Diary: Dominan Kesal

Saya bukan mau bahas Hardinas, pulsa modem saya yang sudah habis, kekesalan saya disalip cewek pagi tadi, spakbor depan si Zero yang patah, kebiasaan Jombreng yang malas keras, ataupun resepsi pernikahan senior saya hari ini. Ya, saya bukan mau bahas itu semua, tapi itulah yang terjadi hari ini.

Ini hari Rabu. Rabu yang indah. Saya nggak mau mengeluh dulu, tapi Hardiknas yang terjadi hari ini membuat ayahku harus pergi upacara di lapangan Karebosi, jadi ibuku terpaksa saya yang ngantar tepat saat saya mau tidur pagi. Bayangkan, tidur pagiku di-cancel hanya gara-gara Hardiknas! Tadinya sempat curiga sih kalau hari ini bakalan ada upacara besar-besaran karena si Jombreng sempat nanya begini: “Kak, kalau orang kuliahan ada upcaranya juga, nggak?” Mencurigakan kan pertanyaannya? Hal ini jelas menjadi kecurigaan karena dia nanyanya bukan hari Senin. Tapi, … sudahlah.

Pulang habis ngantar ibuku, si Jombreng lagi yang minta diantar ke tempat les. Ya, sekalian deh saya nganter. Masalahnya adalah pas pulang dari nganter si Jombreng, ada cewek bawa motor matic, balap-balap, nyalip saya, dan nggak sadar kalau pantatnya motor matic itu gede. Sial! Mana dia nyalipnya mepet banget lagi. Belum seluruh badan motornya ada di depan si Zero, dia udah motong di depanku. Rasanya pengen banget kuteriaki tuh orang, tapi dia balap jadi nggak mungkin dengar. Mudah-mudahan aja, nggak ada orang lain yang merasa kesal dengan tingkahnya itu juga.

Sampai di rumah, saya sadar ternyata spakbor depan motor saya patah. Nggak tahu deh, ulah siapa nih, tapi ini menambah kekesalanku hari ini.

Habis tidur pagi, bangun Dhuhur (kebiasaan akhir-akhir ini). Si Ciplut minta dibuatkan pas Foto. Kubilang, saya buatkan tapi saya nggak mau cetakkan. Biar si Jombreng saja yang cetakkan. Setelah ada kata sepakat, saya pun buatkan pas foto buat si Ciplut, mulai dari ngambli kamera, edit di netbook, dan kirim ke FD. Eh, pas mau dicetak, si Jombreng-nya malas. Sial! Dia malah bilang: “Ih, apa gunanya punya Kakak kalau begitu?”, tapi kalau sama si Ciplut dia justru bilangnya: “Apa gunanya punya Adik?”. Dasar, manusia malas keras. Dia sempat saya tendang sampai jatuh dulu baru mau ke tempat cetak foto.

Malam pun tiba, saya pergi ke kampus untuk suatu urusan. Trus, apa lagi ya? Oh, iya. Sekarang saya lagi siap-siap mau ke acara nikahan senior saya. Berangkat sama-sama dengan teman-teman dari kampus. Seperti halnya melayat orang meninggal yang mengingatkan kita pada kematian, acara resepsi pernikahan juga mengingatkan saya pada sesuatu. Huh! πŸ™‚

Ya, hari ini saya dominan kesal sih. Tapi, yakinlah ada sesuatu di balik semua itu. Kejadian upacara di Hardiknas itu mengingatkan saya untuk mengabdi kepada ibuku, jarang-jarang ibuku minta diantar dalam waktu yang kepepet begitu. Kejadian disalip cewek itu mengingatkan kenakalanku di masa lalu sampai motorku kecelakaan tiga kali. Spakbor yang patah itu mengajarkan saya untuk merawat dan memperhatikan barang yang saya punya karena bahkan saya tidak tahu kapan patahnya tuh spakbor. Kemalasan si Jombreng mengingatkan saya untuk bersabar, soalnya dia memang mengesalkan. Dan resepsi pernikahan ini… aduh, apa ya? πŸ˜†

Iklan

19 thoughts on “Diary: Dominan Kesal

  1. untung ga ada adegan koboi-koboian dengan si cewe pengendara motor ya *kaya koboi palmerah gitu*, nama adiknya lucu2 ya ckckkckck, 1 lagi komen saya : nikah itu enak loh *budal*

    Falzart Plain:
    Nama adik saya itu saya samarkan dengan nama-nama kesayangan mereka. Itu bukan nama sebenarnya. Terus, soal nikah… ehem…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s