[Cerpen]: Hilang?!

“Zul, kita bisa bertahan di sini sampai pagi kalau kau mau, saya ada packing tenda doom. Tapi baju-baju ini…”

“Zart, tenang saja, memang HT sedang kehilangan sinyal, tapi kita akan bisa contact ke Net Control, tenang saja.” (Net Control = HT penghubung ke Jendral Lapangan)

“Istirahatlah dulu. Kita tadi sudah berpencar mencari jalan bahkan menelusur ke jalan kita mulai tersesat tadi, dan sekarang tidak ada jalan lain selain menunggu tim evakuator.”

“OK. Ada bawa makanan?”

“Ada, duduklah dulu.”

Kami terduduk di batang pohon melintang di tengah hutan di tengah malam. Kami berdua, saya dan Zul adalah tim sweeper pada sebuah acara mounteneering istimewa pada saat itu. Sebenarnya, saya bukanlah anggota tim sweeper, saya pada awalnya ditentukan sebagai koordinator tim evakuator, tetapi karena saya sakit kuning beberapa pekan sebelum ini, maka saya tidak bisa ikut naik mounteneering untuk cek lokasi, dan naik seperti ini saja sudah beruntung. Dan posisiku sebagai sweeper sebenarnya juga hanya menumpang Zul yang seharusnya sudah hapal jalur, sekarang kami tengah tersesat di tengah hutan.

“ZZZtttt… tim sweeper monitor…” suara HT tiba-tiba terdengar.

Zul segera memanjangkan antena HT itu dan mencari sinyal sampai suara putus-putus dari HT itu jelas. Dia berjalan ke sana ke mari untuk mendapatkan sinyal yang bagus.

“Bagaimana, Zul?”

“Hilang.”

“Huh.”

“Sudah, sekarang pakai kupluk, pakai sarung tangan, malam sudah mulai dingin.”

“Perlu dirikan tenda doom juga?”

“Kalau mau ya…”

“Ah, jangan dulu”, kataku sambil melihat jam tanganku, “kita tunggu satu jam lagi.”

Saya dan Zul kembali duduk, merenungi nasib kami, sementara rinai hujan menjadi melodi tersendiri di kepala kami. Zul seharusnya hapal jalur, tetapi kalau sudah malam seperti ini, apalagi di tempat yang tidak dikenal seperti ini, dia tidak tahu bagaimana cara kembali ke jalur. Kalau saya? Ya, sudah kukatakan sebelumnya, sebelum ini saya yang belum pernah cek lokasi.

Saya duduk sambil mengunyah remah roti dan sebotol air di genggamanku. Mengingat-ingat kembali kejadian sejak pagi tadi.

***

Pagi hari, saya bersiap-siap dengan rencana dadakan. Saya sakit kuning dan sama sekali tidak fit untuk ikut mounteneering, tetapi demi melihat seseorang mengikuti jejakku, saya memaksakan diri ikut. Saya dengan segera menggunakan selembar uang limapuluh ribu untuk menyewa carrier dan sepatu medan. Saya segera mengambil barang yang sudah saya packing malam tadi. Di dalamnya ada seluruh perlengkapan pribadi untuk mounteneering secara safety/aman dan beberapa perlengkapan tim. Perlengkapan tim yang harus saya bawa adalah tenda doom. Tenda doom itu adalah sebuah packing-an tim yang paling sering dihindari karena berat. Tetapi karena tidak ada pilihan lain, saya terpaksa mengangkutnya.

Sebenarnya, saya sudah meringankan barang bawaan pribadiku, hingga bobot total carrier-ku pada saat itu hanyalah 19 kilogram, bobot yang cukup ringan kalau dibandingkan dengan berat badanku yang 59 kliogram saat itu. Safety-nya adalah berat carrier tidak boleh melewati sepertiga berat badan, jadi ini termasuk normal dan tidak berlebihan.

Pemberangkatan pagi itu dengan tiga buah tronton (truk yang ada bangkunya). Saya masih merasa kurang sehat, tetapi entah kenapa saya merasa sangat bersemangat untuk menyaksikan seseorang yang kumaksud itu. Dan ketika itu, seketika perasaan kurang sehat itu hilang. Selama di perjalanan, saya menahan kepalaku yang sempoyongan tidak keruan. Setiap kali saya merasa akan muntah, saya membayangkan tujuan utama saya ikut mounteneering kali ini dan saya pun menjadi kuat.

