Diary: Respon Keimutan?

Kemarin, saya sempat lihat anak ayam, sempat lihat bayi imut juga. Kok rasanya ada yang aneh, ya? Ada yang aneh dari seorang Falzart Plain ketika melihat dua makhluk imut itu kemarin dan ketika melihat makhluk imut semacam itu beberapa tahun yang lalu. Ada yang berubah. Apa ya?

Waktu saya lihat bayi imut itu, saya seperti tidak tertarik untuk mendekat dan ‘melucu-lucui’-nya seperti yang dulu biasa saya lakukan kepada semua bayi imut. Entah kenapa. Padahal dia imut.

Saya ingat terakhir kali saya main dengan anak kecil yang masih imut beberapa tahun yang lalu waktu reuni keluarga. Reuni atau apa ya sebutannya, pokoknya di tahun itu, keluarga yang berada di luar Kota Makassar, balik ke Makassar semua, sehingga terkumpullah saya bersepupu banyak sekali. Sepupu saya yang paling imut waktu itu paling cepat akrab dengan saya dibandingkan dengan sepupu yang lain. Saya berhipotesis bahwa wajah saya waktu itu masih sama imutnya dengan sepupu saya itu sehingga cepat dekat, tapi kayaknya hipotesis itu salah deh. Salah karena yang pertama: saat itu saya sudah akil baligh, jadi saya lebih tepat disebut tampan daripada imut [lho?]. Kedua, sepupu saya yang imut itu ada satu lagi tapi sedikit lebih tua, tapi mereka tidak saling akrab. Bukannya wajah mereka sama-sama imut? Jadi, hipotesis wajah imut itu terbukti 101% salah.

Hipotesis kedua untuk pertanyaan kenapa saya cepat dekat dengan anak kecil imut dan makhluk-makhluk imut semacam itu dulu adalah bukan dikarenakan oleh wajah saya yang imut [karena ini jelas terbukti salah], tapi karena hati saya yang imut. Aduh-aduh, kalau teman-teman saya di dunia nyata baca postingan ini, atau setidaknya kalimat ini saja, mereka pasti langsung ngakak sampai sakit perut. Ehm, fokus. Kita sedang membahas hipotesis kedua saya, tentang keimutan hati saya waktu itu. Sepertinya tidak ada definisi yang bisa menjelaskan apa arti keimutan hati, makanya hipotesis ini gugur dengan sendirinya, dengan dakwaan ngaco’.

Hipotesis ketiga untuk pertanyaan yang sama adalah karena pada dasarnya saya ini berjiwa kanak-kanak, [bukan maksudnya jiwa saya imut, ya…. bukan…]. Waktu itu saya masih punya jiwa itu dengan kadar yang tinggi. Waktu itu saya paling mengerti bagaimana anak-anak dan apa yang mereka inginkan. Saya ini kakak dan selalu jadi kakak karena saya anak pertama. Saya terbiasa dengan yang namanya bermain dengan adik, makanya dengan adik-adik yang lain pun waktu itu saya cepat dekat. Saya rasa inilah hipotesis yang paling tepat. Bagaimana forum? Ada yang mau menambahkan? OK. Tidak ada, jadi saya anggap inilah hipotesis yang paling benar saat postingan ini dibuat.

Pertanyaan berikutnya yang muncul adalah kenapa saya sudahΒ tidak tertarik untuk mendekat dan ‘melucu-lucui’ makhluk-makhluk imut semacam itu lagi. Hipotesis pertama adalah jiwa saya ini sudah bukan jiwa kanak-kanak lagi, makanya saya sudah tidak seperti itu lagi. Mari kita tanya kebenarannya kepada diri saya sendiri. Jawabannya: TIDAK. Kalau saya sudah tidak berjiwa kanak-kanak lagi, saya sudah tidak melakukan hal yang kekanak-kanakan lagi, tapi saya masih melakukan perbuatan semacam itu sampai sekarang, meskipun memang sudah tidak seekstrem dulu lagi.

Hipotesis pertama, saya tidak tolak, karena masih ada benarnya sedikit. Jiwa kekanak-kanakan saya berkurang seiring umur saya yang kian berkurang juga. Hipotesis kedua adalah karena efek pencitraan diri yang tengah saya lakukan. Poin tiga dari pencitraan tersebut adalah sebagai seorang kakak. Berhubung adik-adik saya sudah besar-besar semua, sudah pada bisa cebok sendiri, jadi perlakuan lucu-lucuan terhadap mereka pun berubah, meskipun seberapa besar pun mereka, bagiku mereka akan tetap menjadi adik kecilku yang imut. Saya rasa faktor ini termasuk. Saya bukan orang yang statis dengan hasrat ingin melucu-lucui anak kecil terus. Ketika tidak ada lagi objek sekitar yang bisa saya lucu-lucui, saya tidak mencari objek lucu lain untuk dilucu-lucui, tapi saya berubah menjadi sosok yang memperlakukan mereka seperti mereka ingin diperlakukan. Saya rasa kakak yang baik seperti itu. Atau ada pendapat lain?

Sudah, ah. Kenapa saya jadi narsis sendiri sih. Banyak sekali pernyataan narsis di postingan ini, kayaknya ya. Begitulah saya, ketika berpikir tentang sesuatu, bahasannya bisa sampai ongol begini. Padahal hal yang saya pikirkan seharian ini adalah tentang bayi imut dan anak ayam imut yang kemarin.

