Diary: Bicara Cinta

Ini nih efek dari kejadian kemarin. Kemarin saya baca novel tipis 200-an halaman yang judulnya “Jomblo Narsis”, dan saya mau share sedikit tentang pendapat saya tentang … ya tentang apa lagi … tentang cinta.

Ya, jiwa anak muda bicara cinta pasti kesannya lain kalau bicara cinta dengan jiwa orang bijak yang sudah makan asam garam kehidupan. Tapi, saya mau bicara cintanya anak muda saja untuk sementara ini, bukan seperti yang pernah saya bahas di postingan sebelumnya.

OK, back to the topic, bicara cinta. Cinta yang dibahasakan di situ adalah cintanya anak muda. Di situ diceritakan tentang bagaimana jatuh cinta itu. Jatuh cinta itu rasanya seperti dunia terbalik, hal yang tidak disukai bisa jadi disukai dan sebaliknya hanya karena perasaan yang disebut cinta. Bisa senyum-senyum sendiri membayangkan objek yang dijatuhi cinta. Bisa tiba-tiba punya bakat puisi dan nulis lagu. Bisa tiba-tiba senang. Bisa tiba-tiba sedih. Bisa tiba-tiba betah di suatu tempat. Bisa tiba-tiba gelisah. Bisa tiba-tiba berdebar-debar tidak jelas. Bisa tiba-tiba apa saja asalkan untuk apa yang disebut cinta itu. Ini lebih mirip orang yang kena gangguan jiwa.

Tentang jatuh cinta, saya membagi dua. Ada yang akut, ada yang kronik. Akut artinya mendadak, artinya tiba-tiba saja langsung merasakan perasaan jatuh cinta itu. Kalau kronik itu artinya berlangsung lama, artinya perlu paparan yang lama untuk mengenal, mengamati, dan sebagainya baru bisa jatuh cinta. Saya pernah alami dua-duanya jadi tahu persis, tapi objeknya satu orang saja.

Saya normal ya, saya pernah punya perasaan seperti di atas, tapi saya menolak mengekspresikannya secara langsung meskipun ternyata lingkungan sekitarku tidak bisa dibohongi bahwa saya waktu itu sedang jatuh cinta. Ini juga terjadi di novel itu, perasaan yang sama, yang ekspresinya biar pun ditahan-tahan tidak bisa tertahan untuk keluar [seperti … seperti apa ya?]. Nah, dari sekian banyaknya referensi tentang jatuh cinta yang saya baca, saya memahami bahwa jatuh cinta itu terjadi pada semua orang. Tunggu dulu, jangan salah paham. Saya membaca novel-novel begitu bukan karena niat disengajakan, tapi hanya karena tidak ada bacaan ringan yang lain, lagipula sebenarnya itu bukan novel saya.

Nah, beruntung saya. Sebuah prinsip menghujam di dada dan pikiran saya sejak kecil: pacaran itu tidak boleh, sehingga saya menjauh dan berusaha memendam saja. Tidak seperti yang terjadi di novel itu, para pemerannya akhirnya apes semua. Menurut saya ini adalah persoalan ekspresi. Kita bisa merasa sakit tapi tidak menjerit, kita bisa merasa sedih tapi tak menangis, kita bisa merasa marah tapi tak mengamuk, kita bisa, tapi kenapa kita tidak bisa merasa cinta tanpa mengungkapkannya? Menderita memang tapi itulah seninya.

Ekspresi cinta kalau diikuti, menurut saya, itu sama artinya dengan memperturutkan hawa nafsu. Makanya arahnya bisa menyimpang dari rasa sayang, rasa senang, rasa ingin memberi dan mengabdi, menuju kepada rasa birahi. Banyak kan yang berakhir begitu? Termasuk itulah salah satu ke-apes-an dialami salah satu tokoh di novel itu.

Eh, masih tentang ekspresi cinta. Saya rasa banyak juga yang secara tiba-tiba kepribadiannya berubah jadi lebih baik [tiba-tiba, seperti orang gangguan kejiawaan]. Misalnya dari acak-acakan jadi rapi, dari malas jadi rajin, dari tidak pernah bangun pagi jadi bangun paling pagi, ataupun sebaliknya. Hebat betul kekuatan cinta kalau diekspresikan ya? Sebagai orang yang pernah merasakan, saya mengakui kekuatannya.

Intinya, dengan cinta itu ada lonjakan potensi diri yang bersifat eksplosif [meledak-ledak]. Untuk mencegah dampak negatif dari cinta itu, diperlukan aturan main. Kalau untuk saya aturan mainnya adalah agama dan prinsip pribadi, bukan rasa. Aturan itulah yang mengendalikan rasa, bukan rasa yang mengendalikan aturan. Kadang saya merasa sedikit miris saja melihat kejadian menyedihkan yang disebabkan karena aturannya dikendalikan oleh rasa. Akan tetapi, saya hanya bisa melihat dan mempelajari bahwa memang begitulah rasa, dan bagaimana seharusnya rasa itu diperlakukan.

Sebenarnya, postingan ini sudah selesai, tapi saya mau mengabarkan kalau laporan KKN saya kemarin sudah hampir kelar, minus di-print dan dijilid. Terima kasih buat yang sudah meninggalkan semangat di komentarnya kemarin :-). Terus doakan saya, ya!

<<Previous Diary<<

>>Next Diary>>

NB: Sumber gambar langsung klik di gambarnya saja.

