Diary: Keternyasaran

Akhirnya saya kembali lagi ke rumah saya di dunia maya ini, setelah beberapa hari tidak posting tentunya. Ada yang kangen tidak? Soalnya saya kangen. Hehehe… Singkat kata, tiga hari yaitu Jumat, Sabtu, dan Minggu kemarin saya sedang naik gunung seperti yang saya lakukan pekan lalu. Bedanya, pekan lalu itu agendanya adalah survey, kalau kemarin itu agendanya ya kegiatan yang sebenarnya.

Ada hal kecil yang mau saya ceritakan dari sekian banyak hal yang saya mau ceritakan. Saya pilih satu saja deh. Mungkin, tema dari Masa Lapangan Pendidikan Lanjutan XI ini lebih tepatnya adalah ‘nyasar’. Kenapa? Ya, karena ternyata hampir semua orang nyasar pada pendakian ini. Mulai dari saya yang ikut di tim pendahulu, tim yang cuma mau naik mounteneering, tim peserta Pendidikan Lanjutan XI, tim penguji, dan tim-tim lainnya, kecuali tim penyisir tentunya. Untung saja, saya ikut di tim pendahulu yang berangkat sehari sebelum tim-tim lain berangkat jadi tidak terlalu dibahas soal ke-‘nyasar’-an tim kami.

Cerita keternyasaran ini saya mulai, ya. Tempat-tempat di jalur gunung itu sampai ke basecamp selalu dinamai dengan sesuatu yang khas agar kami tahu tempat yang dimaksud. Sebutlah suatu tempat yang namanya ‘Sinar Warna’, tempat yang khas dengan tanah lapang dan pohon penanda yang lain dari pohon lainnya. Tempat ini sangat terang pada sore hari sehingga kami menamakannya begitu. Saya sendiri sudah lima kali naik ke gunung ini jadi orang-orang sudah percaya kepada saya untuk berkeliaran dengan bebas di sini. Tapi, sesuatu yang tidak diketahui orang lain adalah bahwa saya ini tidak bisa menghapal jalur yang pernah saya lewati. Kembali ke ‘sinar warna’, tempat itu adalah tempat untuk aplikasi kemampuan medis peserta Pendidikan Lanjutan XI. Setelah puas di ‘Sinar Warna’, saya berniat kembali ke basecamp sendirian. Saya tahu arah basecamp, tapi saya tidak pernah hapal jalurnya. Jadi, saya jalan lurus saja. Naik bukit batu sampai tiga kali terus dapat semak berduri, saya tembus saja. Nah, suatu waktu itu saya bertemu dengan dua orang teman saya yang punya niat yang sama dengan saya. Dan mereka nyasar.

Saya pun sok tahu, sepengelihatanku daerah ini arahnya terlalu ke kiri dari basecamp, jadi saya mengarahkan meraka berdua ke arah kanan. Berjalan ke kanan, ketemu hutan pinus dan jurang. Ya, tetap saja ditembus jurang itu akhirnya kami sampai di tanah lapang. Kami bertemu dengan rombongan tim yang baru selesai dari aplikasi.

“Kalian nyasar juga?” teriakku ke mereka, tapi mereka seperti tidak mengerti apa yang saya katakan.

Mereka pun berjalan menaiki bukit, tapi anehnya mereka berjalan ke arah timur. Seingatku, saya jalan ke tempat itu dari arah timur. Bingung.

Ada senior di situ yang kemudian saya tanya.

“Kak, kenapa rombongan jalan ke Timur?”

“Maksudnya?”

“Tadi saya dari sinar warna mau basecamp, terus ketemu mereka.”

“Dari sinar warna?”

“Iya…”

“Kau tahu itu?” katanya menunjuk tempatku bertemu dengan rombongan yang kusangka nyasar tadi?

“Itu… mirip sinar warna.”

“Lha, itu memang sinar warna!”

Ternyata, saya berputar. Entah bagaimana caranya sampai begitu, ya. Bego. Bisa-bisanya saya mutar 360 derajat ke tempat yang sama. Akhirnya kisah tentang saya bertambah satu lagi. Kisah tentang keternyasaran demi keternyasaran. Huh.

Eniwey, HP saya yang multifungsi, yang selain bisa nelpon, bisa sms juga, bisa jadi senter juga, dan bisa jadi alarm juga itu rusak karena masuk di kantong celana yang basah dan kering di badanku oleh hujan. Akhirnya, hidupku tenang tanpa HP. Konsekuensinya, sms dakwah yang rutin saya terima itu hilang untuk bulan Safar ini. Itu saja dulu cerita saya, ya. Sebenarnya waktu hari senin kemarin saya maunya posting, tapi modem saya dibawa oleh ayah saya ke Papua. Entah dia dipanggil jadi narasumber sebuah seminar di sana, dan baru pulang. Tepat ketika dia pulang, saya juga langsung OL. Hehehe…

Iklan

9 thoughts on “Diary: Keternyasaran

  1. sya juga pernah tersasar waktu mendaki sob….tapi ada juga hikmahnya, kita jadi tahu adanya “jalan tikus” yg mengarahkan kita ke tempat sebenarnya….!

    Falzart Plain:
    Beda dong Mas dengan nyasarnya saya… Kalau nyasarnya saya itu ada disorientasi tempat, jalur gak diketahui, jadi semuanya disebut jalan tikus dong, tapi gak menuju ke tujuan… hehehe….

  2. nyasar, kehabisan logistik, teman terluka, terkena badai dan banyak lagi resiko dalam mendaki, tapi itu lah seni dari mendaki sendiri, dalam kegiatan alam bebas mendaki tergolong paling lembut, percaya deh, karna kegiatanya hanya jalan dari basecamp hingga puncak gunung. 😉

    Kalau boleh tau dimana anda mendaki kemarin sob, gak ngajak2, hehe 😉

    Falzart Plain:
    Hahaha… begitu, ya…
    Wah kalau pendakian itu adalah kegiatan alam bebas yang paling lembut artinya saya ini payah sekali ya… 😳
    Eniwey, kemarin itu saya mendaki di Gunung Mareno Kabupaten Barru kalau tidak salah, ketinggiannya hanya sekitar 881 mdpl, di atas sana panas, tidak dingin.

  3. AKhirnya Fal kembali!! 😀
    Selamat datang!!

    Mengerikan deh, untung ketemu sama rombongannya. Seumurumur saya belum pernah mendaki, takut nyasar. 😀

    Falzart Plain:
    Makanya Miss, mendakinya sama teman-teman dong… Teman-teman yang kuasai jalur dan ilmu navigasi darat. hehehe…

  4. Yang pasti saya gak nyasar datang kemari. 😆
    Sekali-sekali cobain Rinjani mas bro. 😉

    Falzart Plain:
    Saya sih payah Mas… Teman saya yang fisik dan mentalnya lebih bagus dari saya saja gagal dapat puncaknya Rinjani… Jadi mungkin untuk keadaan saat ini saya masih belum bisa [hehehe…] Nanti deh saya latihan dulu…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s