[Flash-Fiction]: Teman Lama

Hujan yang datang tiba-tiba ini memecah lamunanku. Aku masih terduduk di atas pohon Oak tua ini, lama sekali. Waktu seakan mengiris-iris memori lama yang dulunya adalah satu kesatuan. Entah sejak kapan, semuanya pecah belah hingga tiada lagi kebersambungan di antara memori-memori itu. Bagiku, menelaah hidup selalu menyenangkan dan mengharukan, kecuali jika aku dilanda hujan lebat tepat di atas kepalaku ketika aku asyik melamun, seperti sekarang ini.

Aku melompat turun dari pohon Oak tua ini. Aku terjatuh meski takterluka. Aku ingat dulu ketika aku menanam pohon Oak ini, dia belum sebesar ini. Dan dulu aku tidak pernah kesulitan untuk memanjat ataupun turun dari atas pohon ini. Kini, sepertinya pohon ini telah tumbuh dewasa dan aku masihlah seorang pemuda yang tampak begini-begini saja. Ah, sudahlah. Daripada aku merenungi pohon ini, lebih baik aku mencari tempat berlindung dari guyuran tangisan langit ini.

Aku menjauh dari arah pohon itu, mencari perlindungan terdekat dari hujan, dan sampailah aku pada sebuah atap. Perlindungan sempurna dari hujan, dan melanjutkan lamunan adalah yang paling ingin kulakukan sekarang. Maka semilir angin berhembus menjadi irama pengiring bagi lamunan masa laluku yang begitu panjang ini.

Tiba-tiba, hujan berhenti begitu pula lamunanku. Namun, bukan hujan yang menghentikan lamunanku kali ini, melainkan bisikan suara yang sangat aku kenali. Sangat khas. Sembari mencoba mengingat-ingat suara siapakah ini, aku pun menyahut panggilannya.

“Siapa?”

Tidak ada yang menjawab panggilanku. Tidak ada. Meski aku telah berkeliling di sekitar tempat itu untuk mencari sumber bisikan itu, aku tidak menemukan siapa pun. Kembali aku dalam lamunanku, mengingat-ingat suara siapakah itu. Belum sempat teringat siapa, bisikan itu muncul lagi memanggilku. Resah. Itulah yang kurasakan. Aku mencari di tumpukan memori masa laluku yang demikian banyak itu. Suara ini sepertinya dulu pernah sangat akrab di telingaku dan saat ini aku bahkan tidak dapat mengingat suara siapa ini.

Menuruti kata hati, aku pun kembali ke pohon Oak tua kesayanganku itu. Aku duduk lama sembari tetap mengingat-ingat, dan bisikan itu muncul lagi. Aku lelah. Berulang kali aku mencoba mencari sumber suara itu dan tidak kutemukan. Hingga suatu saat ketika aku tidak menghiraukan bisikan itu, sesosok yang kukenal muncul di hadapanku. Sosok yang sepertinya sangat kukenal dulu dan tidak lagi kuingat namanya. Sosok itulah sepertinya yang berbisik memanggilku sekarang.

“Kau tidak menyadari panggilanku?” tanyanya tiba-tiba.

“Kau. Sepertinya aku mengenalmu…”

“Tentu saja. Kita dulu berteman baik.”

“Benarkah? Senang bertemu kawan lama kalau begitu.”

“Kau tidak berubah sama sekali. Penampilanmu terlihat sama saja.”

Aku tersenyum. Bingung.

“Aku tidak tahu itu, aku sudah lupa terakhir kali aku melihat diriku.” kataku.

Sosok itu tersenyum. Tiba-tiba naik ke atas pohon Oak dan duduk di sampingku. Gerak-gerik dan caranya berbicara benar-benar seolah ingin membangkitkan ingatanku tentangnya. Namun, aku tetap lupa siapa dia. Entah mengapa aku taksanggup mengingat siapa dia.

“Apakah kita dulu akrab?” tanyaku.

“Akrab sekali, kau tahu?”

“Hmmm… Maafkan aku tapi aku takdapat mengingatmu.”

“Kenapa baru bilang? Aku pikir kau sudah ingat lagi.” katanya tersenyum.

“Maafkan aku. Aku betul-betul lupa.”

“Baiklah, tidak masalah. Kau tidak perlu meminta maaf. Bagaimana pun waktu juga yang telah mengikis ingatanmu yang panjang itu.”

“Mungkin sedikit kurang sopan, tapi boleh aku bertanya, siapa kau?”

“Aku? Hahaha…“, katanya tertawa, “Takperlu kauingat namaku. Aku hanyalah roh sahabatmu dulu yang bersama denganmu menanam hutan Oak ini.”

“Itu, limaribu tahun yang lalu… Jangan-jangan kau…”

“Ya, akulah yang memberimu Amerta…” katanya sembari tersenyum kepadaku.

———————————————Word Count: 543—————————————————–
Cerita di atas hanya sekedar fiksi belaka, ditulis dalam rangka meramaikan Kontes Flashfiction Ambrosia yang diselenggarakan Dunia Pagi dan Lulabi Penghitam Langit.

Iklan

24 thoughts on “[Flash-Fiction]: Teman Lama

  1. blognya keren! full modif! ane paling suka kotak komennya…
    salam kenal, brad! sukses buat kontesnya ya… 😉

    Falzart Plain:
    Thanks ya. Salam kenal juga. Eniwey, soal kotak komentar saya tidak ada yang istimewa, saya membalas komentar dengan edit terus tambah blockquote yang dimodifikasi. Just simple like that.

  2. Flash fiction, selalu menarik dan bahkan sudah cukup lama belajar menulisnya tapi tetap saja ‘gagal’, karena tulisan yang kubuat bukan saja panjang dan lebar, tapi tak jarang ngambang.

    Semoga sukses di GA. segera ke TKP, siapa tahu bisa berpartisipasi di sana.

    Falzart Plain:
    Iya, Mas. Coba deh ikutan. 😀

  3. d(^.^”) huahhhhhh ceritanya keren ya, di bawa masuk ke dalam cerita – imajinasinya bener bener keren d(^o^)b

    Semoga Suksess untuk Kontes Give Awaynya Bang Falzart /(^o^”)

    Falzart Plain:
    Siapa yang terbawa? Cepat tolong dia!! Hehehe… Eniwey, makasih Bang Eko.

  4. Fiksi yang memunculkan banyak interpretasi 😀
    bisa jadi “aku” dalam cerita ini juga adalah roh shg bisa bercakap dg roh kawan lamanya,
    bisa juga “aku” adalah reinkarnasi seseorang yang pernah menjadi sahabat roh itu dulu,

    di K banyak yang nulis F100K (flash fiction 100 kata)
    boleh di coba tuh kak 🙂

    Falzart Plain:
    Tapi kan ada kata Amerta di akhir cerita. Itu lho… minuman para Dewa yang menjamin keabadian.

  5. membaca tulisan ini jadi ingat bukunya antoine de expuery yang judulnya pangeran kecil. karena ada sedikit persamaan. itu menurut saya loh… dimana letak persamaannya? hmmmmm kasih tau ga ya?! hehehehehhe

    Falzart Plain:
    Apa itu Antoine de Expuery? Jadi ada yang sudah pernah bikin duluan yang begini? Wah! Kok bisa?
    Samanya di mana Mbak?

  6. Eh, saya ngerasa pernah ngebaca adegan yang mirip dengan ini di sebuah buku novel… tidak sama, jelas, tapi benar-benar mengingatkan akan adegan di novel tersebut. Sepertinya sebuah novel dari jaman saya SMP.

    Adegan ini benar-benar grafik, benar-benar visual pendeskripsian adegan dalam flash fiction. Benar-benar bisa terbayangkan, terimajinasikan. Dan karena membacanya juga merasa penasaran, gak mengerti, jadi bisa terhubung dengan si tokoh utama yang juga bingung dan tidak mengenal/tidak mengingat siapa tamunya tersebut 😀 Keren!

    Falzart Plain:
    Wah, benarkah? Benar ada miripnya? Wah… padahal saya nggak mencontoh apapun lho (refleks)…

  7. di sekitarku sini banyka sekali pohon oak, gede gede kayak raksasa … nggak tahu ya apa sama oak di sini dgn oak yg kamu ceritakan di atas

    Falzart Plain:
    Padahal saya ngambil inspirasinya dari postingan Oak-nya Mbak Ely dulu… 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s