Iklan

23 thoughts on “Diary: Bicara Cinta

  1. Wahh, setuju banget sama kalimat ini “Jatuh cinta itu rasanya seperti dunia terbalik, hal yang tidak disukai bisa jadi disukai dan sebaliknya hanya karena perasaan yang disebut cinta.”. Jatuh cinta emang kadang “aneh” ya? Huehehehehe…

    Falzart Plain:
    Iya, cinta itu aneh dan membuat kita menjadi makin aneh… πŸ™‚

  2. berat pembahasannya πŸ˜€
    klo cinta ngeri dah pembahasannya, blom cukup umur gw *eh*

    Falzart Plain:
    Eh, trus kok bisa komentar di sini? Bukannya ada papan pemberitahuan di luar: “Yang belum cukup umur dilarang masuk.” Siapa yang cabut tuh papan ya?

  3. kalau bicara cinta, sekarang saya harus hati2, apalagi kl cintanya antara cowo sama cewe, biasalah pengalaman itu kan guru dan saya belajar dari situ,

    selamat lagi deh kl laporan KKN nya hampir selesai semoga saja tidak ada masalh dalam revisi ya sob πŸ˜‰

    Falzart Plain:
    Soal laporan KKN-nya, thanks ya. Trus, soal cintanya kenapa harus hati-hati? Kita tidak pernah tahu dia akan jatuh di mana. Di mana pun dia jatuh, kita harus bisa bijak-bijak menyikapinya.

  4. halo gan…. ane berkunjung lagi..
    oh ya ane masang linkback ke blog agan di salah satu postingan ane..
    dan ada ane berbagi cerita dan tugas untuk sahabat2 ane yang udah tukeran link dengan blog saya. lihat disini

    Falzart Plain:
    Oh, OK. Tapi kayaknya sudah deh… Saya ke lokasi dulu ya…

  5. Cinta kronik atau akut yang sebaiknya…?? πŸ™‚

    Ah, makin edan chibinya, :mrgreen:

    Kenapa ga jadi kartunis aja om..??

    Falzart Plain:
    Sebaiknya bijak saja, apa pun itu.
    Chibinya itu nggak edan kok… dia lucu ‘kan?
    Kalau kartunis itu… ah, waktu kecil saya malah mau jadi komikus.

  6. Bicara tentang “cinta”, memang tidak ada habisnya.
    Dan pertama kali saya “jatuh cinta” rasanya memang sangat berbeda sekali dari biasanya.
    Hehehe πŸ™‚

    Falzart Plain:
    Rasanya seperti mau lompat dari gedung lantai tiga, ya? Hehehehe…

  7. saya lebih sering kena penyakit jatuh cinta akut.
    hehe.
    oiya laporan KKN nya sukses ya maaaaaas!
    πŸ˜€

    Falzart Plain:
    Akut, ya? Itu jatuh cinta yang paling tidak masuk akal tapi sering terjadi…
    Eniwey, Thanks.

  8. ahai… postingan yang topiknya pas buat siapa saja yang lagi galau karena cinta.

    btw, saya juga pernah, tapi lambat laun saya tidak yakin apakah yang saya rasakan itu cinta atau sekadar suka. saya jadi bertanya-tanya, cinta yang sebenarnya itu seperti apa sih? soalnya yang membuat kita seperti orang gila itu bukan hanya cinta. nge-fans sama seseorang itu kelihatannya membuat kita lebih gila…

    Nah, akhirnya sekarang, setiap saya ada perasaan sama seseorang, saya mesti mikir, ini beneran cinta nggak sih? karena bagi saya, sebuah perasaan cinta itu nggak boleh main-main. Kalau sudah keluar, harus dipertahankan sampai ke jenjang yang lebih tinggi (ga cuma pacaran).

    #curhat

    Falzart Plain:
    Ohohoho… Kalau saya tidak terlalu sering jatuh cinta, beberapa kali tapi cuma ke satu orang saja. Kalau menurut saya, kita bisa mengidentifikasi kita cinta atau tidak dengan sangat jelas. Yang susah biasanya adalah ‘terus’ mencintai.

  9. beuh kayaknya gue paling gabsa kalo masuk ke golongan jatuh cinta akut..gue gabsa kalau jatuh cinta pada pandangan pertama kyak anak muda laen…hemmdh *pacaran itu tidak boleh* sebuah prinsip luar biasa yg skrg makin jarang dimiliki oleh seseorang..btw salam kenal yaaa masbro :D..

    Falzart Plain:
    gak bisa? Nanti bakalan kena juga tuh… Hehehehe…

  10. cinta paling indah menurutku itu kalau sudah menjadi suami istri, indaaaaaahhhhhh sekali pokoknya, kalau diuraikan bisa jadi beberapa episode deh πŸ˜€

    Falzart Plain:
    Hehehe… sepakat, Mbak…

  11. mari abisin skripsi, langsung kejar bidadari (kawin) :mrgreen:

    Falzart Plain:
    Mari… Saya menunggu benarkah bidadari yang kupikirkan itu benar-benar bidadari untuk saya? Hehehehe…
    Doakan mudah-mudahan cepat selesai, ya… Saya doakan balik…

  12. jatuh cinta itu wajar. fitrah. normal.
    tawarannya cuma ada 2 : kalau sudah siap menikah, segera menikah
    kalau belum, segera dinetralkan..

    dan dinetralkan itu bukan dengan memendam perasaan. karena kalau memendam perasaan, perasaan itu akan tetap ada bahkan ada kemungkinan akan bertambah besar.

    *kata ustadzah.. bukan kata saya πŸ˜€

    Falzart Plain:
    Dinetralkan itu juga artinya dipendam kalau menurut saya… tapi harus diimbangi dengan ‘sesuatu’…
    Yang saya tahu, “Kalau sudah siap menikah, menikahlah. Tapi kalau belum siap, berpuasalah…” Berpuasa itu asal katanya adalah Shaum artinya menahan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s