Diary: Retensi

Retensi artinya menahan, menyimpan. Sederhananya begitulah arti kata dari retensi. Yang pernah saya pelajari adalah retensi urin, yaitu ketika air seni tertahan dan tidak bisa keluar dengan suatu sebab. Keadaan retensi urin adalah kondisi yang gawat darurat. Sudahlah, lupakan. Itu nostalgia waktu saya masih rajin belajar (entah tahun kapan). Pada postingan kali ini, saya hanya membahas tentang retensi blogging, bukan retensi urin.

Sudah saya jelaskan tentang retensi, kan? Tapi kalau soal blogging saya rasa tidak perlu dijelaskan. Jadi, intinya retensi blogging menurut definisi Falzart adalah tertahannya kegiatan blogging karena suatu sebab. Padahal pada saat itu lagi sangat pengen blogging.

Jujur, kalau nggak ditahan-tahan, diriku ini bisa posting sampai sekitar delapan posting sehari. Gila bukan? Ah, tidak. Itu biasa saja saya kira, soalnya saya sedang tidak ada kerjaan. Ehm, maksudnya sedang ada kerjaan tapi selalu lari ke blog untuk pelarian. Entah, blog ini sudah seperti tempat menuangkan pikiran saya secara alami.

Hari ini saja, kalau misalkan fiksi saya, yaitu Black Book of Despair, dianggap satu posting per episodenya, artinya saya sudah posting lima posting hari ini. Mulai dari perkenalan Ebid dan Jim, ujian pertama dari guru mereka masing-masing, sampai pada pertemuan kembali mereka secara tidak sengaja. Bahasanya amburadul, tapi ide saya masih panjang untuk fiksi ini.

Itu tadi intinya adalah saya mau menceritakan betapa saya tergila-gila dengan blogging. Kalau keinginan dan segala hasrat saya itu dipenuhi, maka saya akan non-stop 24 jam di depan netbook dalam sehari semalam. Atas dasar inilah, saya memutuskan untuk melakukan retensi blogging sementara waktu. Setidaknya mungkin 4 pekan dari sekarang (sampai saya selesai kuliah). Mungkin saya hanya akan blogwalking ke blog-blog kesukaan saya, dan tidak terlalu sigap lagi dalam membalas komentar. Harap maklum, ya.

Terus, kalau ada yang mau request gambar saya persilakan. Saya gak pernah melarang, ya. Kalau sempat saya akan buatkan. Tapi syaratnya adalah… *nggak ada syaratnya, cukup merequest dengan sungguh-sungguh saja. Soalnya, saya lambat loading, lambat mikir, jadi sering nggak mudeng.

Apalagi, ya? Kok ini seperti surat wasiat sebelum berangkat ke dunia baru? Begitulah. Saya senang jika ada yang datang kemari dan berkomentar karena itu akan menjadi referensi saya untuk kunjung balik ketika saya bosan :mrgreen:. Wish me luck saja. Wish me luck supaya urusanku di dunia nyata cepat kelar. Wish me luck supaya tahan godaan daring ketika membuka netbook (karena di dalam netbook ini tersimpan materi kuliah, kerjaan iseng, hobi, dan bahan blogging).

Saya pergi dulu.

Iklan

11 thoughts on “Diary: Retensi

  1. hehehehe retensi bahasa kedokteran ya – baiklah semoga urusan di dunia nyatanya cepat selesai dan lancar semuanya bang

    yang penting semangat selalu yooo \(n_n) – jaga kesehatan pula, jangan lupa kirim kirim surat ya <– loch :p

    keep fighting \(^0^)/

    Falzart Plain:
    Retensi bahasa umum kok. Tapi, herannya saya nggak dapat di kamus. Yooo!! Semanjaaat!!!

  2. Retensi urin? Uuhh, keknya sakit banget.
    Tapi kalo retensi nge-blog? Emangnya bisa ya? Hehe…
    Tapi saya setuju banget, ngeblog juga mesti ditahan-tahan, meskipun ide sedang menggila di kepala. Simpan saja beberapa tulisan di draft, lalu di-publish saat kehabisan ide 😀
    Pengunjung bisa bosan loh, kalo sebuah blog kebanyakan postingan dalam sehari. Kan tulisan itu belum tentu dibaca semuanya oleh pengunjung blog. Sayang juga kaann 🙂

    Falzart Plain:
    Kalau untuk postingan memang saya sudah atur supaya postingnya jangan banyak-banyak dalam satu hari, Mbak… 🙂 Tenang saja… 😆 (tenang? emang apa yang perlu dikhawatirkan?)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s