Diary: Survey Lapangan?

Firstly, I wanna say: I am busy, very-very busy. Sialnya, diriku ini. Hari ini saya mau bercerita tentang sesuatu yang saya alami selama dua hari ini. OK, sepertinya saya tidak bia terlalu berlama-lama menulis di postingan ini karena waktu dan tenaga saya sekarang sedang terbatas. Terbatas karena dibatasi ruang, waktu, tenaga, dan tentu saja … pulsa. Hehehe.. Jadi, saya akan membagi postingan ini menjadi beberapa sesi penggalan.
Setelah menulis postingan yang kemarin:

Tiba-tiba saya mendapatkan info atau lebih tepatnya perintah dari Steering Committe lain (saya juga salah seorang Steering Committee untuk Pendidikan Lanjutan XI ini) untuk ikut survey lokasi lapangan di salah satu lembah di bawah Bukit Mareno. Sialnya, saya tidak siap. Saya dikonfirmasi awalnya pemberangkatan hari Minggu, tapi ternyata dipercepat menjadi hari Sabtu tanpa saya tahu alasannya kenapa. Padahal sudah kukatakan kepada mereka: saya tidak siap kalau mau survey lapangan hari Sabtu, saya ada kendala keluarga. Tapi apa bisa dikata, saya harus ikut naik survey karena beberapa hal, meskipun seharusnya saya tidak naik seperti yang pernah saya ungkapkan di postingan ini.

Setelah saya memutuskan untuk naik:

Ah, pagi-pagi buta buru-buru siapkan barang. Barang-barang sebenarnya sudah siap dari pekan lalunya tapi untuk perkara Mukhayyam (acara Tadabbur alam + Games + dll dengan komunitas lain), dan yang bermasalah dari pekan lalu tetaplah sebuah masalah. Saya tidak punya sepatu medan (sepatu gunung). Dengan barang-barang yang ada di tangan dan di punggung saya, saya membawa kerel (carrier) entah kapasitas berapa liter itu ke kampus, sekalian melaporkan kalau saya belum siap.

Sampai di sana saya, ternyata tidak ada yang punya sepatu medan dengan seukuran kaki saya. Kaki saya terlalu besar. Pergi ke tempat penyewaan, belum buka. Sial. Saya pun mengambil persyaratan, kubilang: Kalau kalian tidak bantu saya cari sepatu medan, saya tidak naik. Hehehe… Ini adalah ‘senior power’ atau mungkin lebih tepat ‘memelas dan merengek power’. Mereka kalang kabut mencari sepatu medan untuk saya tapi tetap tidak dapat, jadi mereka mengambil sandal medan untuk subtitusi. Parahnya adalah yang pertama: sandal medan itu tidak tahu punya siapa, yang kedua: sandal medan itu kekecilan untuk kaki saya, dan yang ketiga: ukuran sandalnya kiri dan kanan tidak sama. Whaaaaa!

Pada akhirnya saya menyerah, mau kembali ke sekretariat. Terus, pas cek ke tempat sepatu, eh ada sepatu medan keren nganggur, ukuran kakinya sama pula dengan kakiku. Langsung saja saya … cari tahu siapa yang punya (ya iyalah, masa nyolong?). Intinya saya meminjam sepatu itu dari pemiliknya yang masih dalam keadaan setengah sadar. Dan voila, dengan ini secara resmi saya naik ikut survey lapangan.

Di perjalanan di mobil:

Kami bersembilan naik mobil yang oleh pemiliknya dinamakan: Kuda Jingkrak. Musiknya keren, macam-macam dari yang katro sampai yang ndeso, eh, maksudnya segala jenis musik, dari lagunya Maher Zain, Peterpan, Agnes Monica, sampai yang tidak jelas itu lagu atau sekedar mengumpat dengan bicara kotor. Dan pada saat itulah saya ingat: Saya belum posting buat hari ini. Whaaa… This is unpredictable so I can’t post anything.

Satu hal tentang postingan yang saya lupa lagi: Seharusnya saya tidak boleh menulis postingan tentang cinta, takutnya kalau dibaca sama orang ‘tertentu’ bisa bikin saya malu setengah hidup. Dan parahnya, postingan kemarin tentang cinta. dan waktu saya sadari itu saya sedang menuju pedalaman yang tidak ada internetnya. Whaaaaaaaaaa!!!! Keburu dibaca deh.

Turun dari mobil, kami

Turun dari mobil di ujung aspal. Kami berjalan dengan kerel yang berat di punggung kami. Capek deh! Singgah di Pak Kepala Dusun, lalu lanjut naik ke atas.

Saya ingat, saya sudah sekitar tiga kali naik di lembah ini. Satu kali waktu tahun pertama, dua kali waktu tahun kedua, sekarang sudah  yang keempat. Tahun lalu sewaktu jabatan saya masih pendamping tim, saya ‘berhasil’ menghilangkan orang di lembah ini. Masalahnya waktu itu adalah diusahakan pendamping itu tidak terlihat oleh tim yang dia dampingi. Dan tim yang saya dampingi itu terlalu kePeDean. Entah kePeDean, sok tahu, atau kedua-duanya deh. Mereka seharusnya menuju Bukit Mareno, tetapi mereka justru tiba di bukit sebelahnya karena dari awal mereka ternyata salah mendengar pengarahanku. Ah, jadi ingat tragedi lain.

