Diary: Panggilan Alam

Pagi buta, suatu waktu yang biasanya terasa begitu menyenangkan bagiku untuk duduk di hadapan layar netbook kesayanganku. Entah apa yang menyebabkan di waktu ini, koneksi internet terasa menyenangkan dibandingkan dengan waktu-waktu yang lainnya. Ya, setidaknya aku merasa ini adalah waktu yang tepat untuk menuntaskan segala urusan terkait internet ini dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Maka berinternet ria pun aku mulai. Kujejaki satu per satu halaman web yang tertunda kukunjungi kemarin. Dan, ah, ketika sampai di suatu halaman web, penyakit koneksi ini pun muncul kembali.

Bahkan membalas komentar pun menjadi sedikit sulit, maka kuputuskan untuk sejenak meninggalkan jejak melalui sebuah posting untuk selanjutnya beranjak pergi menuntaskan urusan dunia nyata dengan tenang. Akan tetapi, ternyata tidak ada yang bisa berjalan lancar dengan koneksi yang tidak bisa diajak kerja sama ini. Tiba-tiba saja aku ingin teriak lepas merongrong pencetus penderitaan takhingga ini. Aku ingin memarahi dan memaki-maki modem yang kubeli dengan uang tabunganku sendiri ini, meski pada akhirnya aku sadar kalau modem ini memiliki kekurangan. Ya, modem ini tidak punya telinga untuk mendengarkan keluh kesahku, jadi percuma aku memakinya.

Aku tidak begitu mengerti soal koneksi internet maupun teknologi lainnya. Yang aku mengerti adalah bahwa hari ini aku harus memposting sesuatu yang ada di pikiranku sekalipun itu adalah hal terbodoh yang tidak akan diceritakan seorang pun. Dan hasrat itu selalu terkendala oleh hasrat lain yang menggebu-gebu di pagi hari, panggilan alam. Halaman-halaman web yang terbuka dengan lingkaran yang takhenti itu selalu kutinggalkan sementara untuk panggilan sangat mendesak ini. Maka tatkala aku kembali dari panggilan alam itu, koneksi pun menghilang.

Hah, bego rasanya nungguin netbook yang lelet ini. Bahkan bisa dikatakan ini sudah lelet kuadrat dengan modem yang nggak bisa diajak kerja sama. Intinya itu, saya mau memposting yang di atas itu, tapi rasanya agak pegal pakai kata-kata aku. Biasanya saya nggak pernah pakai kata ‘aku’, kok. Biasanya saya menggunakan kata saya (ternyata ininya yang bikin pegel). Hah, sudahlah.

Yang jelas, sama dengan kemarin nih deritanya. Lemot, lemot, deritanya tiada akhir. Mungkin andaikan internet sudah ada pada jaman Jendral Tieng Feng, dia akan lebih tergila-gila pada internet daripada kepada Dewi Chang E (kesalahan nama mohon dikoreksi). Dan andaikan memang itu terjadi, saya yakin, Cu Pat Kai a.k.a Jendral Tieng Feng akan turun sebagai siluman Netbook atau siluman Modem, dan bukannya siluman Babi. Halah… ngomong apa sih saya ini.

Keseluruhan posting ini adalah curhat, bagian atas adalah karya seni, dan bagian bawah adalah karya setelah buang air seni (lho?). Pokoknya begitu. Mohon maaf kalau masih ada komentar yang belum saya balas dan kunjung balik, soalnya penyakit modem saya ini bawaannya pengen nempel terus.

Saya sedang apa? Hoho, saya sedang libur menunggu kuliah lagi bulan Maret nanti. Yap, saya bakalan lebih telat lulus lagi dari ekspektasi (yang ekspektasinya saya kelar jadi mahasiswa preklinik bulan Maret nanti), tapi saya akan tetap nikmati saja, inilah hidup. Mungkin sebuah hikmah yang bisa ditarik dari koneksi yang lemot di hari penantian kuliah adalah bahwa saya harus belajar materi kuliah itu sebelum waktunya, kesempatan itu adalah sekarang. Mumpung masih ada waktu.

Eniwey, dari kemarin saya menanti coklat, gak ada yang ngasih kayaknya. Huh… Kayaknya aneh, ada yang dikasih coklat ada yang tidak. Yang paling aneh teman-teman yang dikasih coklat itu nggak bagi ke saya. Hahay… (tahu kan coklat maksudnya apa?) Jadi penasaran, memangnya Jendral Tieng Feng dulu pernah dikasih coklat gak ya?

(demi kemanan admin, postingan ini tidak dilanjutkan lagi, dikhawatirkan bahasanya akan lebih ngelantur lagi)

Iklan

16 thoughts on “Diary: Panggilan Alam

  1. wahahahaha bang falzart bisa aja – air seni di bawa bawa

    aduhhh khayalannya sampe ke jendtral tien veng segala ( cu patkai )

    d(^o^”) – wah senangnya melihat karya seni di pagi hari, tapi bukan yang air seni loch – saya ambil karya nya aja

    \(^o^)/ – welcome back

    Falzart Plain:
    Hahaha… yang jadi titik tekan malah di situnya ya? Ini karya seni lho….

  2. “Jangan salahin aku, salahin provider yang diselipin di badanku dan salahin kamu sendiri yang milih paket unlimited paling murah,” ujar modem geram πŸ‘Ώ

    Falzart Plain:
    “Hai modem taktahu diri! Tahukah dirimu bahwa provider pilihanku adalah provider yang terbaik menurut sepengetahuanku? Banyak orang telah membuktikannya dahulu, kau harus tahu itu! Dan tahukah kau bahwa paket yang kubelikan untukmu adalah paket termahal yang ada di opsi tarif tagihanmu? Dan tahukah kau kalau itu semua menggunakan uang saku bulananku? Sungguh, aku merasa kau ini modem taktahu diri.” ujarku membalas sang modem.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s