Diary: Penggalan

Kali ini, saya mau menulis apa adanya lagi. Ya, apa adanya saja. Bukan tentang sesuatu yang luar biasa, sesuatu yang biasa saja (Ini tidak jelas sekali, ya?). Ini penggalan-penggalan cerita hari kemarin.

Penggalan 1:

“Bagaimana ceritanya? Apa yang hilang?” tanya Reyhan.

“Mesin ketik sama piala yang di lantai satu.” kataku.

“Terus, kenapa kaca jendela itu pecah juga? Ini ‘kan lantai tiga?” tanyanya lagi.

“Kemarin itu ada dua kejadian, ada perkelahian preman sampai lempar-lemparan batu, ada juga pencurian. Kemarin kaca jendela pecah semua dari lantai satu sampai lantai tiga.”

“Deh, kenapa pas kita mau penarikan baru pecah ini kaca jendela? Itu pencuri lagi, pasti ndeso sekali, masa biar piala saja dicuri.”

“Untung itu komputer kelurahan tidak diambil.”

“Kalau itu komputer ‘kan di lantai dua. Ini kantor kalau malam gelap sekali. Orang tidak tahu kalau ada komputer di situ.”

“Eh, bawa G-tab tidak?”

“Kenapa?”

“Modemku disita, ayahku mau konek internet tadi.”

“Ada, ini.”

“Saya bukan mau OL, saya mau main game yang kemarin.”

“Ooh…”

Penggalan 2:

“Eh, mana Pak Buhari?” kataku sambil memanjangkan leher melihat ke arah kanan, ke arah Ayu.

Mereka tertawa kecil dan menjawab, “Jaga beras”

Marinus yang duduk tepat di kananku tertawa juga kemudian berkata, “Untung itu beras sampainya setelah kejadian.”

Saya juga tertawa, kemudian melihat ke kiri bertanya ke Fiki, “Fik, kenapa Pak Lurah tidak diajak? Itu dicari sama Pak Wakil Walikota. Tidak enak.”

“Saya tidak tahu juga. Tadi saya sudah ajak ke sini, saya bilang ayo ke Balaikota, Pak.”

“Tapi dia tidak ada di sini, dia bukan sedang jaga beras?”

Fiki pun tertawa kecil, “Sembarangan kau!”

Penggalan 3:

“Tidak terasa, tadi kita sudah penarikan.” kata Fiki.

“Apanya yang tidak terasa? Hari itu kau kira sudah hari ke-60, padahal nyata-nyata baru hari ke-42?” kataku.

Fiki tertawa kecil.

“Saya kira mau bersihkan posko dulu, yang lain tidak kemari membersihkan juga?” lanjutku.

“Tidak tahu, mungkin karokean atau makan-makan di posko Mandala.”

“Kalau begitu ayo bersihkan.”

“Sebentar dulu deh, mau istirahat-istirahat dulu.”

“Terserahlah, kau yang bilang ya… saya juga mau santai.”

Penggalan 4:

“Bagaimana ini laporan individu? Marinus sudah selesai kira-kira itu?” tanyaku.

“Iya, bagaimana ya?” kata Fiki.

“Heh? Kau ‘kan Koordinator Kelurahan, kau tidak bikin laporan individu.”

“Apa yang saya bikin kalau begitu?”

“Ya Laporan Kelurahan lah.”

“Bagaimana itu?”

“Masa kau tidak tahu? Minta administrasimu! Saya mau jadikan bahan laporan individu.”

“Kan dikumpul nanti tanggal 5 kan?”

“Iya, tapi bikin-bikin saja dulu supaya cepat selesai. Kau ke kampus sebentar?”

“Ah, saya mau pulang dulu, habis itu baru ke kampus.”

“Saya juga pulang dulu deh…”

Itu adalah penggalan-penggalan terakhir hari KKN kami. Banyak cerita di sana. Banyak kisah. Banyak, tapi saya enggan mengenangnya. Mungkin sedikit penggalan ini saja sudah cukup.

<<Previous Diary<<

>>Next Diary>>

Iklan

25 thoughts on “Diary: Penggalan

  1. hahaha penggalan yang kedua itu lho, jadi Pak Lurahnya kemana? diajak ke balaikota ngga berangkat atau benarbenar lebih pilih jaga beras drpd ketemu pak walikota 😛

    Falzart Plain:
    Bukan sama sekali, Mbak Titi… Sebenarnya sejak Kantor Lurah kacanya pecah semua, Pak Lurah sibuk beli kaca baru. Makanya Pak Lurah telat ke Balaikota (Pak Lurah datang kok). Soal alasan beras yang dititip di kelurahan itu sebenarnya hanya guyonan kami saja (tapi berasnya memang ada)…

  2. kenapa ga diceritain semuanya gan . . . 😀
    sukses lah buat agan . . .
    berarti sekarang nunggu wisudanya ya . . .?

