Diary: Khawatir…

Akhirnya, saya kembali dari tempat yang bernama Bukit Teletubbies, nama yang aneh, tapi tempat yang indah. Mungkin saya tidak punya fotonya, sama sekali tidak punya, karena dokumentasi kegiatan dipegang oleh team commander, dan saya hanya berstatus anggota tim biasa kemarin.

Perkara kemarin, saya bertugas untuk mem-backup kegiatan bina akrab salah satu himpunan mahasiswa dari bidang medisnya. Kesannya itu, aduh bagaimana ya? Acaranya sih keren. Mabanya kreatif, persembahannya menarik. Pokoknya keren lah. Tapi, menonton acara bina akrab itu bukan tugas saya kemarin, jadi yang saya ceritakan tentu bukan soal itu.

Kemarin, kasus yang paling banyak dihadapi adalah maag. Usut punya usut, ternyata jadwal makan Maba itu sepenuhnya diatur oleh panitia. Terus, karena mereka semua itu bukan mahasiswa kedokteran, jadi jelas mereka tidak tahu kenapa Mabanya bisa pada maag semua. Alasannya sih menurut saya jelas, karena waktu makannya tidak sesuai, dan makanan yang masuk pun tidak adekuat. Tapi sudahlah, saya beruntung karena waktu saya masih maba dulu, senior saya betul-betul memperhatikan asupan gizi juniornya, sehingga bisa menyiksa dengan leluasa [dulu saya disiksa dengan lebih leluasa]. Jadi, saran ya, buat siapa saja yang mengadakan kegiatan pengkaderan, tolong diperhatikan makanannya juniornya, ya.

Sudah ah, gak mood bahas itu. Saya sedang sedih sekarang. Sedih karena penyajian sistem perkuliahan ditukar. Ada orang-orang yang memperjuangkan supaya penyajiannya ditukar. Kenapa sih mereka begitu? Ini curang namanya. Saya menunggu dan merencanakan mata kuliah sistem yang saya ambil seefisien mungkin supaya saya bisa diwisuda bulan Maret nanti. Bisa-bisa saya gak jadi wisuda bulan itu karena penyajian mata kuliah yang saya tunggu-tunggu dimundurkan. Mudah-mudahan tidak. Kalau begini terus, saya bisa benci setengah mati sama pihak pimpinan, soalnya kesimpangsiuran jadwal akademik ini membuat saya galau, dan yang lebih parah adalah karena kesimpangsiuran ini tidak ada penjelasannya yang tersiar di papan pengumuman. Nah, akankah saya sarjana bulan 3 nanti?

Saya benci dengan orang-orang yang curang. Orang-orang yang menggunakan kekuasaannya dengan semena-mena. Saya bukan iri dengan orang-orang yang curang itu, karena saya sendiri tidak menyukai kecurangan, saya hanya benci. Orang-orang itu mentang-mentang dekat dengan pimpinan, karena pimpinan itu ternyata bapaknya lah, keluarganya lah, akhirnya mengubah sesuatu yang fatal bagi kami yang bukan siapa-siapa. Memang dari setiap keputusan harus ada yang dirugikan, tapi kenapa yang dirugikan selalu kami, orang-orang yang bukan siapa-siapa?

Ah, lega rasanya setelah menulis paragraf di atas. Di sisi lain, saya terlambat lulus sampai begini bukan karena salah pimpinan, ini salah saya. Harusnya saya menerima saja, karena kalau saya mau adu perjuangan dengan mereka itu, yang anaknya orang-orang besar di fakultas, itu sama saja dengan buang-buang waktu. Nepotisme adalah sesuatu yang identik dengan senioritas, eh terbalik, sama saja. Makanya tidak ada yang bisa mengalahkan nepotisme di sini. Saya berharap segala yang terbaik terjadi. Terbaik untuk semua orang, bukan untuk saya saja.

Teringat lagi dengan bina akrab yang saya backup kemarin, katanya mereka ada masalah juga dengan pihak pimpinan dalam penyelenggaraan kegiatannya. Mungkin disebabkan banyaknya aspek yang tidak diperhatikan panitianya dalam kegiatan itu, contoh kecil, makanannya. Dan masih banyak aspek yang mereka tidak perhatikan sehingga dipersulit. Begitu pula pastinya yang terjadi pada diri saya. Mungkin banyak sekali hal yang tidak saya perhatikan sehingga saya merasa dipersulit. Jadi, sekarang adalah waktunya untuk introspeksi diri mumpung rasa sedih itu masih ada, bukan lagi waktunya untuk mengeluh dan mengeluh. []

Iklan

9 thoughts on “Diary: Khawatir…

  1. Saya juga di kantor sering terbentur dengan kebijakan pimpinan mas. Sering kali keputusan yang diambil serasa tak adil. Tapi mau bagaimana mas. Kita ini hanyalah bawahan yang harus manut-manut wae kalau diperintahkan ini itu.

