Iseng: Anakku (2)

Ini adalah keisengan lanjutan dari keisengan kemarin. Bedanya, kali ini mungkin akan sedikit lebih murni kepada khayalan belaka, bukan berdasarkan kuliah (seperti kemarin).

***

Usiamu kini lima tahun sudah, Nak. Aku sebagai ayahmu bingung mau mengajari kemampuan apa lagi kepadamu. Maksudku, ya selain membaca Al-Qur’an tentunya. Sedikit-sedikit sudah kuajari kau membaca tulis agak kelak jika tiba waktumu untuk kusekolahkan, kau sudah siap. Terus, apa lagi, ya? Ya, cita-cita. Kita bicara tentang masa depan, Nak. Kelak kau akan menjadi apa, itu terserah padamu, yang mana yang paling kau sukai. Akan kutunjukkan dunia kepadamu dan kutunjukkan kau kepada dunia. Yang jelas aku dan ibumu telah memberimu contoh yang baik untuk kau tiru.

***

Husein lahir. Kini kau jadi kakak sudah, Hasan anakku. Usia sekolahmu tiba dan aku akan menyekolahkanmu di sekolah paling bagus di kota ini. Entah jika ada Madrasah Ibtidaiyah yang terbaik yang akan menjadi tempatmu sekolah, mungkin aku atau ibumu akan mengantarmu selama kau kelas satu. Baik-baiklah di sekolah, Nak. Pilihlah teman yang baik, hindarilah teman yang nakal. Jangan lupa untuk menceritakan hari-harimu kepadaku dan ibumu setiap kali kau pulang sekolah. Jangan ragu untuk menanyakan PR-mu jika ada yang belum kau mengerti. Dan yang terpenting, jangan sombong jika kau pintar di sekolahmu. Jadilah anak yang ramah.

***

Kini kau jadi kakak sudah, Hasan. Baik-baiklah terhadap adikmu. Jaga dia, kelak kau dan dia akan saling menjaga. Kau akan sangat menyayangi Husein, jadi janganlah kalian berkelahi, bermainlah dengan akur. Setahuku anak pertama tidak akan iri terhadap anak kedua, tetapi jika itu terjadi padamu, bersabarlah. Kau adalah sang kakak sekarang, dan kakak harus mengalah ya, Nak. Aku dan ibumu akan selalu berusaha adil untuk kalian berdua.

***

Anakku, Husein, selamat datang di dunia yang fana ini. Aku adalah ayahmu, dan Hasan adalah kakakmu. Aku akan mendidikmu seperti aku mendidik Hasan ketika dia bayi. Besar harapanku terhadap kalian berdua, maka jadilah anak baik. Pelajaran pertama telah kuberikan kepadamu ketika kau di dalam kandungan, seperti halnya Hasan dulu. Kini kau lahir ke dunia dan pelajaranmu akan kulanjutkan.

Husein, kau beruntung. Kau memiliki aku, ibumu, dan Hasan sebagai orang yang menyayangimu. Maka dari itu, baik-baiklah kepadakedua orangtuamu dan juga kakakmu karena kami sangat sayang kepadamu. Hormati Hasan sebagai seorang kakak, dan jangan lupa hormati juga kedua orangtuamu, Nak.

***

Hasan dan Husein, kalian berdua telah tumbuh besar. Kalian telah kupilihkan tempat pendidikan terbaik yang pernah ada. Rasanya sangat senang melihat kalian tumbuh dan berkembang seperti sekarang ini. Mungkinkah ini yang dulu kakek kalian rasakan ketika melihat ayah tumbuh seperti kalian? Kalian telah tumbuh besar, sudah bisa membedakan yang baik dan yang buruk, yang benar dan yang salah, maka lakukanlah yang terbaik, Nak.

***

Akhirnya, kalian berdua telah paham cara beribadah yang kita lakukan sehari-hari. Bulan puasa tiba dan aku harus mengajarkan kalian puasa. Ya, mulai dari bangun sahur sampai sholat Lail di Masjid, sampai kalian sahur lagi. Mungkin ini akan sedikit berat bagi kalian, tetapi inilah perjuangan, Nak. Bolehlah kalian puasa setengah hari pada tahun ini, tapi untuk tahun berikutnya, kalian harus puasa penuh, ya. Perbanyaklah membaca Al-Qur’an pada bulan ini. Mungkin jika biasanya kalian hanya ayah wajibkan membaca Al-Qur’an usai sholat maghrib, untuk bulan ini ayah wajibkan kalian membaca Al-Qur’an usai sholat shubuh juga. Dan selalu ada bonus untuk yang bisa khatam dalam sebulan. Haha…

***

Kini tiba saat teknologi menjadi momok kita, anakku. Aku tahu kalau selama ini kita belajar dengan teknologi maju yang ada. Kalian pun berkembang dengan sedemikian pesatnya juga adalah dengan bantuan teknologi dan tentu saja bimbingan dari aku dan ibumu. Anak tetapi, sadarlah anakku bahwa teknologi bukan segalanya. Jika kau terpengaruh oleh Game dan sebagainya, ingatlah bahwa aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Ingatlah bahwa waktu untuk hiburan itu bukan selamanya. Bukan teknologi, game, hiburan, atau apapun itu yang bersifat keduniawian yang akan membawa kita ke surga. Bukan itu. Lagipula ketahuilah bahwa pengaruh buruk lebih banyak ditularkan oleh media semacam itu.