    Falzart Plain:
    Beluum…
    Masih banyak yang perlu dilakukan Mas…
    Doakan saja bulan 3 saya sudah sarjana…
    🙂

  3. hahahhaa, dhe baca postingan ini sambil terus mencerna intinya mas.. tapi mungkin karena postingan ini cuma penggalan-penggalan, dhe tetep aja gk mudeng meskipun udah baca ampe akhir.. *jujur amat* 😀

    Falzart Plain:
    NB: Sejujurnya tiap penggalan itu tidak bersambung, hanya saja diurut berdasarkan waktu. Jadi cerna satu-satu saja, Dhe, jangan sekaligus… 🙂

  4. saya juga senang menuliskan seperti itu, ada rasa yg berbeda jika kembali membacanya…..(pengalaman langsung dari kegiatan sehari-hari)….terkadang juga dituliskan dengan gaya berpuisi…..sempat ada beberapa buku….tetapi,.sekarang hilang tak ada bekas…..yaaah karena hancur kena air ( maklum daerah saya dulu tahun 1980-an masih rawan banjir)

    Falzart Plain:
    Iya… sama…

  5. jadi ngakak baca penggalan ke 2 😀

    apa ndak ada keinginan mencari tahu pencurinya ?
    kebayang berapa biayanya buat beli kaca baru ya

    Falzart Plain:
    percuma juga dicari, gak bakalan ketemu. Wong kejadiannya jam 3 dinihari, dua hari yang lalu, keadaan gelap gulita tanpa ada saksi mata. Hehehehe…
    Kalau penggalan kedua itu memang sedikit lucu. Itu adalah salah satu contoh guyonan sehari-hari kami.

  6. Koq malingnya ngga tau ya kalo tiap kantor pasti ada komputernya? 😛

    Falzart Plain:
    Entahlah Mas, Saya tidak mengerti. Yang saya tahu kalau malam, kantor lurah itu dimatikan lampunya, jadi keadaan lantai dua dan lantai tiga itu super gelap, gak ada yang tahu ada apa di sana kalau belum pernah ke sana.

  7. Ini cerita nyata atau cerita mistis? Imajinasi? Khayalan? Atau creativ?

    Tadi diatas nulisnya apa adanya, masih mending dari pada ada apanya (confused)

    salam kenal

    Falzart Plain:
    Sesungguhnya saya juga confuse, tapi bukan tentang postingannya, tapi tentang komentarnya. Wong yang bikin postingan saya sendiri. Ini cerita nyata, masa ini cerita maya. Soalnya saya tidak kenal maya, tapi kalau dunia maya saya tahu. (Nah, tambah confuse, ‘kan?)
    Salam Kenal…

  8. wah..tahun lalu saya juga mengalami KKN di Samarinda..
    hal yang berkesan adalah kami mengadakan penyuluhan blogging ke salah satu sekolah…
    sayangnya belum sempat dibuatkan postingannya…
    sukses yah KKN nya..

    Falzart Plain:
    Iya, makasih…
    Penyuluhan blogging? Wah menarik sekali pastinya…
    Sayangnya saya hanya bisa membawakan materi penyuluhan PHBS. Itupun asal-asalan.

  9. banyak ceritanya sobat.. hehe
    memang masa2 KKN adalah hal yang ga akan perna dilupakan
    banyak kisah banyak cerita..

    ditunggu kunjungan baliknya sobat,
    salam 🙂

    Falzart Plain:
    Ceritanya sedikit, kok. Eh, saya belum kunjung balik, ya? Tunggu sebentar saya ke sana.

  10. Baru pertama tahu, kalau ada “maling ndeso”.
    Hahahaha, diary yang kreatif + empiris. 🙂

    Falzart Plain:
    Maksudnya malingnya tidak pernah dapat piala sebelumnya, terus lebih pilih mesin ketik dari pada komputer, itu maksudnya apa coba? hehehe…

  11. penggalan-penggalan ini mmg harus dicerna baik2….biar mudah lagi memahaminya:-D

    Falzart Plain:
    Hmmm… Mas Bens, menurut saya (lho? memangnya ini siapa yang buat?) ini bukan untuk dipahami bulat-bulat, ini hanya memori berurutan yang tidak saling berhubungan… 🙂

  12. Isi absen bro.
    saya datang di akhir malam tahun 2011 dan selamat datang Tahun Baru 2012. dan juga salam kenal juga untuk seluruh pengunjung blog ini tidak ketinggalan khusus untuk Admin blog ini.
    kunjung juga blog saya ya.
    salam blogger.

    Falzart Plain:
    OK.

  13. penarikan tu maksudnya selesai KKN ya? belum pernah KKN nih (dan mungkin ga akan) hoho

    Falzart Plain:
    Hoho… I know what it mean…
    Kalau nggak pernah KKN, ya denger-denger ceritanya orang KKN saja…
    It’s just about sharing the experience.. (*waduh, apa artinya ini?)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s