Naik… naik… ke puncak bukit…

Ada beberapa kendala yang kami hadapi. Yang pertama, saya bingung karena jalur yang biasanya kami lewati kini tertutup belukar dan jalurnya sudah tidak begitu jelas lagi. Katanya sudah jarang pendaki yang naik ke sana. Yang kedua, banyaknya jalur baru yang menyebabkan waktu perjalanan kami mendaki menjadi dua kali lipat dari biasanya. Dan yang keempat di sana panas sekali, padahal di Makassar hujan. Di sana rasanya mataharinya buka cabang di mana-mana. Luar biasa bikin dehidrasi. Pernah merasakan direbus tidak pakai air?

Selama naik itu, saya terinduksi dengan sebuah sugesti untuk menyanyi. Dan di situlah ongolnya bermula. Tiba-tiba saja ada yang sebut kata ‘Berrygood’, saya jadi ingat lagu iklannya. Itu lho: Berrygood imut, enak di emut, chewy di mulut, bikin good mood. Jadi, saya terus-menerus mengulang-ulang itu setiap kali bosan. Akhirnya apa: hampir seluruh tim survey menyanyi itu sepanjang perjalanan. Bahkan kalau kami saling bertanya, percakapannya jadi konyol begini:

“Kau kenapa? Masih kuat?”

“Iya, Berrygood imut.”

“Lho? Enak diemut atau Chewy di mulut?”

“Pokoknya bikin good mood.”

Terus kami jalan lagi. Ongol kan percakapannya? Percakapan seperti itu benar terjadi kemarin. Bisa-bisanya mahasiswa bicaranya ongol begitu. Atau yang sedikit lebih masuk akal begini:

“Hati-hati! Kau capek ya?”

“Iya, soalnya kalau naik tangga membebani sendi lutut tiga kali berat tubuh, turun tangga lima kali, tapi kalau naik bukit dengan kerel itu berapa kali beban tubuh?”

“Yang penting kadar asupan Glukosamin dan Chondroitin kita cukup.”

Yah, ini iklan lagi, kan? Dasar korban iklan. Beginilah kami di perjalanan melelahkan yang tidak masuk akal.

Di lokasi camp.

Setelah tiba, langsung memasang tenda, dan memasak, terus habis itu masakannya di … di … dibuang … ke dalam lambung masing-masing. Hehehe… Masa dibuang ke laut? Kan kita lagi di gunung. Nah, setelah makan ini masalahnya. Banyak yang kena post-conam syndrome (istilah saya saja, dalam bahasa kedokteran artinya: Kumpulan gejala setelah makan ➡ mengantuk). Jadilah kami berdelapan, enam laki-laki, dua perempuan tidur dalam satu tenda besar. Kami sudah seperti saudara, jadi jangan berpikir terjadi sesuatu yang aneh-aneh, ya. Lagipula, ternyata tenda itu sudah sedikit dimodifikasi dengan adanya hijab di dalam.

Turunnya…

Panas matahari meraja lagi (seperti waktu naik), nyeri otot berkuasa. Saya terkena nyeri luar biasa di clavicula dan otot-otot sekitarnya (maksudnya bahu), dan pada sekitar Spina Iliaca Anterior Superior Dextra et Sinistra (maksudnya pinggang, bahasa sok keren: tolong jangan dipikirkan).

Sampai di kampus ada yang nanya: “Zart, kok mukamu jadi hitam?” Sial, padahal saya awalnya memang sudah hitam. Jadi, sehitam apa saya sekarang ini. Huh.

Eh, saya cerita terlalu panjang, ya? Maaf, ya. Maaf karena pertama: Postingan ini panjang, pasti bosan membacanya. Kedua: belum sempat Blogwalking, silaturahmi, dan balas komentar, soalnya koneksi saya lagi lemot, posting saja susah. Ketiga, Keempat, Kelima, Keenam, dan seterusnya silakan dipikir sendiri dan maafkanlah semua itu. Hehe…

<<Previous Diary<<

>>Next Diary>>

Iklan

14 thoughts on “Diary: Survey Lapangan?

  1. ^^ lucunya~
    mulai dari pencarian sepatu, naik ke mobil ferrari, dahulu kala menghilangkan orang, akhirnya naik bukit dengan semangat korban iklan, terus tidur dan nyeri pinggang. Eh lupa, oleh-oleh hitamnya.
    ahahahahahaha

    Falzart Plain:
    Hehehehe… lucunya… 😀

  2. mobil dengan istilah ‘kuda jingkrak’ keren banget lho sob…..itu ‘Ferrari’ lho 😀
    tempat surveynya mengasyikkan sekali ya… 😀

    Falzart Plain:
    Tapi bukan ferrari… mobil biasa saja… itu julukan dari pemiliknya saja saking bangganya…

  3. baca postinganmu kali ini rasanya jadi seperti yg ngalami sendiri , seru ya …. untung dapat sepatu keren yang pas ya Falz 🙂 … tentang lagu iklan yg imut itu aku cuma bisa membayangkan krn blom pernah lihat iklannya …. terus yang masalah tulisan yang sudah terlanjur diterbitkan .. hmm .. sekali sekali menulis ttg cinta juga menyenangkan lho … jadi ditunggu postingan ttg cinta selanjutnya 😀

    selamat bersibuk ria ya, semoga sukses 🙂

    Falzart Plain:
    Hehehe… Untuk postingan cinta, nanti deh… Kapan-kapan kalau mood lagi dan lupa kalau saya nggak boleh nulis beginian… Hehehe… Iklan begitu nggak sampai di sana, ya… Mungkin ada juga iklan di sana yang lucu, Mbak… Hehehe…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s