Setelah beberapa jam perjalanan, kami tiba di lokasi, di sebuah dusun bernama Lembanna, kami akan mendaki dan menuruni lembah Ramma. Briefing dimulai, pembagian tugas dibahas, pembagian barang dibahas ulang, jam tiba di puncak (flying camp) dibahas, sampai jam tiba di lembah. Saya tidak punya job khusus pada mounteneering kali ini karena persoalan sakit tadi, sementara Zul yang bertugas sebagai sweeper tidak ada yang menemani. Maka jadilah saya dan Zul ditempatkan bersama sebagai sweeper yang job-nya adalah menyisir peserta. Oleh karena tugas kami yang seperti itu, kami adalah orang yang berangkat paling sore.

Barang-barang tim lagi-lagi dibagikan di dusun Lembanna. Kali ini barang-barang timnya adalah baju-baju yang akan digunakan pada saat prosesi di shubuh hari. Dan karena kami berdua adalah anggota tim peling muda, kami ditugaskan membawa itu juga.

Mounteneering pun dimulai. Satu demi satu kelompok mounteneering dan pendampingnya meluncur ke arah bukit Ramma, sementara saya dan Zul menunggu sampai betul-betul tidak ada lagi peserta yang tertinggal dan meluncur juga, sebagai sweeper.

Perjalanan dari dusun Lembanna menuju ke pos 0, betul-betul membuatku kelelahan, sesak napas. Saya berusaha untuk tidak menampakkan sesaknya napasku itu, tetapi langkahku lambat. Saya memandangi keindahan pepohonan dan semak-semak di sekitarku yang membuatku sedikit lega dari kelemahanku saat itu. Sementara itu, Zul mendukung saya dari depan, sembari menunggui saya di sana dengan duduk santainya yang khas.

Sesekali dia bertanya ke saya, “Kau tidak apa-apa? Kalau capek kita istirahat sebentar tidak apa-apa.”

“Tidak, ayo peserta sudah jauh, kita harus segera menyusul mereka.” Saya menjawab begitu.

Tiba di pos 0, catatan waktu kami lambat. Lambat sekali. Jendral Lapangan menginstruksikan kami melalui HT untuk mempercepat langkah kami, berhubung lama perjalanan adalah 5 jam kalau cepat dan bisa 8-9 jam kalau lambat. Padahal kami masih duduk-duduk sebentar di pos 0, tetapi instruksi untuk melanjutkan perjalanan telah diberikan.

Perjalanan dari pos 0 menuju ke pos 1 kami tempuh. Saya makin payah. Saya tetap berjalan dengan kecepatan yang sama. Dan karena hari mulai gelap, senter pun dinyalakan. Sementara itu, semua orang pasti sudah mengetahui bahwasanya cahaya lampu senter tidak pernah seterang cahaya mentari, saya jadi tidak bisa melihat pemandangan dengan baik. Ternyata, bukan hanya pemandangan indah hutan yang hilang dari pandanganku seiring surutnya mentari, tetapi juga keseimbanganku dalam berjalan. Perjalanan dari pos 0 ke pos 1 itu terasa sangat berat karena saya harus jatuh berkali-kali. Ya, saya memang selalu begitu kalau hari mulai gelap, selalu terjatuh.

Zul dengan sabarnya membantuku berdiri setiap kali saya jatuh, hingga kami tiba di pos 1 dan beristirahat sejenak.

“Falzart, masih ada 4 pos lagi. Saya dapat info dari Jendral Lapangan, peserta yang paling belakang sekarang menuju pos 3. Kita harus percepat langkah.”

“Penjaga pos 1 kemana?”

“Mereka duluan, mereka takut gelap dan kemalaman, jadi mereka duluan.”

“Penjaga pos 2 masih stand-by kan?”

“Tidak, kalau peserta sudah lewat, mereka langsung mengikut di belakangnya.”

“Oh, begitu. Kalau begitu, ayo Zul. Kita harus cepat.”

