Diary in Flash Fiction: Bersalah

“Ini salahmu…”

“Ya, ini salahku. Maafkan aku, bukan maksudku untuk…”

“Apa yang kalian bicarakan? Hitam, jangan meminta maaf! Hijau, berhentilah menyalahkan!”

“Apa maksudmu? Sekarang semuanya telah terjadi, apalagi yang bisa kita lakukan?”

“Apakah kau tidak mengerti kalau kita semua tengah kebingungan, ha? Berhentilah menyalahkan!”

“Kalau begitu ini salah kalian berdua karena tidak mendengar nasehatku.”

“Berhentilah Hijau! Kalau begitu ini adalah salahku, jangan salahkan Hitam!”

“Jangan mengambil alih rasa bersalah, itu tugas Hitam! Tugasmu adalah memberi semangat, bukan untuk merasa bersalah!”

“Hijau… Merah… kalian jangan bertengkar… aku yang salah…”

“Aku berkali-kali lipat merasakan rasa bersalahmu, sumber rasa adalah padaku, Hitam. Jangan merasa bersalah lagi. Ini salahku.”

“Aaarrgghhh!!! Ini semua salah kaliaan! Aku tidak peduli apa yang kalian rasakan, tapi ini salah kalian!”

“Hijau, apakah kau tidak merasa bersalah?”

“Tidak. Aku sudah menasehati kalian!”

“Mengapa kau egois tidak merasa bersalah juga? Kita adalah satu, Hijau. Lagipula yang seharusnya egois itu adalah Aku.”

“Merah, menurutku kau justru sangat egois dengan tidak mau disalahkan!”

“Kalau begitu setidaknya berhentilah berkata ‘kalian’ atau ‘kau’, karena kita bertiga adalah satu orang.”

“Merah, sialan. Bisa-bisanya kau lebih bijak dari aku.”

“Aku mengerti Hijau. Aku mengerti mengapa kau marah.”

“Terus, bagaimana solusinya? Apa kau sudah memikirkannya?”

“Hijau, berhentilah menyalahkan! Memikirkan solusi itu adalah tugasmu! Bukan menyalahkan!”

“Percuma saja, kalau dorongan tidak kau berikan untuk mendukung solusiku, Merah!”

“Hijau, Merah, berhentilah saling omel… Ada orang datang, kita harus menghilangkan wajah bersalah ini untuk saat ini.”

“Apa? Aaarggghhh… Kalau begitu, Merah, lakukan tugasmu! Atur mood sekarang, pindahkan mood bersalahmu ke mood biasa. Aku masih ingin menelusuri alur kesalahan kita, jadi Hitam, dominasi penampilan sekarang. Tetaplah tampak tenang.”

“Huh, dasar Hijau. Kau hanya bisa memerintah dan menyalahkan saja.”

“Menurutku, kita harus menuruti Hijau karena kita akan tampak buruk sekali kalau sampai terlihat dengan raut wajah begini. Merah, bantu Aku.”

Lelaki itu datang menghampiri, “Zart, terlambat bangun, ya? Kuliah sudah selesai barusan.”

“Oh, iya. Semalam aku begadang.”

“Jadi, sudah berapa kali kau bolos? Kalau begini terus, nilaimu terancam ‘E’ lagi. Kapan kau selesai kalau begini terus?”

“Hah, itulah, sampai saat ini aku belum memikirkan solusinya, kawan.”

“Menurutku kau terlalu santai.” katanya sambil berlalu.

Iklan

22 thoughts on “Diary in Flash Fiction: Bersalah

  1. Tidak ada gunanya jika saling menyalahkan,,,karena lebih baik mengkoreksi pribadi sendiri.

    Lebih baik memafaakan kesalahan daripada mencari siapa yang salah.

    Falzart Plain:
    Lha, mereka satu orang sebenarnya…

    • Heheh katanya nihh solusi bisa bermunculan saat kita bertindak.. πŸ™‚
      Cukup do and solusi urusanNYA..
      Kaloo mau dipikirin aja.. Kapan dapetnya.. Ya kudu bertindak segera.. *ini kata bang Ippho* wkwk πŸ˜€
      Di jamin dah saling menyalahkan and perang batin bakal jauh2.. πŸ˜€ β€Žβ€‹β€‹β€Žβ€‹β€‹β€‹β€Žβ€‹β€ΎΖͺ(β€ΎβŒ£β€Ύ )> *pesanuntukdirisendiri*

      Falzart Plain:
      Masalahnya yang ngasih saran selalu si Hijau. Si Merah harusnya mendorong si Hitam supaya berusaha menjalankan saran itu, tapi mereka tidak terintegrasi…

  2. nah tuch diakhir bisa bekerja sama – kenapa masalahnya tidak diakurkan dengan kerja sama antar ketiganya d(^o^”) – semangat jangan dibiarkan berlarut larut /(^.^”)

    Falzart Plain:
    Karena begini: Ada pembagian tugas antara ketiganya, ketika ketiganya tidak sinkron, bisa terjadi kerusakan, entah itu ledakan emosi berlebihan, minder dan mengasingkan diri, atau jadi NATHO (no action thinking only)… Ketika ketiganya sedang sinkron, artinya sedang terjadi manajemen diri dan manajemen emosi yang bagus.

    • Itulah asyiknya seorang Phlegma, tak pernah mau menyalahkan orang lain, meski dalam keadaan terusudut … <— halaaah, geje ini #abaikan

      Falzart Plain:
      Tapi kalau dipikir lebih lanjut, sepertinya memang ada yang salah… Mungkin Bang Elfarizi yang salah nih… πŸ˜†
      <<–gaje juga #abaikan

    • total banget penggalian karakternya πŸ˜€
      aku suka πŸ˜€

      entahlah, hijau seperti terkontaminasi warna lain,
      atau dia bisa berubah warna?! hehehe πŸ˜›
      atau mereka bisa juga saling bertukar warna,

      β€œMerah, sialan. Bisa-bisanya kau lebih bijak dari aku.”
      hehehehehhehe πŸ˜€

      Falzart Plain:
      Tiap warna saling mempengaruhi, apalagi kalau sedang dalam satu rasa. Merah memang mengendalikan emosi, tapi bukan berarti Hijau tidak bisa marah. Sebenarnya, Hijau di sini hanya sedang ‘frustasi’ karena tugasnya adalah berpikir, tapi sisi warna yang lain tidak mendukung. Hehehe… (awalnya saya bingung, yang marah ini Merah atau Hijau, ternyata setelah saya telusuri pikiran saya lebih jauh, Hijau yang marah dan Merah adalah ‘counter’-nya, terbalik dari kondisi biasanya)

  3. tapi setau saya hijau dan merah ga jadi berantem,, soalnya dipisahin sama ungu. tapi karena ungu-nya harus maen di inbox sctv, jadi hijau sama merahnya berantem lagi

    Falzart Plain:
    Ehem… Ini bukan grup band, Oom, bukan… πŸ˜†

  4. jujur aku masih bingung,walau dua kali ku coba membacanya(*otak ku belum nyampek kali ya*)heee
    but,bisa terik kesimpulan kalo itu pergolakan jiwa satu yang banyak memiliki karakter tak terkendali(*gakmudeng juga saya ngomong apa neh:lol)
    salam kenal bro(*sister)

    Falzart Plain:
    Salam kenal…
    Pergolakan takterkendali? Hehehe… itu sebenarnya tugas sisi jiwa yang lain untuk mengimbangi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s