin sedikit hal kita anggap susah. Standar pun tidak semata-mata langsung bisa ditinggikan karena kita tidak menetapkan standar susah mudah berdasarkan anggapan orang lain, tetapi anggapan diri sendiri. Intinya, adalah kualitas.

Orang tidak berkualitas seperti saya mungkin akan menganggap segala sesuatu itu susah, tetapi setidaknya saya akan berusaha untuk meningkatkan kualitas saya (mudah-mudahan deh). Tahu tidak apa yang menyebabkan saya mengingat percakapan itu? Sebenarnya konyol. Saya dan teman-teman KKN saya sedang membuat kerajinan tangan dari sampah dan barang bekas, saya tidak mampu melakukan apapun yang mampu mereka lakukan. Terus, salah satu dari mereka bilang: “Ayo kita bikin kontes orang paling tidak berbakat, pasti Falzart yang menang!” Saya sih biasa-biasa saja, enjoy-enjoy saja, tapi itu sangat berkesan, lho. Mau tahu kesannya bagaimana? Kesannya kayak mau nonjok mereka sampai bonyok. Hehehe…

<<Previous Diary<<

>>Next Diary>>

NB: Sumber gambar langsung klik di gambarnya saja.

Iklan

7 thoughts on “Diary: Susah?

    • kalau ditonjok, pasti seru memang… Tapi, ‘kan lebih baik memaafkan… 😀

      Ya, susah itu relatif… itu perbandingan antara empirisme atau hasil yang didapatkan dengan yang diharapkan… Kalau banyak mencoba, empirisme bertambah dan juga bisa mengubah variabel hasil yang didapatkan menjadi lebih tinggi sehingga perbandingannya jadi setara, bahkan lebih, ketika itu kita akan merasakan mudah…
      #soktahu #janganmasukkandihati #omongkosongsayasaja…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s