Diary: Tahun Baru dan Tasyabbuh

NB: Postingan ini agak sedikit keras karena sebagiannya akan membahas sedikit tentang aqidah.

Satu hal yang terpikirkan di awal Januari adalah tahun baru. Kalau saya sendiri sih menganggapnya biasa saja, nothing special. Saya takutnya perayaan tahun baru itu menjadi sebuah ajang pemborosan dan kesia-siaan semata. Banyak harta yang terbuang percuma hanya untuk ‘dibakar’ dan ‘ditiup’. Selain itu, bagi umat Islam, seharusnya tidak merayakan perayaan semacam ini karena tidak disyari’atkan. Perayaan yang disyari’atkan dalam Islam itu hanya ada dua, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Namun, dibalik itu yang paling saya takutkan dari perayaan Tahun Baru itu adalah ‘tasyabbuh’.

Tasyabbuh artinya menyerupai. ‘Man tasyabbaha biqaumin fahuwa minhu’ Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk kaum tersebut. (HR Abu Dawud).

Saya menganggap sejarah dari Tahun Baru sebagai sebuah ritual peribadatan yang bukan berasal dari Islam, dan Islam tidak membenarkannya. Atau ada yang menganggap itu berasal dari Islam? Saya rasa bukan. Tidak ada saling membantu dalam urusan peribadatan (‘Lakum diinukum wa liya diin’ [QS. Al-Kaafiruun]). Biarkan yang merayakan merayakannya tapi jangan sampai ikut-ikutan. Batas toleransinya adalah membiarkan, tidak menghalangi-halangi, tapi tidak sampai turut merayakan, karena kalau sampai merayakan itu sudah tasyabbuh. Jadi sebaiknya kita sebagai Muslim bersikap biasa saja dan jangan berlebih-lebihan.

Adapun transformasinya menjadi suatu nilai budaya atau setidaknya kebiasaan, sama sekali tidak ada manfaatnya bagi manusia. Dan setahu saya, sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia (‘Khoirunnaas Anfa’u Linnaas’ [HR. Thabrani Darquthni]). Kemudian, bukannya di antara tanda kebaikan Islam adalah meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat baginya (‘Min husni Islaamil Mar-i tarkuhu maa laa ya’niih’ [HR. Tirmidzi])? Ataukah ada yang menganggap ini bermanfaat? Terserahlah, kalau ada. Tapi, jangan berlebihan ya, apalagi men-sakral-kan momen ini karena saya takut Anda terjatuh dalam tasyabbuh tanpa Anda sadari.

Dalam menuju kepada Aqidah yang selamat, sebaiknya jangan melakukan tasyabbuh, meniru. Perayaan ini tidak ada contohnya dari Nabi (bahkan juga termasuk tahun baru Islam). Apalagi perayaan semacam ini tidak ada manfaatnya. Tidak ada faedahnya. Tidak ada (menurut saya, ya), Β jadi lebih baik tidak dirayakan (kalau ada yang menganggap ini ada manfaatnya, kembali ke paragraf sebelumnya).

Terakhir, saya mohon maaf kalau postingan ini bernada sedikit keras. Sebenarnya saya yakin masih banyak lagi yang mengupas ini dengan jauh lebih keras. Saya memang harus keras kalau persoalan aqidah. Jadi mohon maaf, ya. Saya hanya mengingatkan hal ini kepada saudara-saudara saya yang muslim yang mungkin lupa, tidak tahu, atau tidak sadar tentang hal ini. Hal ini semata-mata karena koneksi internet saya kemarin tidak memungkinkan untuk membuat postingan baru.

Kemudian, saya secara pribadi berharap mudah-mudahan setiap hari kita akan lebih baik dari hari sebelumnya. Mudah-mudahan tahun ini lebih baik dari tahun sebelumnya. Dan mudah-mudahan tahun depan lebih baik dari tahun ini (bagi muslim yang masih merayakan Tahun Baru tahun ini).

Wallahu A’lam.

<<Previous Diary<<

>>Next Diary>>

Iklan

7 thoughts on “Diary: Tahun Baru dan Tasyabbuh

  1. πŸ˜€
    Salaman dulu lah… πŸ˜€
    semua perayaan tidak ada tuntunannya kecuali 3 hari raya islam: idul adha, idul fitri, dan hari jumat πŸ˜€

    ttp gak bisa tidur πŸ˜€

    Falzart Plain:
    Saya terbiasa dengan hujan.
    Jadi, tidak terganggu.
    *salaman*

  2. wah,,, aku juga nggak ngerayain kok…
    di IRD menerima begitu banyak pasien dengan tangan terbacok, tulang2 patah, kepala pecah, luka tikaman di perut, luka bakar di tangan….

    tahun baru malah menjadi malapetaka bagi orang2 ini..
    kalo di rumah aja, kan lebih aman, tentram dan damai!! haha…

    semoga tahun baru ini kita menjadi orang yang lebih baik!!

    Falzart Plain:
    Kasihan…
    Kasihan Anda dan pasien-pasiennya…

  3. tidak semua orang dilahirkan di tempat yang sama, maka wajar kalau tiap orang punya kebiasaan yang berbeda.

    tahun baru seperti biasa kami di rumah, nonton TV, nonton juga kembang api yg dinyalakan tetangga lewat balik jendela kaca πŸ™‚

    Falzart Plain:
    Saya juga baru dapat tausyiah semacam ini beberapa saat yang lalu, Mbak…
    Hehehe… Sepakat kalau tiap orang punya kebiasaan berbeda. Maksud saya, jangan sampai kebiasaan kita itu ternyata adalah suatu penyimpangan aqidah yang tidak disadari. Itu saja, kok. πŸ˜€
    Saya juga tahun baru biasa-biasa saja… πŸ™‚ (Selama ini memang selalu biasa-biasa saja)

  4. saya udh dapet teguran keras dari papa mengenai Tahun Baruan beberapa tahun yg lalu, dan baru tersadar aja saat itu kalau saya malah sering melupakan Tahun Baru Islam yang sebenarnya. ngga pernah ada yg spesial di pergantian tahun keluarga saya, semuanya biasabiasa aja, tidur di jam yang semstinya, ngga pernah pergi2 keluar rumah πŸ˜€

    Falzart Plain:
    Hihihi… sama..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s