Diary: Rese’

Hari ini saya mengalami hal yang sangat rese’ sekali. Wah, tidak tahu bagaimana menggambarkan ke-rese’-an ini dengan kata-kata, saya hanya bisa mengungkapkannya secara sederhana melalui tulisan. Adik saya, si Jombreng, yang [seharusnya] sedang gencar-gencarnya belajar menghadapi perhelatan hidup terberat di usianya, malah asik meledek kakaknya.

Saya sebenarnya tidak begitu paham apa arti kata rese’ itu sendiri. Namun, sejauh yang saya pahami tentang kata rese’ itu sendiri adalah bahwa rese’ itu berarti menjengkelkan, merepotkan, mengesalkan, dan sebagainya. Entahlah, saya juga sudah mencari referensi tentang arti kata rese’ itu sampai saya mendapatkan referensi yang lumayan, meski tidak begitu lugas mengatakan apa artinya rese’ itu.

Kembali ke Jombreng, adik kesayanganku yang ketiaknya sudah berambut. (Seingatku dia dulunya adalah adik lucuku yang saya kerjai dengan memasukkan kantong plastik ke dalam celana dalamnya, terharu mengenang masa lalu). OK. Jadi, singkat kata, si Jombreng ini sudah kelas XII, dan sebentar lagi akan Ujian Nasional. Berhubung Jombreng ini orangnya sangat koleris banget, dia itu paling tidak bisa dipaksa untuk sesuatu yang dia tidak inginkan. Tahu apa yang paling dia tidak inginkan? Belajar. Dan tahu apa yang paling dia inginkan? Main game dan mengganggu saudara-saudaranya.

Melihat saya keasikan di depan netbook seharian, dia sepertinya tidak tenang. Ini reaksi normalnya kalau melihat saudaranya sedang tenang-tenang. Dia tahu kalau saya blogging. Dia tahu, tapi tidak penasaran. Yang dia inginkan saat melihat saya mengetik postingan adalah saya merasa gelisah. Jadi … ini dia aksinya.

Pertama, dia mengendap-endap mau megang kakiku, ternyata dia nyabutin bulu kakiku. Whaa!!! Jadi, saya kejar dia ingin membalas hal yang sama. Akan tetapi, bulu kakinya belum ‘kasar’, masih bulu kaki ‘halus’. Memangnya saya peduli? Saya cubit dan berharap mendapatkan beberapa helai bulu kakinya meski jelas tidak dapat. Tapi, saya yakin itu membuatnya tobat. Yakin sekali, karena kemudian saya berpikir untuk apa jambak bulu kakinya, bagaimana kalau rambutnya saja? Dan, voila, dia kapok.

Gangguannya tidak selesai hanya sampai di situ. Dia nempelin upilnya ke leherku. Jelas nih anak ngajak sparing. Ya, kami sparing deh. Selalu, kalau persoalanΒ sparingΒ dia pasti menang. Kenapa? Meskipun saya dan dia sudah sama tinggi dan sama besar meski tidak sama tua, dia tetap SELALU bertingkah kanak-kanak. Kalau dia nendang kakinya kutangkap dan mau kubanting, dia jerit-jerit duluan (pelindungnya adalah ayahku. Hukumnya: Kakak selalu salah, kakak harus mengalah). Terus, pas saya yang nendang, dia putar saya sampai jatuh. Huh. Rese’.

Setelah keringatan, dia istirahat dulu, dan saya kembali ke depat netbook. Di saat inilah gangguan paling rese’-nya bermula. Dia mengendap-endap ke belakangku dan membaca apa yang saya ketik dengan keras. Gila. Kalau sudah di-publish ini memang boleh dilihat umum, Bung. Tapi selama ini belum di-publish, ini privasi! Kurang kerjaan nih si Jombreng, terpaksa saya keluarkan jurus maut. Saya juga teriak keras biar ayahku dengar: “Joom, ini buku UN-muuu! Kenapa disembunyi??” *Jlek, dia langsung stand-by kembali ke meja belajarnya karena itu pertanda kalau ayahku akan cek lokasi. Mengecek siapa anaknya yang berbuat ulah. πŸ˜†

Tapi, setelah ayahku pergi dari mengecek lokasi kami, Jombreng kayaknya ngajak sparing lagi. Jadi, posting-nya gak jadi. Keringatan justru yang didapat. Halah… Jadi ingat dulu dia lucu-lucunya bisa dipeluk-peluk (dan dibanting-banting), sekarang dia ngomongnya ngawur terus, tapi kata-katanya lucu. Jadi, dia tetap adalah adikku yang lucu. Kayaknya dia sedang dalam masa ‘labil’. Terus, mungkin ini juga yang membuat respon keimutan saya turun drastis.

