Diary: Loyalitas

Tempo hari saya berdiskusi dengan salah satu junior saya di kampus yang menurut saya ‘berani’ sekali. Mungkin senior lain akan menganggap apa yang dikatakannya itu kurang ajar karena perkataan itu sesungguhnya tidak sopan. Junior saya itu adalah salah satu orang beruntung yang dianggap potensial oleh seniornya, olehnya dia ditugaskan menjadi Steering Committee untuk acara paling berat dari organisasi ini. Acara itu adalah perekrutan anggota baru. Singkatnya, seorang Steering Committee itu harus punya tanggung jawab moral terhadap anggota baru yang akan direkrutnya, tapi dari perkataannya saja, dia sudah berencana akan lari setelah tugasnya selesai.

Saya menganggapnya berani mengatakan isi hatinya yang sebenarnya, tidak seperti junior yang lainnya yang kebanyakan munafik dengan apa yang dikatakannya. Namun, saya pun berpikir ulang tentang hal ini. Yang dia katakan istilah kasarnya adalah ‘rencana penghianatan’. Waktu saya di posisi itu saya tidak pernah mengatakan demikian meski hatiku ingin berhianat juga.

Persoalan ini sebenarnya adalah persoalan antara loyalitas atau kebebasan. Takdapat dipungkiri, perkataan itu akan mempengaruhi isi hati. Makanya, kebanyakan  kami yang dulunya ‘munafik’ dalam mengatakan loyalitas itu pada akhirnya menjadi benar loyal pada organisasi. Kalau saya sendiri, akhirnya menjadikan loyalitas itu adalah kebebasan saya memilih. Saya akhirnya memilih loyalitas dan menganggapnya kebebasan.

Kembali lagi, kalau dari lisannya saja sudah tidak menunjukkan bahwa dia akan loyal, maka jaminan dia akan memberikan loyalitasnya kepada organisasi itu menurut saya akan lebih kecil. Saya ragu padanya. Keraguanku adalah pada loyalitasnya, bukan pada kemampuannya. Percuma punya anggota yang potensial tapi tidak setia.

Paragraf di atas itu adalah ‘teriakan’ saya, bentuk tidak senang saya pada perilaku yang frontal menyatakan rencana penghianatan. Di sisi lain, saya tidak bisa meneriakkan ini secara langsung di hadapannya karena saat ini organisasi sedang membutuhkan bantuannya. Saya paham benar itu. Saya paham tindakan macam apa yang bakal dia ambil jika pernyataan frontalnya saya balas frontal juga. Saya paham karena dulu sayalah yang mengkader mereka. Saya gagal menanamkan nilai pada mereka. Gagal. Bantuan sebenarnya yang dibutuhkan dari dia adalah pengabdiannya di tahun depan, tapi dengan kata-katanya itu saya ragu dia akan memberikan bantuan yang sebenarnya diharapkan dari dia.

Ah, sudahlah. Sepertinya saya harus berhenti meragukan orang lain. Saya sendiri kan orang yang diragukan. Saya hanya berharap, dia bisa melihat tanggung jawab apa yang kami letakkan di pundaknya. Saya berharap sekali demikian. Analoginya, dia akan menjadi anak durhaka kepada ayahnya (saya) kalau dia tetap seperti itu. Saya harap dia akan belajar tentang apa yang berada di pundaknya selama persiapan dan selama acara ini berlangsung, harapanku adalah dia memilih jalan yang kami harapkan dia akan pilih. Tapi, kembali lagi, saya tidak ingin ada keterpaksaan dari dalam dirinya. Persoalan yang sulit. Persoalan sebenarnya adalah bagaimana menanamkan loyalitas pada organisasi pada dirinya. Ini penting, karena organisasi ini memiliki keanggotaan seumur hidup. #galau.

Iklan

15 thoughts on “Diary: Loyalitas

  1. /(^.^”) tak bisa berkata apa apa – amanah itu tanggung jawab

    jika kita sudah menerima apa apa yang sudah di amanahkan untuk kita ya mesti tanggung jawab sepenuh hati, ( mahalnya seorang yang amanah )

    /(^.^”) semoga lebih banyak orang yang menyadarinya
    tugas kita percaya dan mendukung, kalau ia menyimpang ya itu masalahnya dia bukan kita

    – hadouhhh pasti ni komen yang ngawur ya (-,-“)

    Falzart Plain:
    Itu adalah masalah saya kalau saya tidak mampu membuat dia sadar akan tanggung jawabnya. Kenapa? Karena saya lah yang memberikan kepercayaan kepadanya.

  2. loyalitas lahir dari kepahaman.
    dan tidak akan pernah lahir dari keterpaksaan.
    walaupun ada yg awalnya terpaksa tapi kemudian loyal, pastinya ada proses pemahaman yg ia lalui.
    seperti mas falzart ini mungkin 🙂

    Falzart Plain:
    Tapi, kebanyakan loyalitas yang saya lihat lahir dari pembiasaan, tentu di samping pemahaman.

