Iseng: Anakku (1)

Hari ini saya terpikir untuk berpikir tentang anak-anak. Entah apa alasannya, tiba-tiba saja saya ingin memposisikan diri sementara sebagai seorang ‘ayah’ pada postingan kali ini.πŸ˜†. Ini sepertinya adalah efek dari kuliah Tumbuh kembang anak pada sistem mata kuliah Tumbuh Kembang dan Geriatri kemarin.

***

Hai kau! Apa kabarmu, nak? Takterasa enam bulan sudah kau terbentuk di rahim ibumu. Aku masih tidak habis pikir tentang kabar kehadiranmu. Aku masih tidak berpikir akan ada aku yang baru dalam ukuran kecil yang akan lahir beberapa bulan lagi. Aku senang, sebentar lagi aku akan jadi ayah. Apakah dirimu juga senang berada di rahim ibumu? Hahaha… kuyakin seperti itu juga. Di sana tentu sangat menyenangkan. Mungkin ini ya yang Kakekmu dulu rasakan ketika aku masih berada di posisimu.

Nak, aku bingung bagaimana melampiaskan kesenanganku akan kabar dirimu di sana. Entah mengapa aku ingin memperdengarkan kepadamu bacaan Al-Qur’an yang Nenek dan Kakekmu dulu ajarkan kepadaku, ayahmu. Orang bilang memperdengarkan musik klasik kepada anak dalam kandungan usia sepertimu adalah baik dan bisa membuatnya cerdas, tapi aku tidak butuh itu. Aku lebih percaya dengan bacaan Al-Qur’an. Olehnya aku ingin memperdengarkan itu setiap hari kepadamu. Jadi, apakah kau mendengar suara ayah, nak? Bacaanku ini bukan sekedar pelampiasan rasa senang ayah, melainkan doa ayah untukmu.

***

Akhirnya kau lahir, Nak. Aku senang. Ayahmu ini telah berusaha keras membanting tulang untuk mempersiapkan kelahiranmu hari ini. Aku tidak tahu bagaimana beratnya yang dialami ibumu sewaktu mengandung, jadi berbaktilah padanya, ya! Yang jelas, ayahmu ini harap-harap cemas ketika tahu ibumu sebentar lagi akan melahirkan dirimu.

Kukumandangkan adzan di telinga kananmu, dan iqomat di telinga kirimu. Aku senang, akhirnya aku jadi ayah. Sekarang apa lagi, ya? Oh, aku harus mempersiapkan acara Aqiqah untukmu. Tunggu, yang mana duluan, memberimu nama atau… Ah, yang jelas kau akan kuberikan nama yang telah kusiapkan untukmu sejak lama, “Hasan”, Muhammad Hasan. Aku cukup senang dengan nama itu karena Rasulullah memberikan nama itu kepada cucunya. Tebak jika kau punya adik, apa nama yang akan kuberikan? Ya, Husain.

***

Hasan, akhirnya aku punya nama untuk memanggilmu. Maksudku, akhirnya aku punya anak yang bisa kupanggil Hasan. Kau lucu sekali. Kau sangat manggemaskan, Nak. Setelah aku menyembelih dua ekor kambing di Aqiqah di tujuh hari kelahiranmu, sepertinya ayahmu ini harus sering-sering bersamamu. Ibu dan Ayahmu orang sibuk, tapi sepertinya dalam tiga atau empat tahun pertama kelahiranmu ini, kami akan selalu bersamamu.

Kata orang, usia tiga tahun pertama itu adalah golden period. Aku tidak paham betul apa maknanya tapi mereka bilang kalau kau akan meniru seratus persen apa yang kali lihat dan apa yang kau dengar. Oleh karena itu, aku dan ibumu sangat berhati-hati dalam memperlihatkan sesuatu kepadamu. Aku ingin kau menjadi anak yang shaleh.

Aku perlahan-lahan belajar mengenali suara tangismu, Nak. Rasanya mengharukan ketika ternyata aku bisa mengenali suara tangisanmu itu dengan tepat. Maksudnya, rasanya tidak terkira ketika kau menangis bosan kemudian aku menghiburmu dan kau tertawa. Rasanya entah menyenangkan bagaimana gitu ketika kau menangis karena ternyata kau buang air kemudian aku membersihkannya dan kau bisa kembali terlelap. Rasanya menyenangkan ketika kau menangis dan aku panggilkan ibumu untuk menyusuimu dan kau bisa tidur dengan lelap setelah kenyang. Rasanya menyenangkan.

Usia kanak-kanakmu berlangsung pesat sekali. Rasanya menyenangkan ketika melihat kau belajar mengangkat kepalamu di usia tiga bulan, belajar merangkak di usia enam bulan, belajar duduk di usia tujuh bulan, berdiri di usia satu tahun, hingga kau bisa berlari sempurna di usia duapuluh bulan. Menyenangkan sekali melihat kau tumbuh, Nak.

Mendengar suaramu juga tidak kalah menyenangkannya. Ketika usiamu tiga bulan, aku ingat kau baru bisa tertawa, sebulan kemudian kau bisa mengoceh tidak jelas. Tetap saja, kau terdengar lucu, Nak. Usia setahun lebih sebulan, akhirnya kau bisa memanggil ayah dengan sebutan Abba, dan ibumu dengan sebutan Ummi. Kemudian bicara dua kata ketika enam belas bulan, enam kata ketika dua puluh satu bulan, dan akhirnya bisa menunjuk gambar dua bulan kemudian.

Hahaha… aneh sekali, beginikah rasanya menjadi ayah?

***

Usiamu tiga tahun dan aku pun mulai mengajarimu sesuatu. Pelan-pelan saja dulu nak, kita mulai dengan doa kedua orang tua, lalu Al-Fatihah, lalu tiga surah terakhir, lalu… ah, tenang saja karena kemudian aku mengajarimu sholat dan bacaannya. Usiamu baru lima tahun dan kau sudah bisa sholat berjamaah dengan ayah dan ibumu. Aku senang. Sementara itu, kau baru saja akan sampai di pertengahan Iqro’. Ingin rasanya aku mendengar kau membaca Al-Qur’an , Nak.

Kembali di usia dua dan tiga tahunmu, Nak. Aku mengajakmu ke rumah Kakekmu, memperkenalkanmu kepada Pamanmu, dan Bibimu juga, juga kepada sepupu-sepupumu sehingga kau punya teman main yang sebaya selain ayah yang biasa kau ajak bermain. Sementara ayah dan pamanmu bermain catur, bermainlah dengan sepupumu, ya.

***

(sebenarnya masih mau melanjutkan khayalanku lagi sampai si Hasan dewasa, tapi capek… nanti dilanjut, ya!)

15 thoughts on “Iseng: Anakku (1)

  1. Tina Latief Selasa, 20 Maret 2012 @ 7:39 AM pukul 7:39 AM Reply

    harusnya kamu mencoba menjadi ibu, cobain rasanya bagaimana…berani engga???

    Falzart Plain:
    Berani kalau memang harus. Tapi, apa gunanya nih mencoba menjadi seorang ibu? Saya nggak bakalan pernah jadi ibu, soalnya. Dan memang nggak bakalan pernah tahu rasanya meskipun dikatakan bahwa keadaan seorang ibu ketika mengandung itu ‘Wahnan alaa wahnin’ (lemah yang bertambah-tambah). Mendingan kalau bukan jadi ayah, saya jadi anak saja. Supaya anak-anak bisa berbakti.πŸ˜€

    • sulunglahitani Selasa, 20 Maret 2012 @ 12:31 PM pukul 12:31 PM Reply

      haha, bener tuh Mbak. Saya yakin, jadi ibu itu lebih berat.

      Falzart Plain:
      Tapi cowok kan gak bakalan tahu rasanya…πŸ˜€
      Saya juga sepakat kalau jadi ibu lebih berat.

  2. ~Amela~ Selasa, 20 Maret 2012 @ 8:09 AM pukul 8:09 AM Reply

    jangan dihapus postingan ini zart.. nanti biarkan anakmu membacanya hahaha
    kalau baca tulisannya sih udah cocok jadi bapak2. .:P

    Falzart Plain:
    Biarin. Tapi saya pikir merek gak bakalan tahu siapa Falzart Plain….πŸ˜†
    Kalau jadi bapak-bapak, aduh gimana ya? Masa saya jadi ibu-ibu?

  3. Asop Selasa, 20 Maret 2012 @ 9:23 AM pukul 9:23 AM Reply

    πŸ˜₯ Setuju… saya juga ingin nantinya memperdengarkan lantunan2 ayat2 alquran ke anak saya yang masih dalam kandungan… katanya lebih baik kalo orang tuanya saya membaca, jadi saya dan istri akan bergantian membaca.πŸ˜₯

    Falzart Plain:
    Iya. Kalau ini saya sepakat.πŸ˜€

  4. yisha Selasa, 20 Maret 2012 @ 9:28 AM pukul 9:28 AM Reply

    bener, mending pake alqur’an….. πŸ™‚
    salam sayang ke anakmu yaaaa…..

    Falzart Plain:
    Iya. Mudah-mudahan saya ingat salamnya Yisha ke anakku kalau dia sudah lahir.πŸ˜†

  5. Yusuf Abdac Selasa, 20 Maret 2012 @ 10:25 AM pukul 10:25 AM Reply

    Baca Al-Qur’an di sebelah perut sang ibu dan juga Sholat malam sebanyak-banyaknya, membantu anak menjadi pintar. Saya lihat itu di anak saya, saya sebut dia pintar, walaupun banyak orang yang sebut anak saya hyperactive. Zart, mumpung masih kuliah tumbuh kembang, nanya soal perbedaan antara anak actif, hiperaktif dan pintar. Bedanya dimana ya Zart?

    Falzart Plain:
    Kalau aktif, dan hiperaktif itu,… saya gak tahu. Ada tolak ukurnya bagaimana mana nanti saya cari tahu dulu. Kalau soal ‘pintar’, kata dosenku anak-anak itu dikatakan pintar kalau dia tidak hanya pintar di bidang akademik saja tapi dari bidang-bidang yang lainnnya juga, seperti sosialnya, etikanya, dll. (Dosenku waktu itu mau mengoreksi pemahaman bahwa pintar itu = akademik. Itu salah katanya.)

  6. misstitisari Selasa, 20 Maret 2012 @ 12:58 PM pukul 12:58 PM Reply

    waktu saya baca tulisan ini saya berfikir, sepertinya kamu sudah cocok jd ayah FalπŸ˜€

    Falzart Plain:
    Hahaha… benarkah? Tapi belum bisa. Perjalanan masih panjang sepertinya.πŸ˜€

  7. Danni Moring Selasa, 20 Maret 2012 @ 2:47 PM pukul 2:47 PM Reply

    Cool falzartπŸ˜€, wah iya nanti saya juga mau bacain Al-Quran untuk anak2 saya kelak..πŸ™‚

    Falzart Plain:
    Hehehehe… Iya. Ayo sama-sama ya… (lho? kok sama-sama?)

    • Danni Moring Rabu, 21 Maret 2012 @ 8:02 AM pukul 8:02 AM Reply

      lah barengan?πŸ˜€

      Falzart Plain:
      Maksudnya…. maksudnya… aduh, bingung ngejelasinnya…

      • elfarizi Rabu, 21 Maret 2012 @ 11:24 AM pukul 11:24 AM

        waaa, kok sama-sama???????????

        Falzart Plain:
        Iya nih, saya bingung juga… Salah ngomong kayaknya nih. Maksudnya jenis perbuatannya sama-sama, tapi waktu, tempat, dan objeknya masing-masing…:mrgreen:

  8. Orin Selasa, 20 Maret 2012 @ 3:07 PM pukul 3:07 PM Reply

    Bener lho nanti dilanjutin FalπŸ˜‰

    Falzart Plain:
    Beneran dong…πŸ˜€

  9. elfarizi Selasa, 20 Maret 2012 @ 9:44 PM pukul 9:44 PM Reply

    Selamat ya atas kelahiran anak pertamamu, Zart *lho …

    Falzart Plain:
    Makasih…πŸ˜€

  10. Ely Meyer Rabu, 21 Maret 2012 @ 4:51 AM pukul 4:51 AM Reply

    mikirin dulu deh cari ibunyaπŸ˜›

    Falzart Plain:
    Memilihkan ibu yang tepat adalah haknya mereka. Kalau menurut saya, ibunya gak usah dicari-cari deh, nanti juga bakalan ketemu, dan saya pasti akan tahu kalau sudah ketemu.

    • Ely Meyer Rabu, 21 Maret 2012 @ 10:35 PM pukul 10:35 PM Reply

      wadew …. mereka khan keluar dari ibu ya, bgmn mereka akan memilih tepat ibu buat mereka ? *bingungaku*

      Falzart Plain:
      Ya, saya yang pilihkan…πŸ˜†

  11. Eko Wardoyo Jumat, 23 Maret 2012 @ 7:23 AM pukul 7:23 AM Reply

    haduhh jadi ngebayangin juga jadi ayahhhh T.T

    Falzart Plain:
    Jadi… si E satu lagi jadi ibu dong…πŸ˜†

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: