Diary: Antara Modem dan Warnet

Tahu tidak, kapan waktu menjadi sangat berharga bagi saya? Itu adalah saat-saat di mana saya harus membayar untuk sekedar daring (online). Untuk yang belum tahu apa artinya daring, daring itu adalah bahasa Indonesia yang baik dan benar untuk istilah online dalam bahasa Inggris.

Saat menuslikan posting ini saya sedang berada di warnet. Kenapa pasal? Modem saya yang terkutuk itu sedang dipnjam sama ayah saya yang ternyata juga nge-fans sama modem terkutuk itu. Gila. Modem itu kan modem super, maksudnya modem super lambat. Masih ada saja orang yang senang pakenya. Ya, sebenarnya memang tergantung lokasi dan waktu penggunaan, sih. Kalau di rumah, kecepatan koneksinya memang seperti kura-kura keseleo yang sedang rematik sekaligus, tapi kalau di tempat tertentu seperti di kampus, atau di sekolah tertentu, sinyalnya lumayan, bisa menyaingi kecepatan kura-kura yang tidak rematik lah.

Waktu juga berpengaruh. Misalnya saja, kalau daring subuh-subuh, sinyal terasa lebih lancar dibandingkan dengan tengah malam. Makanya biasanya saya paling senang daring pada jam pagi dibandingkan dengan malam. Sudahlah, tidak penting, kenapa malah jadi ngomongin modem?

Ketiga paragraf di atas ternyata telah saya ketik selama tujuh menit. Lumayan lama, ya? Kenapa bisa saya perhatikan yang begitu kali ini? Jawabannya adalah, saya mengetik sambil lihat jam di billing warnet yang ada di desktop. Jadi kayak kebelet apa gitu. Wah, pokoknya begitulah.

Rencananya, saya memang mau daring hari ini, menunggu ayahku pulang untuk menagih balik modemku, tapi sampai siang, ayahku belum juga pulang. Jadi, ya, apa boleh buat, saya sudah kangen berat sama blog ini, jadi saya pergi ke warnet untuk posting. Waduh, kayak orang kasamaran saja, sehari takbertemu serasa 24 jam.

Sudah dulu, ya… Kapan-kapan saya balas komentarnya (maaf belum sempat, nih), karena sambil menulis postingan ini saya sambil diburu waktu, istilahnya kebelet. Nanti kalau modemku sudah balik, baru saya kunjung balik juga. πŸ˜€

Iklan

22 thoughts on “Diary: Antara Modem dan Warnet

  1. hahhaa.. pas kuliah dulu juga sering deg2an gitu kalau onlen di warnet..
    maklum anak kuliahan duitnya cekak.. takutnya bill warnet melebihi jatah, ga beli makan nantinya dong

    Falzart Plain:
    Hahaha… saya kalau lagi di kampus juga begitu. Tapi biasanya saya prioritas daring daripada makan. πŸ™‚

  2. warnet is de bes
    *nasib ga punya modem πŸ˜€

    **kalau komen ini sudah dibalas, pasti artinya modem “terkutuk”nya sudah kembali πŸ™‚

    Falzart Plain:
    Ya, si terkutuk tersayang sudah balik… πŸ™‚

  3. Weh, saya juga bermasalah dengan koneksi modem yg naik turun nih, Sob. Akhirnya harus pindah provider yg mana lagi. Sebenarnya udah banyak nyoba, dan ini yg paling baik di antara yg lain. Tapi masih belum memuaskan. Padahal tarifnya udah mahal. Yah, tapi masih untung lah masih bisa dipake buat ngeblog, hehe….

    Falzart Plain:
    Saya teteup di provider sialan ini… 😳

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s