  3. Wow, juniormu orangnya sangat berkarakter ya. Dia berani beda. Pasti dia orangnya sangat hebat sampai bisa ditunjuk menjadi seorang SC.

    Kalau menurut saya, sesungguhnya dia berusaha untuk jujur (dengan caranya sendiri). Dan menurut saya, sesungguhnya dia orang yang memiliki prinsip, tapi kurang. Mengapa begitu? Karena dia tidak menolak tugas itu secara tegas. Saya juga pernah mengalami punya junior seperti itu. Kalau dia bilang tidak, ya benar-benar tidak. Junior saya ini sangat hebat dan pinter, tapi dia sangat tidak peduli dengan kegiatan kampus. Mengapa? Karena dia ingin berkiprah dengan caranya sendiri, yaitu melalui prestasi-prestasi yang bisa mengharumkan nama kampus. Dan terbukti. Kami para senior sudah tidak bisa memaksanya kalau begini. Akhirnya, kami malah merasa salut dengan dia.

    Bisa jadi, juniormu bukan tipe orang yang “aku”. Bisa jadi dia memiliki sedikit kesungkanan dalam menolak, dan kurang mampu menyampaikan maksud. Jadinya ya malah pengakuan seperti itu. Mungkin saat ini dia berpikir kalau ini adalah hal terakhir yang akan dilakukannya bagi organisasi. Dia sudah tekad dan saya yakin dia akan melakukan tugasnya dengan baik.

    Tapi saya juga sependapat dengan Falzart. Kalau menurut saya, sesungguhnya dia berusaha menyampaikan sebuah sinyal yang harusnya dilihat oleh para senior. Kalau misalnya senior tidak melepaskan dia, maka senior harus menerima apa yang terjadi jika tugasnya sudah selesai. Mengapa? Karena dia sudah mengutarakannya. Jika senior tetap mengikatnya nanti, percayalah, dia tidak akan 100%. Penyiksaan baginya dan bagi organisasi.

    Oh iya, satu lagi. Memang berat melepaskan sebuah potensi yang baik bagi organisasi. Jadi, meskipun tidak memasukkan dia ke dalam organisasi, tapi tetaplah jaga hubungan baik dengannya. Dia juga akan dengan senang hati membantu organisasi dari luar.

    Wah, komentar yang panjang.
    Berhubung Falzart sekarang berada di posisi senior, coba sampaikan gagasan Falzart kepada teman-teman ketika rapat. Biasanya mereka butuh referensi dan pengingat. Falzart bisa jadi seorang pengingat bagi mereka. Falzart bisa jadi sudut pandang lain bagi mereka. Organisasi butuh orang seperti itu.

    Hidup Mahasiswa!

    Falzart Plain:
    Menurut saya, dia hanya tidak memahami ekspektasi seniornya terhadap dia. Kalaupun dia paham, sepertinya akan susah sekali baginya untuk bertahan. Kalau soal hubungan dengan anggota, akan tetap dijaga dong. Keanggotaan kami seumur hidup soalnya. Pengingat di rapat? Aduh, sudah terlalu banyak, bahkan bukan dari saya saja, tapi senior di atas saya juga sudah.

  4. Organisasi apa yang punya keanggotaan seumur hidup? jadi penasaran…..
    humm, semoga apa yg diragukan tidak terjadi…. orang bs berubah seiring berjalannya waktu…
    semoga organisasix jaya selaluu ^^

    Falzart Plain:
    Banyak kok organisasi yang keanggotaannya seumur hidup.
    Saya berharap dia berubah seiring waktu.
    Eniwey, makasih ya…

  5. Apa udah disampaikan ke senior yang lain tentang omongan dia? Mungkin ada pandangan yang berbeda dari senior lain

    Falzart Plain:
    Tidak. Saya bertaruh untuk junior saya yang satu ini. Saya tidak mau pertaruhan saya dapat ikut campur pihak lain.

  6. tiba-tiba di benak saya mucul sesosok orang yang saya kenal … *tuing tuing*
    dulu pernah juga memercayai seseorang untuk diberikan amanah karena kita lihat dia potensial dan cerdas. Tapi ternyata, pelajaran yang saya dapat … dalam organisasi, kecerdasan seseorang tidak selalu berbanding lurus dengan loyalitasnya …

    Falzart Plain:
    Tapi itulah tantangannya, bagaimana kita mengikat seorang yang cerdas itu.

  7. falzart.. terus berusaha menjadi ayah yang baik yah… semangat!!!..

    BTW, siapakah gerangan junior itu?? kita harus diskusi nih!!
    you must tell me all the story when we meet.. OK!!. (padahal tadi sore kita ketemu, tapi aku belum baca postinganmu yang ini…) hehehee…

    Falzart Plain:
    Ada deeeh…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s