Diary: Satu Maret

Tidak ada yang istimewa dari tanggal satu Maret. Itu hanya peringatan. Peringatan bahwa waktu semakin cepat berlalu, pisaunya makin dekat dengan urat leher, dan sisanya semakin sulit diharapkan. Hanya saja, selalu ada bisikan bijak yang mengatakan kepadaku bahwa tidak pernah ada kata terlambat untuk belajar. Ya, kadang saya sepakat, dan kadang pula tidak sepakat. Ini didasarkan pada pengalaman masuk kelas terlambat. Hhmmm, pernah satu kali saya terlambat dan diperintahkan oleh dosen untuk ‘tutup pintu dari luar’, maka setelah kejadian itu bunyi bisikannya seolah ingin berubah menjadi: jika kau terlambat maka kau celaka.

Terlambat sudah, sekarang sisa duabelas hari lagi untukku berubah. Ini janji. Saya sudah mengikrarkan janji ini sejak berbulan-bulan yang lalu yang kusebut sebagai ‘The 287 Days Planning’, yang isinya supaya diriku ini berubah dalam jangka waktu tersebut. Dan ternyata, sampai ‘Twelve Days Left’, saya belum apa-apa.

Awalnya kupikir 287 hari adalah waktu yang tepat untuk mengubah segalanya. Saya pikir, selama 287 hari saya bisa mengubah diriku yang malas, kupikir selama jangka waktu itu saya bisa merestorasi gaya belajar dan beribadahku, dan yang paling penting kupikir selama waktu itu saya bisa menghilangkan bayangan ‘gadis pertama’ dalam pikiranku. Ternyata, saya salah. Yang terjadi justru kebanyakan stagnan, bahkan untuk perkara terakhir tadi, saya justru menciptakan bayangnya lagi setelah dia hilang. Parah.

Sudahlah, hari ini biarlah menjadi hari penyesalan. Kenyataan membuktikan bahwa bukanlah saya yang mengubah diriku, tetapi Tuhan-lah yang mengubahku dengan cara menciptakan waktu. Saya berubah seiring waktu. Satu hal yang saya pahami selama ini adalah bahwa saya berubah menjadi lebih jujur. Saya adalah pembohong yang buruk. Ya, dan seiring waktu ternyata saya mengeluarkan kejujuran tentangย siapaย saya sebenarnya dan seperti apa sebenarnya panggilan jiwaku. Jadi, ini adalah hari penyesalan untuk suatu hal, tetap masih ada hal yang bisa kubanggakan.

Satu Maret, kuharap ketika saya bertemu dengan satu Maret berikutnya, saya lebih baik dari satu Maret yang kualami hari ini.

Eniwey, saya agak ragu dengan rumah baru saya di sini. Keraguannya adalah bahwa ternyata hal itu memancing persepsi tentang namaku yang sebenarnya, padahal seharusnya itu hanyalah fiksi belaka.

Iklan

11 thoughts on “Diary: Satu Maret

  1. semangat kakak…
    semoga jadi lebih baik lagi di bulan ini,
    oya, kenapa kurang nyaman dengan rumah ini mas..?

    Falzart Plain:
    ๐Ÿ™‚ Saya justru lebih nyaman dengan rumah yang ini daripada rumah yang baru… ๐Ÿ™‚
    Eniwey, Makasih ya…

  2. wahhhhh wahhh wahhhhh 287 days <— 12 Days Left

    Hmmmmmm memang tidak ada kata terlambat tetap ALLAh tidak akan mengubah suatu kaum kecuali mereka merubah diri mereka sendiri, semangat dunk merah ijo hitam jangan cuma bisa bertengkar saja kalian hahahaha

    JIAYOOOOOOOOOO \(^o^)/

    Falzart Plain:
    Nggak berubah rasanya, sejak jaman dahulu kala…

  3. Tidak ada kata terlambat, kecuali untuk saya hahaha …
    Semoga lebih baik, My Bro …
    Hmmm, saya rasa bukan saya berpersepsi … tapi memang demikian adanya kan? Ayooo, katanya mau jujur hehehe *menjebak*

    Falzart Plain:
    Saya jujur lho… Kejujuran saya adalah bahwa saya tidak ingin disamakan dengan tokoh ciptaan saya. Mungkin definisi jujur kita yang berbeda, Bang. :mrgreen:

  4. mencoba untuk melupakan itu bukanlah pilihan yang tepat mas, tapi berdamai dengan hati dan kenyataan itu akan membuat semuanya jadi lebih mudah dan indah meksipun bayangannya akan tetap datang.. semangat!! ๐Ÿ™‚

    Falzart Plain:
    Caraku berdamai adalah menunggu waktu yang tepat, dan sampai saat itu datang, saya harus melupakan. ๐Ÿ˜€
    Takmasalah, bayangnya memang selalu datang, saya sudah terbiasa.
    Lagipula kalau saya berdamai dengan cara seperti itu artinya saya menyerah, Dhe. Saya tidak menyerah!

  5. HHHUUUAAA ๐Ÿ˜ฆ nggak bisa ngelupain ya sama kayak aku…
    tapia ada cara gmpang biar cpet lupa benturin aja kepala pake pentungan besi kalo udah amnesia pasti lupa, hehehhhe nggak usah dicoba lhoo ya!

    Falzart Plain:
    ๐Ÿ™‚ Yang pertama memang biasanya tidak akan terlupa.

  6. dulu aku pikir firt love never dies, tapi kenyataannya aku salah, justru cinta terakhir yg nggak akan pernah mati , itu pengalamanku Falz, org lain aku nggak tahu ๐Ÿ™‚

    Falzart Plain:
    Saya yakin begitu juga, Mbak. Tapi selama belum ada ‘gadis kedua’, maka si ‘gadis pertama’ masih akan merangkap sebagai ‘gadis terakhir’…

  7. Yaaaa kalau begitu rumah ini saja yang diurus.

    Falzart, tahu nggak? Cowok itu harus ngomong. Meskipun nggak semuanya itu benar, tapi anggap saja itu sebuah keadaan default untuk menghadapi semua kegalauan masalah cinta.

    Falzart Plain:
    Sebenarnya saya sudah nggak perlu ngomong lagi kalau untuk sekedar inform sih. Karena tulisan-tulisan saya terdahulu sudah pernah ngomong dengan sangat gamblang ke dianya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s