Diary: Di Depan Pintu

Ternyata, meskipun kami bersaudara, saya dan adik-adik saya punya gaya yang berbeda. Kali ini saya akan sedikit menceritakan tentang kelakuan kami di depan pintu rumah, ketika kami datang, sangat yakin kalau ada orang di rumah, tapi tidak ada yang membukakan pintu.

Anda berada di depan pintu, yakin ada orang di dalam, tapi tidak ada yang membukakan. Apa yang Anda lakukan?

Adikku yang tua, sebut saja di Jombreng, laki-laki, saya pernah membahas dia di sini. Dan adikku yang muda, sebut saja dia Ciplut, perempuan. Ya, sebenarnya saya punya saudara lainnya, tapi yang saya bahas dua itu saja dan saya sendiri.

Saya. Kalau sudah di depan pintu rumah dengan kondisi seperti dipaparkan di atas, saya akan ketuk pintu sambil ucap salam. Tidak dijawab, salam lagi, tidak dibalas, diulang lagi, dan seterusnya. Kalau sudah capek, saya duduk di kursi teras dan menunggu di sana sampai dibukakan pintu. Sesekali menelpon orang rumah dan telepon rumah berharap ada yang angkat. Saya pernah tidur di luar karena kepasrahan semacam ini dan hasilnya dimarahi. (Zart,.. zart… kok nggak teriak saja supaya orang di dalam bangun sih?)

Jombreng. Dalam kondisi yang sama akan mengetuk pintu sambil mengucap salam yang volumenya semakin keras seiring waktu. Kalau sudah mencapai volume suara maksimalnya, dia akan menggedor pintu, menggoyang-goyangkannya, sampai gaduh, sampai bunyi-bunyi, dan tentu saja sambil emosi. Tidak ada kata sabar baginya. (Pawangnya cuma Ayah saya)

Ciplut. Kalau dalam kondisi yang sama dan tidak ada jawaban, dia akan pergi main ke rumah temannya sampai puas dan setelah itu baru mencoba lagi. Dia pernah juga dimarahi karena ini, disangkanya dia tidak langsung pulang ke rumah.

Macam-macam, ‘kan?

<<Previous Diary<<

>>Next Diary>>

NB: Sumber gambar langsung klik di gambarnya saja.

Iklan

28 thoughts on “Diary: Di Depan Pintu

  1. @Budi Nurhikmat : saya hanya berani lakukan itu kalau siang hari… Kalau malam takut dibilang maling. hehehehe….

    @Gandi R. Fauzi : Unik… asik… (*lho?)

    @rianaadzkya : Hehehe… benarkah? (Si sabar dan si emosional bisa dalam satu karakter, ya?) (*mengakusabar-dilemparsandal)

    @misstitisari : saya juga begitu kalau dalam keadaan tidak terkunci sih… Tapi salamnya harus kuencenggg…

    @ibonobi : memangnya dikira saya tidak pernah bawa kunci rumah? Saya sebenarnya harus selalu bawa, tapi kebetulan waktu itu lupa. Hmmm… saya membayangkan bagaimana reaksi kamu kalau lupa bawa kunci…. huahahahahaa (ketawa setan ๐Ÿ‘ฟ )

    @tuaffi : kalau nggak ada orang di rumah ya nggak usah diketuk juga nggak apa-apa… tapi kalau salam tetap harus kalau di rumah saya…

    @sunny rianzy : awas ada maling… Hati-hati ya…

    @shireishou : tetap harus ngucap salam… jangan nyelonong aja… Ingat, malaikat itu menjawab salam juga…

    @gunawank : saya sekarang juga sudah begitu… Masalahnya adalah ketika saya lupa bawa kunci rumah… hehehehe….

    @Ely Meyer : “Apes”. Pintu ada dua, tapi yang operasional cuma 1, satunya lagi dibuka hanya kalau ada tamu, tidak ada jendela yang bisa dihubungi, dan … hiks … begitulah… Hehehehe… Soal gambar itu, saya hanya search liar di Google saja Mbak (kalau mau tahu sumbernya langsung klik gambarnya saja) Soalnya saya sudah tidak punya alat untuk menjepret sih…

  2. @rianaadzkya : kalau saya gak bakalan gedor-gedor pintu, itu kelakuan barbar yang anarkis…. (*lho?) kalau kebelet, biasanya saya cari masjid dulu…

    @sunny rianzy : wah, masih aman dong desanya… beda sekali dengan yang di sini…

    @Aulia : aduh Mas, saya sudah terlalu tua untuk berkhayal pintu kemana saja itu ada, tapi … ya semoga saja ada… Hehehehe… (ngaku tidak berkhayal tapi justru berharap – aneh)

    @Dhenok Habibie : Iya, tapi kalau tengah malam gimana? Belum pernah terjadi ya? Ya, kalaupun terjadi, saya sarankan pakai metodenya si Jombreng saja… Hehehe…

    @bensdoing : hehehe… kayaknya mirip yang dilakukan si Ciplut…

    @Yisha : kayaknya kamu bakalan hubungi Inuyasha buat hancurin pintunya… Hehehehe….

  3. saya juga sering dihadapkan pada kasus semacam ini.
    sampai2 pernah menggunakan satu tendangan maut untuk mendobrak pintu belakang yg masih semi permanen (tentunya seizin orangtua yg waktu itu sama2 “terkurung” di luar) ๐Ÿ™‚
    * btw, itu rumahnya mas falzart?? kerrreeeennya

  4. @Irfan Handi : kalau sudah pulang dari warnet dan masih sama?
    @nandobase : pas sedang tidur malam atau sedang tidur siang dan yang datang sedang tidak bawa kunci.
    @onsetia82 : Ah, iya juga… Pasti bisa lewat sana… Entah kuncinya atau sayanya hehehehe…
    @rahmat firdaus : sayangnya saya tidak pernah mengeksekusi pintu rumah saya… hehehe… Itu bukan pintu rumah saya, soalnya saya tidak ada alat buat menjepret. Kalau mau lihat sumber gambarnya, klik gambarnya saja ya… ๐Ÿ™‚
    @DeRie : karena …. karena apa ya? Kalau saya sih itu untuk klasifikasi saja…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s