Kami melajutkan perjalanan dari pos 1 ke pos 2 dengan langkah yang sama. Pepohonan semakin lebat, begitu juga dengan akar-akar yang menyandung kakiku. Belum lagi, medan mendaki menurun yang jauh ini. Ya, meskipun tidak terjal dan lebih terlihat seperti datar, ini melelahkan. Melelahkan sekali.

Kami tiba di pos 2 dengan selamat. Saya tidak bisa lagi merasakan indahnya pepohonan yang akar-akarnya telah membuatku tersandung berkali-kali itu. Sebagai gantinya, langit malam yang cerah adalah gantinya.

Tapi, ternyata hal itu tidak bertahan lama. Badai sepertinya akan datang, langit mulai menangis dengan gerimis. Maka kami mempercepat langkah, mencari jalur ke pos 3. Kami pun mendapati pohon besar menjulang di hadapan kami. Entah pohon macam apakah itu, Zul tidak mengenali tentang adanya pohon itu. Langkah kami bingung akan melanjutkan ke mana dan akhirnya kami pun resmi tersesat.

Kami tersesat tetapi sama sekali tidak berputus asa. Zul berusaha menghubungi Jendral Lapangan sementara tersesat kami. Sempat Zul memberikan kabar ke Net Control bahwa kami tersesat dan saya juga mendengar Net Control mendadak panik. Kondisi pun menjadi tidak nyaman.

Kami hendak memberitahukan koordinat kami, sayang sekali kami tidak membawa peta dan kompas. Bekal kami hanya ingatan Zul tentang jalur sementara kami sekarang ini tidak berada di jalur. Yang kami beritahukan kepada Net Control tentang lokasi kami hanya pohon besar di hadapan kami, dan bahwa kami saat ini berada di antara pos 2 dan pos 3. Setelah itu, sinyal hilang bersama dengan turunnya rinai hujan.

***

Mengingat-ingat kejadian itu membuatku haru, setidaknya aku masih diberikan kesempatan hidup hingga saat ini, saat aku terduduk terdiam bersama dengan Zul di tengah hutan. Dan yang lebih parah kini terjadi adalah kami kehilangan sinyal HT. Entah bagaimana nasib kami.

“Zul, matikan sentermu, kita harus hemat energi, biarkan saja senterku yang menyala.”

Zul pun mematikan senternya. Saya memainkan senter saya itu dengan cahaya ke sekeliling. Sesekali Zul juga menyalakan senternya lagi dan melakukan hal itu juga dengan senternya.

Lama kami duduk terdiam dan bercerita-cerita tidak penting. Baik Zul maupun saya sebenarnya tidak ada yang panik, apalagi berputus asa. Bagaimana tidak? Saya membawa perlengkapan survival, sementara Zul membawa HT. Kami berdua paham ilmu survival alam bebas. Kami saat ini hanya membutuhkan cahaya yang cukup untuk melihat jalur. Selebihnya kami tidak membutuhkan apapun untuk bertahan hidup hingga pagi.

Saya memainkan senter kuning dan Zul memainkan senter putihnya bersamaan ke arah berbeda. Kami sudah lama menunggu dan bosan. Hal itu berlangsung lama sekali, seolah kami menunggu datangnya badai yang ternyata takkunjung datang juga. Rinai hujan tetaplah hujan kecil seperti sebelumnya. Ya, hingga terdengar suara gemerisik rerumputan dan dedaunan kering mendekati kami bersamaan dengan berisik suara HT dari tempat lain. Kami melihat adanya dua orang tidak dikenal mendekat ke arah kami. Cara jalannya seronok, melompat-lompat lincah sekali. Dan hingga akhirnya dua orang itu berada sekitar 15 meter di samping kami.

“Hei!!! Zul!!! Falzart!!!! Kemari!!!” terdengar suara Kak Ibon meneriaki memecah hening khusyuk kami. Kami segera tahu itu Kak Ibon dari suaranya.

Kami pun berjalan ke arah sana tapi tidak menemukan mereka karena terhalang semak dan pohon. Kemudian orang yang satu lagi datang dari sisi yang lain dan berdiri di dekat kami.

“Mau lewat mana? Lewat sini” katanya. Dia adalah Kak Okto, Jendral Lapangan tahun lalu.

