Diary: Si Pemimpi #2

Ketika memandangi foto wanita itu, terbayang olehnya tingkah lakunya, suaranya, mimiknya, senyumnya, dan semuanya. Bahkan jika itu hanya tampilan siluet dari diri si wanita itu, semuanya cukup untuk membuat wanita itu tampak jelas terbayang di kepalanya. ‘Mungkin saja aku sedang jatuh cinta’, pikirnya. Akan tetapi, dia tahu persis bahwa jatuh cinta itu tidak boleh dibiarkan begitu saja, jatuh cinta itu harusnya dinetralisir dengan sesuatu kalau belum saatnya untuk menikah.

Maka kala malam menjelang mengantarkan kantuk luar biasa ke pelupuk matanya, bayang wanita itu datang ke dalam mimpinya untuk sekedar bercengkrama. Dia selalu senang ketika hal itu terjadi. Itu adalah mimpi indah yang akan tetap indah baginya. Meski jiwanya berdebat keras perihal perasaannya, sesungguhnya seluruh jiwanya itu menyambut kedatangan wanita itu dengan penuh suka cita.

“…”

“Fauzi, bagaimana kabar?”

“Kau lagi…”

Dia, yang oleh bayang wanita itu dipanggil Fauzi pun tersenyum bahagia lepas dari kekakuan pikirnya barusan.

“Hmm…” sosok itu hanya tersenyum membalas senyum Fauzi.

“Ini pasti mimpi ‘kan?”

Sosok itu hanya tersenyum manis dan terlihat makin manis setiap kali dia memandang.

“Kau tidak usah jawab, aku sudah paham arti senyum manismu itu…”

“Fauzi, …” kata sosok itu tiba-tiba merangkul tangannya masih dengan senyum manis terpatri di wajahnya.

“Hmm, kenapa?”

“Memandangmu seperti ini membuatku senang.” katanya memeluk tangan yang tadinya dia rangkul.

Fauzi sempat tertegun, jantungnya berdetak kuat ketika kata-kata itu didengarnya. Dia senang sekali, meskipun kata-kata itu hanya dia dengar di alam mimpinya.

“Terima kasih,” katanya ” … tapi …” pandangannya pun menunduk.

“Padahal di sini hanya kita berdua, Fauzi. Tidak maukah kau bilang juga?”

“Ini… ah, aku bimbang…”

“Jangan bimbang, ya Fauzi… Tetaplah pada tujuanmu.” Kata sosok itu tersenyum lagi.

“Tapi aku ingin … kau … ada … ” katanya terpatah-patah.

“Tidak perlu kau lanjutkan, tetaplah pada tujuanmu dan jemput aku di sana.”

Sosok itu tersenyum, saling pandang dengannya, dan perlahan memudar, dan menghilang.

Fauzi yang bimbang itu pun kemudian tenang. Ditariknya napas panjang sambil memejam mata. Dia terbang dalam alam mimpi itu, dan ketika dia membuka mata, dia sudah berada di dunia nyata.

“Ah, Fauzi kau tidur pulas sekali.”

“Iyakah?”

“Senyum-senyum terus waktu tidur tadi. Mimpi apa?”

“Tidak mimpi apa-apa…”

“Oh. Eh, ada sms masuk di hapeku, balasan sms buat kamu kayaknya.”

“Oh ya? Sini lihat dulu.”

Tertulis:

Mau ketemuannya jam berapa?

Kemudian dia membalas:

Oh, nanti saja ketemuannya, tiba-tiba aku ada acara.

Pikirannya yang tenang itu kini lebih ikhlas untuk membatalkan janji bertemu yang dia buat sendiri itu. Dikembalikannya hape itu, dan dia pun bergegas pergi dari karpet tempatnya tertidur pulas. “Ah, belum waktunya untuk kuutarakan langsung”, katanya.

***

————————————————————————————————————————-
— Bukan Kisah Saya —
————————————————————————————————————————-

Pikiran lanjutan dari kisah sebelumnya. Cerita nggak jelas, tapi membayangkannya cukup membuat saya senyam-senyum sendiri. Hehehe… ๐Ÿ˜€

Iklan

14 thoughts on “Diary: Si Pemimpi #2

  1. kenapa kisah yg dulu namanya Uci yg sekarang Fauzi?
    apa Uci itu panggilannya si Fauzi di keluarganya? atau memang berbeda orang?
    atau si Uci mimpiin si Fauzi dan sekarang giliran Fauzi yang mimpiin Uci?
    dan apakah benar itu bukan kisah kamu Fal? ๐Ÿ˜€

    Falzart Plain:
    1. Karena Uci itu Fauzi, begitu. OK, jelas?
    2. Orangnya sama, Uci itu panggilan di keluarganya
    3. Bukan
    4. Bukan
    Hehehe… jawabannya saya kasih jadi berbaris-baris karena pertanyaannya juga berbaris-baris, Miss… ๐Ÿ˜†

  2. kayaknya aku blom baca yg pemimpi # 1 ya ?

    Falzart Plain:
    Oh, saya lupa publish waktu itu, dia terlempar ke ‘Trash’, saya heran kok bisa ada postingan saya di sana. Nggak sengaja saya buang kayaknya, Mbak…
    Saya sadar waktu mau lanjutin cerita si Pemimpi ini….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s