    Salam dari Negara, Bali.

    Falzart Plain:
    Tidak, Mas. Eh, Bli. Tidak begitu. Akan ada suatu forum untuk menyampaikan aspirasi, saat itu harus ada solusi dari kita sebagai orang yang dipimpin, kalau tidak, kesemena-menaan itu akan terus berlanjut. Kalau kasus saya ini sih, susah, karena orang-orang yang dibawah ini berbeda kepentingan, tidak satu suara, jadi berbeda pula yang harus disampaikan ke atas. Jelas, kepentingan yang didengar adalah kepentingan orang yang dekat dengan si ini lah si anu lah. Tapi kalau keputusan sudah diputuskan, sebagai orang yang dipimpin kita memang harus begitu, manut-manut wae… Hehehe…

  2. Kalo banyak yang ngga setuju dengan pertukaran tersebut, mungkin bisa dibawa ke forum mahasiswa, Dok. Tapi mudah-mudahan sih tidak ada perubahan jadwal ya….

    Falzart Plain:
    Orang-orang berbeda kepentingan Bang Nando, yang menmperjuangkan pertukaran jadwal itupun didorong oleh kebersamaan nilai E yang sama. Kalau saya mau himpun suara kayaknya susah, karena nilai E saya tinggal satu mata kuliah. Makasih doanya ya… Kalau jadwal tidak berubah itu adalah yang terbaik, maka mudah-mudahan itu yang terjadi…

  3. semangat!!!
    oh iya, dok, aku mudah bangets sariawan kenapa ya? padahal ‘kan makanku sama dengan makan orang serumah? mustinya, kalo yang lain ngga sariawan, aku juga ngga dong? 😦

    Falzart Plain:
    Tiap orang kan beda, Yisha…
    Kebutuhannya berbeda…
    Daya tahan tubuhnya berbeda…
    Bahkan saudara kembar sekali pun…
    Jadi…
    Disesuaikan saja…
    😀

  4. 1 hal yang jadi pertanyaan saya abis baca ini, “adekuat” ini apa ya? *garuk garuk kepala* *gaptek*

    “Saya benci dengan orang-orang yang curang. Orang-orang yang menggunakan kekuasaannya dengan semena-mena”. Ini maksudnya lagi nyindir program pembelian kursi wakil rakyat itu ya? Hahahahaha… *thumbs up*

    Falzart Plain:
    Adekuat itu kurang lebih artinya mencukupi untuk melakukan aktifitas.
    Kalau semena-mena yang saya maksud sih bukan tentang kursi-kursian, ya… Tapi, boleh juga…

  5. waah kayaknya postingan ini, benar2 dapat emosi mas.. eh, dhe manggilnya mas atau dok yaa?? hehe 😀

    wisuda itu jangan dijadikan beban mas, dhe aja belum diwisuda santai2 saja.. *ngasih semangat*

    Falzart Plain:
    Gak apa-apa panggil Mas saja… Lagipula sebenarnya saya belum berhak dipanggil Dok. Hehehehe… 😀
    Saya nggak tahu Dhe kuliahnya apa, tapi kalau saya sih, Dhe, harus visioner dari sekarang. Perencanaan harus matang. Kapan harus wisuda, kapan harus ini, kapan harus itu, dan kapan harus anu. Soalnya kalau terlalu santai, saya bisa lebih dimakan usia lagi. Pendidikan saya ini lama, soalnya.

  6. wah wah wah, jadi nepotisme ini sekarang udah berlaku juga ya sampai ke lingkungan perkuliahan? hadeuuhh…
    tetap semangat Fal biar bisa wisuda 3 bulan lagi! 🙂

    Falzart Plain:
    Iya, sedari dulu… Senioritas = Nepotisme, senior pasti dahulukan. Sebenarnya tidak ada yang salah, memang begitu etikanya. Yang menurut saya salah itu kalau anaknya senior juga didahulukan. Salah dong, pake nama bapaknya (meskipun bapaknya tidak keberatan). Kalau saya sih yang terbaik semoga itu yang terjadi…

  7. salah satu alasan kenapa aku dulu lebih suka bekerja sendiri, bebas memutuskan apa apa sendiri , soalnya jengkel juga kalau tahu hanya si A atau si b yg didengar sementara aku dicuekin dan harus manut wae apa yg telah diputuskan, no way lah

    Falzart Plain:
    Oh, begitu ya, Mbak Ely…
    Dorongan jiwa saya juga sebenarnya adalah bekerja sendiri, tapi saya pikir saya tidak mungkin bisa bekerja sendiri disebabkan profesi yang akan saya jalani. Jadi, ya… beberapa tahun yang lalu saya pun memutuskan supaya saya belajar bagaimana mengarungi sistem kerja dengan orang banyak, di mana ada pemimpin, ada yang dipimpin, ada yang membuat keputusan, ada yang harus patuh, ada yang mengajukan aspirasi, ada yang menindaklanjuti… 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s