Diary: Si Pemimpi

Terbangun setengah sadar dari tidurnya hanya menyisakan sedikit tenaga dan kesadaran untuk mematikan alarm yang mengganggu. Dia berniat bangun dari tidurnya setelah mematikan alarm itu, tapi dia tidak sanggup. Dia kembali terjatuh pada kasurnya, meski dalam bayangan pikirannya dia sedang bergegas ke kamar mandi dan bersiap-siap mengantar bapaknya ke bandara pada dini hari itu.

Dia perlahan sadar bahwa dia hanya sedang bermimpi sedangkan fisiknya masih berbaring di kasur. Dia pun mencoba bangkit dari mimpi itu ke alam sadar dan berhasil. Di alam nyata itu, dia masih merasakan kepalanya sangat berat, tapi dia berjuang untuk ke kamar mandi untuk bersiap-siap. Dan ternyata, dia masih tidak sanggup. Dia memang ke kamar mandi lagi, tapi lagi-lagi hanya mimpi.

Sekali lagi dia bangkit ke alam nyata dan hal pertama yang dia lakukan adalah mengatur ulang alarm-nya setengah jam kemudian untuk mewaspadai terulangnya hal itu. Dan benar saja, dia kembali terjatuh ke alam mimpi.

“Ah, sial. Ini pasti mimpi lagi.” katanya geram.

“Aku akan bangun lagi. Aku tidak boleh terlambat. Aaaahh…” katanya sembari berusaha berkonsentrasi bangkit dari mimpinya.

“Fauzi…” tiba-tiba terdengar suara yang sepertinya tidak asing.

“Siapa?” tanyanya.

Suasana menjadi hening, tiba-tiba muncul sesosok manusia yang dikenalnya.

“Ah, kau muncul lagi di mimpiku. Ini sudah kesekian kalinya.”

“Hmm?” gumam sosok itu sambil memiringkan kepalanya dan tersenyum manis.

“Kau, manis sekali. Aku selalu suka senyum itu.” kata si pemimpi.

“Apa yang kaulakukan di sini?” tanya sosok itu.

“Tidak ada. Hanya memandangimu saja.”

Sosok itu tersenyum manis lagi.

“Terima kasih sudah mengawasiku.” kata si pemimpi membalas senyum itu.

Kemudian senyuman sosok itu semakin dalam dan semakin dalam memandangi matanya. Terbayangkanlah penggalan-penggalan kejadian ketika dia memandangi senyum itu di dunia nyata dan hatinya pun menjadi damai dan semakin damai.

“Sayang, andaikan bisa aku ingin memandangi senyummu lebih lama lagi. Sungguh aku benar-benar merindukanmu.”

Sosok itu pun hanya tersenyum, tapi senyumnya makin manis saja. Kenangan di benak si pemimpi itu pun makin banyak dan membanjiri ingatannya.

“Andaikan aku bisa melihat senyummu yang seperti ini terus di dunia nyata.” katanya.

“Tentu bisa, tapi nanti.” jawab sosok itu.

“Kapan?”

“Mungkin kalau kita menikah.”

Si pemimpi itu menghela napas panjang dan menghembuskannya, menikmati tiap hembusan itu dan tersenyum pula membalas senyuman indah sosok itu.

“Kau tahu? Senyumku bisa kaku seharian kalau melihat senyummu yang indah itu.”

Sosok itu hanya tersenyum. Senyumnya manis, manis sekali, dan semakin manis seiring waktu. Dan mereka berdua pun hanya saling tersenyum beberapa lama tanpa sepatah kata pun.

“Fauzi, bangunlah. Sudah waktunya bangun.” kata sosok itu tiba-tiba sambil menghilang dan memudar.

Ditariknya napas panjang, dia pun makin tersenyum entah bahagia. “Terima kasih.” kata si pemimpi itu sembari memalingkan wajah senyumnya ke atas, merapatkan kedua kakinya, dan merenggangkan jari-jarinya.

Dia terbangun dalam keadaan tersenyum, membuka matanya dengan hati yang berbunga-bunga. Tepat ketika dia duduk di kasurnya, alarm-nya pun berbunyi.

“Ah, segar sekali.” Katanya, sambil membuka pintu kamarnya.

“Uci, malam-malam begini kenapa ribut sekali?” kata Bapaknya terbangun di kamar sebelah. Sepertinya terbangun karena kaget mendengar suara pemimpi yang dia panggil ‘Uci’ itu.

“Tidak! Saya mau mandi dulu.” katanya dengan suara yang lebih kecil.

“Jangan mandi tengah malam dan jangan terlalu ribut, nanti adik-adikmu bangun.” kata Bapaknya keluar dari kamar.

“Kalau begitu ayo siap-siap, Bapak. Sekarang ternyata sudah jam dua.”

“Kalau begitu pakaian sekarang, terus siapkan motor.”

***

————————————————————————————————————————-
— Bukan Kisah Saya —
————————————————————————————————————————-

Seharian berpikir tentang ini, teringat-ingat terus, bikin saya senyum-senyum sendiri. Hehehe… :mrgreen:

<<Previous Diary<<

>>Next Diary>>

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s