Kami pun mengikuti Kak Okto dan sampai di tempat Kak Ibon berdiri. Setelah saya memperhatikan mereka baik-baik, mereka ternyata hanya mengenakan sandal jepit, celana training dan baju kaos. Simpel sekali, sementara kami berpakaian lengkap. Huh, payah sekali kami ini.

“Peserta sudah di mana?” tanyaku.

“Tidak usah pikir peserta, ayo jalan sekarang. Nanti kepagian kalian sampainya!” kata Kak Ibon.

“Ah, kalian ini! Baru kali ini sepanjang sejarah ada sweeper yang hilang. Kalian diketawai di atas sana. Memalukan! Kalau peserta sudah ada di pos 4 menuju pos 5, yang paling depan sudah sampai flying camp.”  Kak Okto menyambung.

“Tunggu dulu, baju-bajunya masih ada? Kalian tahu ‘kan prosesi di atas tidak akan bisa mulai kalau perlengkapannya kalian bawa di sini? Ayo cepat!” Kak Ibon seperti biasanya, buru-buru, tetapi kali ini dia tersenyum sambil agak menertawai kami. Mungkin istilah lainnya dia hanya mau bilang: “Kasihan deh kalian”…

Rupanya kami hanya tersesat sekitar lima belas meter dari jalur sebenarnya. Dan itu sangat membuat malu karena baru kali ini ada sweeper terpaksa harus di-sweeping.

Kami berjalan melewati jalur yang sebenarnya. Hutan pun menjadi terasa ramah bagi kami. Carrier-ku pun kubawa bergantian dengan Kak Ibon. Dan betapa herannya saya karena meskipun membawa carrier-ku, langkah kaki Kak Ibon melaju lebih cepat dari langkah kaki saya. Ya, mungkin saja saya benar-benar masih sakit, atau kualitas fisik saya menurun. Sepanjang perjalanan itu pun saya masih sering terjatuh tersandung oleh akar liar pepohonan yang menyebalkan itu.

***

Menjelang subuh, kami akhirnya tiba di tempat yang ditentukan, dan prosesi khusus itu pun dimulai. Saya malu sekali pada kesempatan itu. Itu adalah pengalaman tersesat yang paling payah dalam sejarahku. Payah sekali dan sungguh-sungguh memalukan. Ya, tapi syukurlah karena saya masih selamat.

Langit luas menjadi saksi bisu prosesi itu. Bukan, bukan hanya dia, tetapi juga seluruh pepohonan rindang, sulur berduri, tanah merah, tanan hitam, bahkan rumput yang bergoyang pun menjadi saksi. Kami pun dipertemukan kembali dari kegelapan malam yang merisaukan seluruh rombongan kami, sementara kami sendiri masa bodoh dengan urusan kami masing-masing (*huh). Ya, di balik itu semua keindahan alam pegunungan pagi hari ini sungguh sangat memukau.

***

Alam raya menyaksikan

Pendaki tersesat yang memalukan

Akhirnya selamat sampai tujuan

Kami….

Entah masih ada esok pagi

Ataukah tidak bagi kami

Kami tidak pernah tahu

Biar takdir coba menjawab

Melalui pesan alam yang memukau

……

***

[Kisah Nyata saya dengan perubahan nama pada 30 April – 1 Mei 2010] Postingan ini diikutsertakan dalam Giveaway Adventure pada blog Ayu.

(Contact me on: falzartplain@gmail.com)

Iklan

13 thoughts on “[Cerpen]: Hilang?!

  1. kalau hutan di sekitar rumahku kecil kecil nggak sebesar hutan yg di tanah air, jadi bayanganku kalau tersesat di sana semaleman serem juga ya, mikir pasti byk nyamuk atau binatang liar lainnya , ada nggak ya ?

    tapi ternyata cuma 15 meter tersesatnya ya dr jalur yg sebenarnya 😀

    semoga sukses ya kontesnya 🙂

  2. @bensdoing : Wah, saya gak tahu ini bisa disebut cerpen ataukah hanya tulisan biasa. 🙂
    @Ely Meyer : Waktu itu saya tidak panik sama sekali, mau ada nyamuk, mau ada binatang liar, saya sudah tidak peduli lagi karena mereka PASTI ada. Hehehe… :mrgreen: 15 meter tersesatnya memang mbak, tapi muternya jauh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s