Diary in Flash Fiction: Cemburu

Sebenarnya saya tidak tahu ini masih layak disebut Flash Fiction atau tidak, tapi anggap saja begitu :-D. Word Count: 773

Mendengar nama orang itu disebut membuatku geram setengah mati. Aku kesal dan cemburu. Entah mengapa aku sangat tidak suka mendengar namanya disebut untuk menggoda si gadis itu. Aku cemburu! Cemburu sekali! Napasku berirama panjang di tiap tarik dan hembusnya sementara mataku melotot dalam gelap. Sudut-sudut mataku memancarkan kebencian dan kecemburuan, sementara gigiku menggertak di geraham menyimpan kekesalan. Aku cemburu. Benar-benar cemburu.

“Merah, hentikan itu!”

“Tidak, kali ini aku sedang benar-benar cemburu. Aku marah!”

“Pokoknya hentikan itu! Aku takkan membiarkanmu merusak nama baik kita di luar.”

“Biar saja! Toh, gosip telah beredar bahwa aku menyukai gadis itu.”

“Merah, kau harus dihentikan sebelum amukanmu keluar…”

“Hentikan aku jika kau bisa, Hitam…”

Kedua sisi diriku itu pun bertarung selama sekitar sepuluh menit sampai keduanya lelah. Mereka lelah untuk saling bertarung, tapi si Merah tetap ingin marah. Nama laki-laki itu bergema di kepalaku dan setiap gemanya membangkitkan kecemburuan si Merah.

“Merah, hentikan itu! Kau tahu kau tidak akan bisa melakukannya!”

“Diam kau Hitam! Kau yang membuatku begini! Kau itulah yang di luar sana selalu takut bicara sehingga orang-orang menilai kita seperti ini!”

“Merah, kalau aku membiarkanmu bicara di luar sana, maka kau akan malu setengah mati. Itu sudah sering terjadi.”

“Tapi… Aaaarghhh… aku sangat marah!!!”

“Merah, aku tahu kalau tugasmu adalah menyimpan emosi, makanya kaulah yang merasakan marah, sedih, cemburu, dan sebagainya. Tapi kau juga paham tugasku, kan?”

“Diam kau, Hitam! Lepaskan cengkramanmu itu dan biarkan aku berontak. Kali iniii saja!!”

“Tidak, Merah. Tugasku adalah menjaga imej kita di luar sana. Tugasku adalah memikirkan yang terbaik untuk kita ke depannya, dan perbuatanmu selalu tidak berefek bagus. Kau mengerti?”

“Lepaskan akuuu!!! Hitam, kau hanya bisa merasakan takut terus-terusan, itu saja yang bisa kau rasa. Makanya kau tidak tahu betapa aku cemburu kali ini!”

Mereka saling bertarung saling menahan. Si hitam hendak menjaga keadaanku tampak normal dan biasa saja, sementara si Merah ingin sekali melontarkan kepalan tangan ke wajah orang yang menggoda gadis kesukaanku dengan menyebutkan nama lelaki itu. Mereka berdua tahu ini hanya candaan semata, tapi itu membuat kondisiku sangat tegang, hendak marah tapi menahan diri.

“Merah, sebaiknya kau tenang. Hitam, lepaskan dia.”

“Apa lagi dalihmu, Hijau? Apa kau tidak tahu kalau aku sedang cemburu?”

“Aku tahu persis, kita bertiga ini tidak terpisah jadi tentu saling tahu.”

“Jadi, kau akan menghalangiku juga? Hah?”

“Ya, … tapi Merah, kenapa kau marah?”

“Aku tidak suka gadis itu digoda begitu.”

“Itu hanya main-main, kau tahu itu kan?”

“Main-main yang menyakitkan hati. Kau harus sadari itu, Hijau!”

“Aku adalah tempat analisa masalah, Merah. Kau harus dengarkan aku dulu sebelum bertindak.”

“Baiklah. Jelaskan alasanmu!”

“Wajar kan kalau gadis itu digoda dengan menyebut nama lelaki itu? Lelaki itu kan pacarnya.”

“Apa? Kau hendak membuatku naik pitam lagi, ya? Hah?”

“Hitam, tahan dia dulu. Aku mau lanjutkan penjelasanku dulu.”