Eniwey, saya jadi merasa aneh sendiri. Kok blog ini malah ceritanya jadi Falzart -sentris, ya? Begitukah orang introvert? Lebih banyak bercerita tentang dirinya sendiri dan apa yang dia rasakan? [saya merasa saya introvert] Ataukah ini bukan ciri orang introvert, tapi ciri orang yang kurang perhatian, ya? Ataukah ini hanya ciri orang egois yang selalu berpikir tentang dirinya terus? Ckckck…

Iklan

17 thoughts on “Diary: Respon Keimutan?

  1. Mas Falzart ini pasti suka merenung ya… Dari bayangan nyata seorang bayi imut dan seekor ayam imut, mas Falzart bisa menerawang hingga membuat beberapa hipotesis tentang keimutan…. Memang ciri khas seorang introvert… πŸ™‚

    Falzart Plain:
    Saking seringnya nggak ngapa-ngapain, jadinya merenung deh… Hehehhe… sebenarnya itu yang bikin saya begini…
    Tapi kalau saya sendiri, merenung itu punya ‘kenikmatan’ tersendiri…

  2. ga pa masih imut imut asal jangan amit amit, hee

    piss πŸ™‚

    Falzart Plain:
    Saya nggak pantas lagi dibilang imut sih, jadi … amit-amit bolehlah… Apa salahnya sih jadi amit-amit? Itu ‘kan siklus kehidupan… hehehe…

  3. aku juga merasa sbg orang yg introvert Falz, jadi mikir apa postingaku selalu bercerita melulu ttg aku ya ? kayaknya sih enggak, tapi nggak tahu ya dgn pendapat pembacaku

    Falzart Plain:
    πŸ˜€ makanya banyak kemungkinan Mbak Ely… Apakah orang yang suka menceritakan tentang dirinya sendiri sampai se-ongol ini itu ciri Introvert, atau ciri orang yang egois, atau hanya ciri orang yang kurang perhatian? Hehehhe….
    Kalau tulisan Mbak Ely, sih [menurut saya] lebih banyak menceritakan tentang ‘makna’ sesuatu… Kadang saya juga mau memposting yang semacam itu tapi itu perlu waktu berpikir sedikit lebih lama daripada memposting ginian… πŸ˜€

    • tulisanku terlalu simpel menurutku , justru tulisan seperti postinganmu di atas membutuhkan waktu yg tak terkira buatku, mungkin malah nggak bisa, lain orang lain kemampuannya ya Falz

      Falzart Plain:
      Iya, Mbak…
      Soalnya isi kepalaku memang sudah terdesain seperti ini, jadi model tulisannya pun begini juga…

  4. sebagai seorang yang introvert, low profile, humble, suka makan kembang setaman, dan sedikit kharismatik, saya mengakui kalo anda imut dan emang harus imut biar bisa bertahan hidup… (maaf klise) hehehehe πŸ˜†

    yang penting jadi diri sendiri, ya gak sob??

    Falzart Plain:
    Oh, begitu? Okelah… Sebagai orang yang introvert, tampan, dan keren, dengan sedikit aksen menawan, saya sepakat dengan Anda saja… Soalnya, imut adalah salah satu aset berharga untuk menjaga aksen menawan itu tetap ada… Hehehehe… πŸ˜†

  5. yang ada bukan imut-imut kali Mas falz…Amit-amit hehe, just kidd..
    Ya gimana ya pantes komentarnya, antar introvet dan kurang perhatin… Ah tau ah mas pusing saya jadinya,…

    Falzart Plain:
    Hehehe… amit-amit is no problem… Komentarnya biasa aja dong Mas… Nggak usah komentarnya ikut-ikutan jadi kayak orang kurang perhatian juga… πŸ˜† Tuh kan malah jadi pusing…

  6. Ada lagi kemungkinan lain, kau sengaja menulis seperti ini biar dibilang introvert, hehe
    Tapi nice share lah, tulisan yang bagus…
    Oh ya ini kunjungan pertamaku, kutunggu kunjunganmu πŸ™‚

    Falzart Plain:
    Iya, kutunggu jandamu… *eh?*
    Bisa juga, nanti saya akan menulis postingan supaya dibilang ekstrovert deh, kalau gitu… Emang ciri tulisannya orang ekstrovert itu gimana, ya?

  7. Falz mungkin sedang menanjak keimutannya sehingga yg imut2 lain tidak tampak lagi. Seperti bulan pasi di dekat wajah gadis cantik..# ini komen gak nyambung amat yak..

    Falzart Plain:
    Hehehehe… mungkin saja Uni… Kalau begitu, artinya saya yang harus diperlakukan sebagai makhluk imut, dong… Whaaaaa… *kok rasanya saya malah stresss…, pantas saja bulan pasi di dekat wajah saya [eh?]*

  8. mungkin bisa konsultasi sama psikolog tuh hihihi *kan temanya diary juga* siapa tahu dapat psikolog yg imut πŸ˜€

    Falzart Plain:
    Kalau dapat psikolog yang imut… Aduh, sudah deh… daritadi mikirnya yang imut mulu… Keterusan nanti saya jadinya [keterusan imut]

  9. Aku juga introvert kakak. 😦
    Eh tentang anak kecil ya…
    Aku kok nggak suka ya sama anak kecil. Kalau teriak rasanya pengen tak jiwiti.
    Anehnya banyak anak kecil yang ngamplok ke aku, gara-gara aku seneng njoget.
    Berarti aku masih kekanak-kanakkan ya… nggak kayak mas hehehe… πŸ˜€

    Falzart Plain:
    Jiwiti itu apa ya? (saya menduga artinya itu cubit)
    Hahaha… Kalau soal ngamplok (apa pula artinya itu) artinya imbang dong, Una. Diimbangi dengan njogetnya…
    Eniwey, itu menurut saya bukan kekanak-kanakan sih, itu respon orang ‘normal’, kok… πŸ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s