Diary: Para Pendaki

Mereka akan mendaki, sedangkan hari hujan. Ah, apa yang mereka lakukan?

Melankolis version:

Dari pagi saat saya membuka mata, langit takhenti menangis tersedu-sedu. Saya yang bersemayam di dalam kamar, tidur, kedinginan, jadi merasa tidak tenang. Bilakah langit berhenti bersedih hari ini? Ini semua bukan karena saya. Ini karena mereka yang memutuskan untuk melakukan pendakian hari ini. Baik-baik sajakah mereka sampai sekarang ini? Mudah-mudahan iya.

Kebimbangan melanda pikiran saya ketika salah seorang dari mereka yang hendak mendaki itu mengajak saya ikut. Seharusnya, saya ikut mendaki karena agenda pendakian itu adalah demi sebuah kegiatan pendidikan lanjutan di organisasi saya, di mana saya adalah steering committee. Sepertinya saya sedang berusaha menjadi orang yang tidak bertanggung jawab terhadap amanah yang saya pikul. Akan tetapi, saya punya sesuatu di balik tindakan saya yang tidak bertanggung jawab itu yang harus saya pertahankan. Itu adalah prinsip.

Saya bukan orang yang setia, bukan pula orang yang gigih dalam mempertahankan sesuatu. Ya, saya bukan orang seperti itu memang. Akan tetapi, setidaknya dulu saya pernah menjadi orang yang seperti itu. Dan sekarang saya sedang berusaha menjadi orang seperti itu lagi. Bersama dengan mereka terus-terusan seringnya membuat saya lupa diri dan melupakan prinsip. Hingga sekarang, tinggal prinsip hidup yang paling keras sajalah yang tinggal di dalam dirku.

Saya berharap mereka tidak lupa diri karena tanggung jawab. Saya berharap semoga rinai-rinai air mata langit yang berjatuhan tidak mencelakakan mereka. Saya berharap mereka semua akan kembali dengan selamat dan wajah gembira meskipun lelah pasti akan menghinggapi tiap serat otot mereka. Dan saya juga berharap mudah-mudahan mereka tidak melakukan hal bodoh dengan menentang alam. Saya berharap mereka mendapatkan hasil yang mereka harapkan dari pendakian itu. Dan saya berharap perjalanan mereka diberkahi dan tidak menemui kesulitan selama mendaki, andaikata mereka ternyata jadi mendaki.

Ya, selamat mendaki saudaraku, tapi setahuku ini bukanlah waktu yang baik untuk mendaki.

<<Previous Diary<<

>>Next Diary>>

NB: Sumber gambar langsung klik di gambarnya saja.

Iklan

13 thoughts on “Diary: Para Pendaki

  1. @Abed Saragih : Iya masbro… salam persahabatan juga… makasih sudah nyimak…

    @Ely Meyer : Mereka mau mendaki ke tempat yang namanya Lembah Loe, yang di foto itu hanya illustrasi. Dulunya Lembah Loe itu longsor jadinya jalanannya sempit dan ya… sekarang kan hujan… kalau mereka sampai kenapa-kenapa…

    @ibonobi : tuh kan? was-was juga…

    @Gandi R. Fauzi : Amin… Lho, kok bisa batal? Saya bukan pendaki yang gila mendaki sih… saya sekali-sekali saja mendaki jadi mendaki gunung Gede saya belum pernah πŸ˜›

    @Evi : Lha saya tidak mendaki mbak… mereka tapi…

    @sunny rianzy : biasanya seru, tapi kalau hujan terus-terusan begini itu bisa jadi… ‘BERBAHAYA’ hahahaha… (*ketawasetan)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s