“Baiklah. Kau dengar Merah? Aku akan membungkammu kali ini, dua lawan satu…”

“Tidak, Hitam. Kita tidak akan membungkam Merah, dengarkan aku. Kita bertiga telah berprinsip untuk tidak pacaran bukan?”

“Ya… kurasa…”

“Diam kau, Hitam!! Lanjutkan, Hijau!”

“Imej kita di luar rusak dengan mengamuk begitu, tapi bagiku bukan itu masalahnya. Masalahnya adalah kau akan melanggar prinsip, dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi.”

Merah merenung lama. Kemudian, gerahamnya menggertak lagi. Dia mendengus, kemudiam menyerahkan kendali diriku kepada Hitam. Emosinya seketika berubah, dari marah menjadi tenang, meskipun tidak dipungkiri masih ada kesal bersemayam.

“Hitam, memegang kendali imej adalah tugasmu. Harus kuakui yang dikatakan Hijau itu benar. Aku mengalah.”

“Akhirnya kau mengerti Merah, kita sebaiknya terus seperti ini saja, jangan berubah, jika kau keluar akan memperkeruh masalah dan…”

“Kalian berdua ternyata sedikit lupa pada tujuan kita ya, Merah, Hitam?”

“Oh ya, tujuan itu. Tujuan yang selalu kau doakan. Aku akan sangat emosi sekali kalau itu nanti tidak tercapai.”

“Ya, tapi menurutku tujuan itu akan kita dapatkan dengan sendirinya jadi tidak usah melakukan apa-apa, nanti imej kita buruk. Masa kita pacaran? Atau mendekati pacaran? Kalian gila?”

“Hahaha… Kita sadar kalau kita menyukai gadis itu sedari dulu sekali dan kita tidak akan biarkan rasa ini berakhir di pacaran saja. Kita akan menikahi dia nanti, tapi aku tidak bisa melakukan apa-apa untuk tujuan kita ini selain mengingatkan karena…”

“…karena dorongan semangatmu berada padaku. Itu tugasku.”

“Tapi, mood juga ada padamu dan itu membuatku sial dengan imej ini.”

“Hentikan itu Hitam sialan! Kau sendiri sering keliru mengatur imej kita kan?”

“Tapi itu karena pengaruh doronganmu, Merah. Itu pengaruh emosimu! Jadi itu salahmu!”

“Sudahlah, sepertinya kalian akan bertengkar lagi, tapi tugasku sudah selesai. Waktuku untuk kembali diam.”

Aku diam dan emosiku mereda. Aku pun menjadi lebih rileks lagi, dan terus duduk santai di tempatku. Tarik hembus napasku pun kembali normal. Sejenak aku berpikir kembali, ternyata sudah lama aku tidak merasa cemburu. Waktunya kembali mengejar cita-cita.

Iklan

21 thoughts on “Diary in Flash Fiction: Cemburu

  1. imajinasi tingkat tinggi šŸ˜€
    khas kak Falzart šŸ˜€ hehehehhe

    – sepertinya kalian akan bertengkar lagi, tapi tugasku sudah selesai.
    —-> hehehehhee. . . . . speechless dah! šŸ˜†

    Falzart Plain:
    Jadi khas saya menurut versi Ichan adalah membuat speechless, ya? Hehehe…

    • hahaha. . . akhirnya ada yang panggil Ichan šŸ˜€ šŸ˜€ šŸ˜€

      ya, kak Falzart itu satu ordo sama Raditya Dika šŸ˜†

      Falzart Plain:
      Ordo? Wah… parah nih istilahnya, Ichan… Jangan Ordo, dong… (komentarnya barusan menyatakan bahwa saya ini ‘homo’ tapi bukan sapiens) Saya tersinggung… šŸ˜†

  2. kok otak kamu bisa gitu sih Fal? maksudnya nulis ttg hitam, merah, hijau… ngga belibet, berantem pula, hadeuuhh pusing itu nulisnya
    sukurlah udh tenang skrg, ngga perang2an lagi šŸ˜€

    Falzart Plain:
    Waktu saya labil dulu, mereka bertiga saya identifikasi keberadaannya, jadi sekarang kalau mau nulis tentang mereka cukup saya rasakan saja keberadaannya… (sudah terbiasa dengan ketiga mereka itu)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s