Diary in Flash Fiction: Termangu

Di hadapan netbook, aku melihat mereka yang duduk melingkar di sana. Rindu. Itulah yang kurasakan. Seakan terbawa kembali ke masa lalu ketika aku duduk melingkar di sana. Ya, memandangi mereka seperti ini selalu mencuri waktu berhargaku. Pikirku yang tengah melanglangbuana pun hendak kutarik masuk masuk kembali dan aku hampir berhasil.

Kualihkan pandanganku dari mereka ke arah netbook, tapi entah hatiku tidak bisa berbalik. Di sana ada dia. Ah, sial! Kenapa sensasi ini ada lagi? Aku hanya bisa mengumpat dalam hati dengan konsentrasi yang tidak menentu, antara slide kuliah atau mereka, maksudku, dia.

Keringat dingin bercucuran, mataku menyorot pada slide kuliah di layar netbook, tapi tetap saja konsentrasi tidak tercipta. Ah, kenapa ini terjadi? Aku mengumpat diriku mengutuki perasaanku yang takbisa henti ini. Kenapa pula perasaan itu takkunjung reda? Kenapa?

Aku mengalah. Menyerah. Kututup slide kuliahku, sebagai gantinya, kubuka sebuah folder yang berisi semua fotonya, dan kubayangkan dia tersenyum kepadaku dari balik layar monitor. Cukup lama. Ya, dan seolah-olah dia berkata, “Belajarlah, demi aku.”

NB: Ini adalah postingan terjadwalku di hari Kamis. Saya sedang tidak ada di rumah berdasakanย posting saya yang lalu.

Iklan

17 thoughts on “Diary in Flash Fiction: Termangu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s