Langit Hampa

“Hhhh…” Aku menghela napas sembari memandangi langit yang malu-malu menampakkan wujudnya.

Aku selalu duduk di teras ini tiap sore. Pandanganku yang selalu terhalang bangunan-bangunan tinggi yang tak elok tidak menghalangiku memandangi langit. Alasannya, ya karena aku senang memandangi langit yang selalu mengingatkanku padamu. Selalu.

Tidak ada awan, hanya kelabu di langit senja. Hari ini aku gagal mendapatkan sensasi mengenangmu lagi. Langit tanpa awan hari ini bagaikan aku tanpamu. Hampa. Andaikan saja dirimu tidak harus pergi lama di negeri sana, mungkin hidupku tidak akan sehampa ini, yang hanya kuisi dengan memandangi awan luas seperti yang biasa kita lakukan dulu di halaman belakang sekolah. Ya, bedanya adalah karena kini aku sendiri di sini.

Langit hampa ini seperti langit hatiku yang mendung tanpa hujan. Hatiku menantikan hujan berupa kabar darimu selama empat musim di sana. Empat musim yang serasa satu abad bagiku. Aku benar-benar merindukanmu. Sungguh. Kapankah kau akan pulang? Setidaknya beri aku kabar. Baik-baik sajakah dirimu setelah gempa hebat di sana? Beri aku kabar! Kabarmu bagaikan hujan yang menggantung di langit mendung. Aku taktahu kabar apa yang akan sampai padaku. Hujankah? Petirkah?

— Flash Fiction (180 kata).–

Tulisan ini diikutkan padaΒ Giveaway Satu TahunΒ dari blogΒ celoteh .:tt:.

Iklan

26 thoughts on “Langit Hampa

  1. langitnya benar benar kelabu itu buset dah <— jangan jangan diambil pas demo waktu banyak tembakan gas air mata ya hehehe v(^o^")pisssss

    untung saja Si N tidak demikian ya kalau ia bener bener berada disana apa kabarmu disini #ahyak <– bawa bawa N melulu nich saya hahahahaha. satu sura terakhirmu membawa dampak pada tulisan tulisan mu yang berkata kata rindu bang #ahyakl lagi dah heheheheh

    sukses ganya yabang d(^0^)b

    semoga hujan segera datang untuk menyampaikan kerinduan dirinya disana kepada dirimu disini, tak apa menungggu bagaikan 1 abad dalam 4 musim disana tapi saat kau menerima kabar darinya kau bisa mengenang hingga 2 abad kedepan <— ngikutin skenario d(^o^)

    Falzart Plain:
    Ckckck… bener-bener nih…
    1. Itu langit sore habis hujan (dan kayaknya mau hujan lagi)
    2. Skenarionya bukan tentang si N (tapi feel-nya iya)
    3. Semoga saja… πŸ˜€

    • wahahahahahahaha begitu ya <— gambarnya pas amat ya sama sekenarionya ato sekenarionya yang pas sama gambarnya d(^0^")

      Falzart Plain:
      Inspirasi bisa muncul dari mana saja. Inspirasinya muncul waktu saya jepret foto ini, makanya cocok. πŸ˜€

    • biasanya kalau kontes memang syaratnya hasil jepretan sendiri ya, sayang aku bukan penggemar kontes kontesan πŸ˜›

      Falzart Plain:
      Hal ini disebabkan keisengan yang merajalela. Daripada nggak ngepost, Mbak… πŸ˜€

  2. nggak masalah khan , yg penting kata kata dalam postingan hasil orisinil pikiran sendiri, bukan begitu ? πŸ™‚

    Falzart Plain:
    Yap! Dan kalau itu ya hampir keseluruhan isi blog ini… πŸ˜€

  3. salut aku Falz ! … blogger seperti kamu itu termasuk blogegr kraetif karena berani menampilkan coretan hasil pikirannya sendiri bukan copy sana copy sini πŸ˜›

    Falzart Plain:
    Alasannya: soalnya ini blog pribadi, isinya ya harus dari pribadi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s