Kelak aku akan mendapati kalian terlena dengan hal seperti Game, Televisi, dan hiburan lainnya. Ingatlah bahwa ayahmu ini tidak akan pernah melarang hal itu untuk kalian. Hanya saja, kalian tidak boleh berlebihan dalam hal itu. Ayah akan sangat membatasi pergerakan kalian dalam hal semacam ini. Ingatlah, Nak. Ini demi kebaikan kalian.

***

Berbicara tentang hukuman. Mungkin ayah akan sangat jarang menghukum kalian. Bahkan sama sekali ayah tidak ingin melakukan itu. Ayah hanya akan menghukum kalian demi kebaikan kalian. Ayah tahu batas-batasan hukuman untuk kalian, dan hukuman itu hanyalah untuk membuat kalian jera. Ketika ayah menghukum kalian, tolonglah jangan juga menghukum ayah dengan cara ngambek kepada ayah. Akan ada penjelasan dari tiap hukuman yang ayah berikan dan semoga Allah melindungi ayah dari menghukum disebabkan emosi yang berlebihan.

***

Kalian telah besar sekarang. Kalian berdua akan segera akil baligh. Khitanan mungkin akan jadi agenda istimewa kali ini, mulai dari Hasan, dan kemudian Husein. Kalian berdua akan dibuatkan acara syukuran dalam rangka khitanan kali ini. Ah, ayah jadi ingat ketika ayah menyembelih dua ekor kambing pada masing-masing acara aqiqah kalian. Mungkin acara ini akan sedikit langka bagi kalian.

***

(Capek, tapi masih mau nulis lagi. Nanti besok saja dilanjutnya, deh…)

11 thoughts on “Iseng: Anakku (2)

  1. Citra Taslim Rabu, 21 Maret 2012 @ 12:14 AM pukul 12:14 AM Reply

    Menunggu momen cerita ayah setelah khitanan.
    Tambahin adik cewek juga dong buat Hasan dan Husein.

    Falzart Plain:
    Hmmm… gimana, ya… Nanti dilihat saja deh… Rencanaku sih, hanya Hasan dan Husein berdua saja… Soalnya mendidik anak perempuan itu lebih susah.

  2. Ely Meyer Rabu, 21 Maret 2012 @ 4:54 AM pukul 4:54 AM Reply

    cerita ibu anak anaknya mana ?πŸ˜€ .. cuma ada satu kata ibu di siniπŸ˜›

    Falzart Plain:
    Nggak ada, Mbak. Ini ceritanya sebagai ayah saja. Ibunya nggak. Nanti biar ibunya saja yang bikin cerita iseng Anakku versi ibunya…πŸ˜†

    • Ely Meyer Rabu, 21 Maret 2012 @ 10:34 PM pukul 10:34 PM Reply

      krn memang belum ada ibunya ya FalzπŸ˜›

      Falzart Plain:
      Ya, itu juga alasannya, Mbak…πŸ˜€

  3. puchsukahujan Rabu, 21 Maret 2012 @ 7:19 AM pukul 7:19 AM Reply

    eaa anaknya gak boleh main game, ayahnya yang hobi maen gameπŸ˜†

    Falzart Plain:
    Saya nggak hobi. Saya hanya lagi kepengen main game. Kalau anak-anak pengen main game juga boleh, asal jangan berlebihan.

  4. tuaffi Rabu, 21 Maret 2012 @ 7:40 AM pukul 7:40 AM Reply

    wahh..πŸ˜€

    Falzart Plain:
    Waaaaaahhhh…πŸ˜€

  5. elfarizi Rabu, 21 Maret 2012 @ 11:26 AM pukul 11:26 AM Reply

    Ibu … Ibu … Mana Ibu … teriak Husein …

    Falzart Plain:
    Ummimu ada di dapur, Nak.:mrgreen:

  6. Danni Moring Rabu, 21 Maret 2012 @ 1:54 PM pukul 1:54 PM Reply

    ummi oh ummi…. siapa ummi nya hasan dan husein?πŸ™‚

    Falzart Plain:
    Dia adalah yang membuat ayahnya tenang ketika melihatnya, yang membuat ayahnya kagum setiap kali pandangannya dilemparkan ke arahnya, yang membuat ayahnya damai ketika gusar, yang membuat ayahnya yakin kalau itu akan jadi Umminya Hasan dan Husein.:mrgreen:

  7. Yusuf Abdac Rabu, 21 Maret 2012 @ 4:35 PM pukul 4:35 PM Reply

    toloooooong ibuku tak punya nama…. kata hasan

    Falzart Plain:
    Hasan, ngapain kamu teriak-teriak minta tolong begitu? Kalau untuk tugas sekolahmu, tanya saja kepada Ummimu siapa namanya, tapi ayah biasanya memanggil Ummimu dengan sebutan ‘sayang’ saja… Kalau kamu cukup panggil Ummimu dengan sebutan Ummi atau Ibu saja…

  8. onesetia82 Rabu, 21 Maret 2012 @ 10:37 PM pukul 10:37 PM Reply

    oh … ah …πŸ˜€

    Falzart Plain:
    Hehehe…πŸ˜†

  9. misstitisari Kamis, 22 Maret 2012 @ 10:12 PM pukul 10:12 PM Reply

    Ibunya mana Fal??? kenalin Ibunya dooongπŸ˜€

    Falzart Plain:
    Nanti deh. Nanti kalau ibunya sudah ada…πŸ˜€

  10. Eko Wardoyo Jumat, 23 Maret 2012 @ 7:28 AM pukul 7:28 AM Reply

    T.T <— terharu lagi, bagaimana saya menjadi ayah nanti T.T

    Falzart Plain:
    Bagaimana ya? coba pikirkan lagi…:mrgreen:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: