Diary: Masa Lalu dan Misi Hidup

Nah loh, rupanya ternyata padahal. Maksudnya, saya sedang mendapatkan tugas dari Mas Gandi. Tugasnya sih seperti yang sudah pernah saya kerjakan beberapa waktu yang lalu, itu lho yang di postingan yang ini. Ingat dulu waktu belum aktif blogwalking, saya pernah dapat tugas juga dan saya berhasil mengerjakannya di sini. Saya jadi malu melihat perubahan saya selama ini. Tidak tahu kenapa malu rasanya, terlalu abstrak perubahan yang terjadi.

PR ini berubah dari PR serba sebelas menjadi PR yang hanya dua pertanyaannya. Pertanyaan pertama adalah disuruh menceritakan kisah hidup yang bisa membuat bangkit kembali. Selanjutnya, disuruh menceritakan misi hidup. Ini pasti akan menjadi postingan yang sangat spesial.

Saya mulai kisah saya.

Kisah yang mana, ya?

Aduh, yang mana ya?

Kisah saya terjatuh dan bangkit lagi kebanyakan adalah cerita ketika saya memandang hidup dengan cara saya sendiri. Orang-orang menganggapnya penghinaan, mereka menganggapnya kesialan, tapi saya justru menganggapnya pembelajaran. Begitulah kebanyakan kisah saya. Entah, saya masih bisa bertahan dengan jalur seperti ini atau tidak.

Salah satu kisah saya adalah tentang membenci dan mendendam. Jangan salah, saya ini pendendam berat. Kalau saya benci sesuatu, saya akan benci dia sebenci-bencinya. Pokoknya benci. Begitu pula sebaliknya, dengan menyukai sesuatu. Saya juga begitu.

Saya berubah dari sini, berubah dari organisasi pertama saya yang saya serius di dalamnya. Saya berubah dari sangat membenci organisasi ini sampai kepada sangat mencintai organisasi ini.

Kisah benci saya bermula ketika saya yang masih sangat polos gaya mahasiswa baru yang dulunya sewaktu masih berstatus siswa tidak pernah menyentuh organisasi, memutuskan untuk memasuki organisasi ini, organisasi yang menurut saya paling ‘keren’ di fakultas saya. (Kalimat barusan menggunakan kalimat majemuk bertingkat-tingkat, harap baca ulang kalau bingung).

OK, lanjut. Jadi, saya memutuskan untuk mendaftar. Intinya selama proses perekrutan, saya merasa ‘dibuang’, kemudian serasa ‘dijilat kembali’. Siapa yang tidak benci dibegitukan? Perasaan saya waktu ‘dibuang’ itu adalah marah, benci, kesal, dan lain sebagainya. Selanjutnya, saya ingin supaya dicampakkan saja oleh organisasi ini. Saya tidak ingin melihat lambang organisasi ini. Benci. Benciii!!!!

Saya ‘dibuang’ sebenarnya adalah karena kesalahan panitia. Jadi, atas perjuangan teman-teman seangkatan saya, saya ‘dijilat kembali’ dengan syarat. Saya tidak menginginkan ini. Tidak sama sekali karena saya sudah terlanjur benci. Maka, saya bertekad untuk keluar sendiri di akhir perekrutan anggta baru itu.

Ternyata, saya diterima menjadi anggota dan saya tidak bisa mengelak lagi seteah saya disumpah. Di sinilah kebencian itu berlanjut, mereka membohongi saya. Idealisme yang mereka ajarkan ternyata semu. Saya makin benci! Saya benci dibuang, saya benci diberi harapan setelah dibuang, dan saya benci dibohongi!!!

Sudah deh… Saya capek menceritakan kebencian kembali. Masih banyak kebencian di sana. Ya, selama dua tahun pertama saya di sana, saya terus merasa benci kepada mereka. Selalu ada saja alasannya untuk membenci.

Masih tentang membenci, saat itu saya bebas berimajinasi dengan kebencianku. Saya membagi diriku menjadi beberapa sisi. Si Merah yang selalu merasa marah, benci, dan menyimpan segala emosi, dan si Hitam yang tampak luarnya tanpa ekspresi untuk menutup-nutupi si Merah. Si Hitam ini penuh dengan keputusasaan, bertarung dengan si Merah yang meledak-ledakkan emosinya. Di dunia luar saya selalu tampak lesu dan tanpa ekspresi, tapi dalam hati saya penuh dengan kebencian.

Semuanya berlanjut, perseteruan sisi Hitam dan sisi Merah, hingga suatu saat muncul bisikan-bisikan kecil yang meredam si Merah lebih baik dari si Hitam, dan menyemangati si Hitam lebih baik dari si Merah. Awalnya kukira itu bisikan-bisikan biasa, hingga saya sadar, saya harus menamakan bisikan yang bijak itu dengan suatu sebutan lain, si Hijau.

Beberapa kalimat si hijau mampu membuat saya tenang. Di antaranya seperti ini:

  • “Kalau dirimu tidak suka dibegitukan, jangan biarkan orang lain dibegitukan.”
  • “Apakah kebencian akan menghalangimu dari menggapai cita-cita?”
  • “Merasa tidak berharga? Buatlah mereka merasakan betapa berharganya dirimu.”
  • “Kalau kondisi di sini jelek, akankah kau biarkan kondisinya tetap jelek?”

Kurang lebih kata-katanya seperti itu. Saya berubah perlahan-lahan, dari membenci hingga bisa dibilang mencintai. Sisi Hijau mengajari saya untuk memaknai hidup. Sisi Merah mengajari saya untuk bertindak. Dan sisi Hitam mengajari saya untuk bersabar. Mereka bertiga itu adalah saya sendiri. Pada dasarnya mereka itu adalah saya. Keren ya, saya ini. Hohohoho…

Ah, sudah ah… Apakah kata-kata si Hijau itu belum cukup memotivasi? Saya sudah cerita pengalaman fisik dan psikis nih, jadi persoalan nomor satu sudah kelar, ya! OK, Mas Gandi?

Lanjut ke persoalan nomor dua yaitu menceritakan tentang Misi Hidup. Misi Hidup saya adalah:

1. Tuntaskan hapalan.

2. Jadi dokter secepatnya.

3. Menikah.

4. Membesarkan anak-anak saya sampai bisa hidup sendiri.

5. Mati.

Cukup, ya… Sebenarnya perkataan si Hijau dan misi hidup saya ini berhubungan erat, tapi kayaknya saya tidak bersedia menceritakan lebih lanjut. Capek soalnya. Anggap saja itu cerita yang simpel, disimpel-simpelkan dengan model seperti itu. Nggak seperti cerita? Oh, bayangkan saja sendiri ceritanya seperti apa.

Sekian.

πŸ˜€

Iklan

19 thoughts on “Diary: Masa Lalu dan Misi Hidup

  1. Fal ngga niat nih ceritanya, untung saya bisa nangkep maksud ceritanya walaupun sedikit
    biar afdhol gimana kalau diceritain dengan lebih gamblang aja Fal πŸ˜€

    Falzart Plain:
    Wah ketahuan saya kalau kurang niat, ya? Soalnya, kalau saya ceritakan lengkap, saya takutnya malah bisa jadi novel. Tapi maksudnya bisa nangkep kan? Cukup lah itu… Hehehehe…. πŸ˜€

  2. kalau aku berada di posisimu saat itu di organisasi yg kamu benci … pasti sudah meledak aku *bom kali* krn aku tipe orang yg nggak bisa menahan perasaan benci, kalau benci ya bilang saja benci atau tinggalkan organisasi itu, kalau nggak mau meledak kayak bom

    Falzart Plain:
    Saya sempat meledak, lho, Mbak. Tapi saya masih menahan diri sedikit-sedikit. Setelah meledak itu baru saya bisa mengambil makna kenapa bisa saya dibegitukan. Pada akhirnya saya memaknainya seperti Si Hijau membisiki saya. Intinya kita tidak bisa membenci individu yang bekerja di dalam, yang kita bisa benci itu sistemnya. Nah, karena sistemnya yang salah, makanya sistemnya yang diusahakan diubah.

    • sistemnya khan yg bikin manusia juga Falz, apa mudah untuk merubah sistem yang sudah lama diterapkan misalnya ? tapi nggak tahu juga ya, andai mudah merubah sistem itu, kalau menurutku pribadi sih tergantung individu masing masing yg berada dalam naungan organisasi itu

      Falzart Plain:
      Susah dong, Mbak. Mengubah itu susah, tapi tugas kita itu berusaha. Ternyata usaha saya untuk mengubah itu secara tidak langsung perlahan-lahan membuat saya berubah dari membenci ke mencintai.

  3. ane adalah orang yg fleksibel (ceileh kayag ngerti aja artina –” )
    q orangna gbsa cerita sob.. sukana ngedengerin cerita..
    terus kbawa tidur deh πŸ˜€

    ————————-
    Mohon dukungannya ya πŸ™‚

    http://inigalauku.blogspot.com/2012/01/eksis-dengan-internetan-sesuatu-banget.html

    ————————–

    Falzart Plain:
    Aduh-aduh, tapi saya tidak menyediakan cerita untuk didengarkan sih… Hanya untuk sekedar dibaca…

  4. β€œMerasa tidak berharga? Buatlah mereka merasakan betapa berharganya dirimu.”
    Bagaimana cara yang tepat mas?
    Aku sering minder dan merasa tidak berharga bagi yang lain..

    Falzart Plain:
    Teori Falzart:
    Seseorang akan berharga dilihat dari dua hal, kualitas keberadaannya dan kuantitas keberadaannya. Kualitas keberadaan itu adalah seberapa berguna kita ketika kita hadir. Kuantitas keberadaan kita adalah seberapa sering kita menghadirkan jiwa untuk membangun ‘mereka’. Kuantitas keberadaan itu bukan sekedar seberapa sering fisik kita hadir, tapi lebih dari itu. Itu yang saya terapkan. Intinya adalah membuat ‘mereka’ merasa kehilangan ketika kita tidak ada.

  5. waktu baca ini mungkin otak saya lagi lemot… hehe jadi agak bingung^^
    pokoknya saya diakan semoga misi hidupnya sukses dicapai!!! πŸ˜€

    Falzart Plain:
    OK… Thanks… πŸ™‚
    Soalnya juga postingan ini memerlukan kecerdasan di atas rata-rata yang memungkinkan pembaca untuk mengerti isi pikiran saya… Hahahaha… ➑ lagi gajel nih saya…

  6. akupun banyak belajar dari organisasi ini,,, belajar bagaimana melakukan sesuatu dengan benar, dan bagaimana memaknai arti kata kehidupan dalam lingkup persaudaraan tak sedarah,,

    salut buat falz yang perubahannya begtu besar, dan kini ia lebih dewasa dan lebih hebat dari yang lain,,

    kalo falz mengaku dirinya kereenn,,,
    yaa.. aku setuju.. kamu keren falzzz…. πŸ™‚

    Falzart Plain:
    Inilah salah satu saksi yang mengatakan kalau saya keren. Hahahaha… (Tolong jaga kepala saya, mau meletus nih…)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s