Diary: Menekan Kebiasaan [Falzart’s Theory]

Bingung mau cerita apa hari ini. Biasanya jam segini saya sudah punya ide untuk diceritakan, tapi hari ini nihil. Hari ini saya sedang menekan kebiasaanku yang terjadi belakangan ini. Contohnya saya tiga hari belakangan ini saya sudah membaca 97 episode komik yang pakai bahasa Inggris. Efeknya berdampak sama suara ‘dalam’-ku. Suara ‘dalam’ maksudnya adalah suara yang biasanya bicara sama diri sendiri itu lho! Suara ‘dalam’-ku jadi berbahasa Inggris juga. Gila nggak tuh?

Sebenarnya nggak ada yang salah dari semua itu. Yang salah sebetulnya adalah karena saya melakukan semua itu secara berlebihan, padahal semestinya itu hanya selingan saja. Pertanyaannya mungkin lebih tepat adalah: berapa banyak waktu berhargaku yang saya habiskan untuk sekedar baca komik? Sudahlah. Pokoknya hari ini kebiasaan baca komik itu untuk sementara ditekan dulu.

Ada lagi satu kebiasaan yang akhirnya bisa saya redam dengan cepat. Kebiasaan itu adalah ‘twitteran’. Belakangan saya jadi addict karena punya teman di sana. Ya, hingga saya sadar kalau sesuatu yang saya tuliskan di sana itu tidak layak untuk saya tuliskan. Saya merasa sudah terlalu berlebihan, baik dalam hal waktu memandangi lini waktu maupun hal yang saya tuliskan. Makanya saya menekan kebiasaan itu sebelum menjadi monster yang bisa memakan seluruh waktu luangku.

Sebenarnya saya ingin merumuskan sebuah teori, tapi saya belum melakukan tinjauan pustaka. Teori itu adalah bahwa: “Ketika manusia merasa kosong, maka dia akan mengisi kekosongan itu dengan kesenangan.” Ini terjadi berulang-ulang pada saya. Ketika saya sudah merasa berlebihan kadang saya mengubah mindset saya terhadap sesuatu yang tadinya menyenangkan itu menjadi biasa saja. Sebenarnya kalau teori ini benar, maka untuk mengendalikannya adalah dengan “menjadikan sesuatu yang baik itu menjadi terasa menyenangkan”. Dan saya yakin ini yang susah.

Mungkin bagi orang-orang yang tengah galau, teoriย yang tidak ada landasannyaย di atas itu bisa berguna. Setidaknya dalam kegalauan terdapat kekosongan yang tentunya mengakibatkan kebutuhan akan tempat pelampiasan kegalauan meningkat. Hal ini disebut sebagai pelarian. Maka bagaimana kalau pelariannya kepada hal-hal yang baik saja? Atau setidaknya beranilah untuk tidak terus-menerus menghindar karena itu hanya akan menyebabkan kekosongan dalam diri menjadi bertambah besar.

Bagaimana? Ada pendapat lain?

Iklan

11 thoughts on “Diary: Menekan Kebiasaan [Falzart’s Theory]

  1. yah boleh dibilang pelarian, tapi pelarian itu sendiri sebenarnya terkadang hanya mengenyampingkan permasalahan yang ada :D, tapi tetap terpikirkan bahwa dibalik tertawa disaat kesenangan itu masalah tetap menunggu jawabannya ๐Ÿ™‚ #ngomongOpoTohSaya

    Falzart Plain:
    Betul… Saya sekaprat… ๐Ÿ˜€

  2. Buzzz buzzz Buzzz

    nice posting, alternatif Anti Galau salah satunya harus mempunyai hoby yg positif dan olah raga, sedari kecil saya di tawarkan dan di dukung menjalani dan profesional di photography, juga basket dan membaca.

    Salam Madu Juga Sengat

    Falzart Plain:
    Salam ๐Ÿ™‚

  3. Hati-hati kalo kosong, katanya suka kesurupan ๐Ÿ˜†
    Tuh, ada PR. Barangkali mau, ya kerjakan. Kalau gak mau, ya … kerjakanlah, masa gitu aja gak mau ๐Ÿ˜›

    Falzart Plain:
    Saya nggak kosong lagi… I have something to do… ๐Ÿ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s