Iklan

20 thoughts on “Diary: Rese’

  1. itulah asyiknya jadi anak bungsu!
    hukumnya memang demikian: 1. anak bungsu selalu benar 2. Jika anak bungsu salah, liat poin 1 haha πŸ˜†

    selamat jadi kakak yang baik, bang Falzart!
    kalau nakal, saya kasih upil entar hahaha πŸ˜†

    Falzart Plain:
    Masalahnya si Jombreng itu bukan anak bungsu… Huh…

  2. upil??? benda keramat itu? πŸ™„
    ehm, waspada tuh sama adeknya “jombreng” (nama yang kharismatik) cuz keimutan kita jadi rawan untuk menurun bro.. πŸ˜†

    Falzart Plain:
    Upil adalah senjata keramat kami yang biasanya digunakan untuk mengusir orang yang sedang tenang-tenang. Huh…

  3. simbolnya kek kamen rider bro.. kocak dah, klo adek ane kek gitu udah ane hajar abis-abisan, untungnya stlgh lulus SMA, ane ama adek sama2 “dewasa”.. alias jarang jail2an.. ngurus urusan masing2..

    salam kenal sebelumnya..

    Falzart Plain:
    Salam kenal juga… πŸ™‚
    Kamen rider? Hahaha… Kayaknya blognya Mas gogo yang kayak kamen rider deh.
    Si Jombreng kan udah saya habisin kemaren.

  4. Wah seru ceritanya, mas. Saya juga anak sulung yang sering di-rese-in sama adik-adik. Nggak jarang kita jadi berantem beneran lho. Kalau masih jaman SD dulu, mesti sampai ada yg nangis tuh. Ujung2nya, ayah kita datang sambil menjewer kuping saya…. Ah…. kenapa mesti anak sulung aja yang salah ya….

    Falzart Plain:
    Ya, karena anak sulung biasanya dianggap lebih dewasa, Bli. Hehehe…
    Waktu kecil saya jarang berantem, tapi si Jombreng sering.

  5. =)), wah bulu kakimu berarti kasar ya bang falzart *heheheheh v(^o^”) pissss
    upilll wah dapat harta kok marah marah sih *fufufufufu

    tapi hebat juga masih menyimpan jurus pamungkas,

    dan yang paling keren dari semuanya liat si jombreeng di bugggg di chibi chara – kerennnnn

    d(^o^”) – postingan ini menguras tenaga dan auraku, haduhhh *capeee ketawa.

    semangatttt *\(^o^)/*

    Falzart Plain:
    Jangan ketawa mulu bang… Nanti keselek. Hahahaha…

  6. – Tahu apa yang paling dia tidak inginkan? Belajar. Dan tahu apa yang paling dia inginkan? Main game dan mengganggu saudara-saudaranya.
    hahahahahhaha. . . . . . inspiratipppp!!!!! πŸ˜†

    adiknya lucu bangeeetttt. . . . . πŸ˜€
    persaudaraan yang indahhhhh πŸ˜€
    SANGAT INDAHHHHH πŸ˜€

    Falzart Plain:
    😐 Lucu? Setelah saya pikir seribu kali saya baru bisa dapat kesimpulan itu… Hahahaha…

  7. ahahahahah kocak dah,, sering berantem itu tandanya kompak πŸ˜€
    tapi sumveh rese bener nempelin upil ke leher -_____-“

    Falzart Plain:
    Sejauh ini perbuatan paling rese adikku waktu itu adalah peristiwa serangan upil (versi pembaca). Hahaha… Kalau dibilang kompak sih, nggak tahu ya… Nggak tahu apa pembandingnya soalnya sih…

  8. hukum ini “Kakak selalu salah, kakak harus mengalah” bener banget!!!! >,<
    jadi skrg aku mengubah taktik Fal, sebelum diisengin yang ujungnya aku yg diomelin juga, mendingan aku duluan yang mulai ngisengin hahahahaha πŸ˜€

    Falzart Plain:
    Mbak tahu nggak, kadang-kadang adik itu ‘kangen’ diisengin sama kakaknya. Hehehe…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s