Diary: Rasanya Hari Ini…

Teringat. Beberapa pekan yang lalu sebelum saudara-saudara Ayahku berangkar Umrah (Ayah dan ibuku nggak termasuk), ada acara kumpul-kumpul dengan keluarga. Acara bakar-bakar ikan waktu itu. Ya, acara itu diadakan di salah satu rumah Pamanku dan saya adalah orang pertama yang datang pagi-pagi ke sana. Entah mengapa. Hari itu hari minggu yang cerah dan merupakan pagi yang sibuk bagi seluruh penduduk rumahku. Si Jombreng berangkat pagi-pagi sekali mengejar try-out SNM-PTN, sementara ayah dan ibuku buru-buru untuk berangkat ke tempat kerjanya masing-masing. Saya sendiri, sebetulnya disuruh mengantarkan si Ciplut ke rumah sepupunya, tapi disebabkan acara bakar-bakar ikan ini, tujuannya berbelok ke rumah pelaksana (eh, pelaksana?).

Singkat kata, saya lah yang membuat bara untuk acara itu. Cukup sulit juga, mulanya saya dibekali sebuah korek gas dan sedikit kulit kelapa, tanpa minyak tanah. Lalu, saya mencari kipas dari koran, ternyata koran itu lebih berbakat menjadi bahan bakar daripada kipas. Korannya dibakar dan jadilah bara arang dari kulit kelapa.

Seluruh keluarga berkumpul, dan pertanyaan biasa yang sedikit menyakitkan pun ditanyakan oleh hampir semua orang di sana: “Zart, kapan selesai?” Sial!

Belum lagi, sepupuku yang lama nggak ketemu bilangnya: “Zart, kok tambah hitam?” Wah, ini mungkin hanya sekedar candaan, tetapi kadang menyakitkan. Saya sudah terlalu sering dibegitukan, sebetulnya saya sudah kebal, kecuali yang mengatakan itu adalah orang-orang yang tidak sering-sering bertemu denganku. Agak sedikit dongkol juga, tetapi saya memaklumi, mungkin mereka hanya ingin sedikit akrab denganku.

***

Mounteneering dari Rabu sampai Minggu yang lalu. Menyedihkan. Saya melalui malam-malam yang indah dengan bintang-bintang, tetapi hanya bisa menikmati keindahan bintang-bintang itu lewat telingaku, dari kata-kata mereka yang mengatakan, “Indahnya bintang malam ini.” Ya, melihat ke atas pun aku tidak akan bisa melihat bintang. Mataku rabun.

***

Saat ini. Saya hanya sedang terduduk di depan netbook, membayangkan rasa itu kembali terulang dan terulang. Salah seorang seniorku meninggal dunia. Kasusnya adalah eclampsia. Mungkin. Dia meninggal setelah melahirkan. Sebetulnya saya tidak kenal dia, tetapi tahun lalu dia sempat meminta data dariku, dan data itu kukirimkan lewan e-mail. Sepertinya tahun lalu dia masih sehat-sehat saja.

***
Pekat. Hitam. Semuanya bersatu menjadi satu. Makin nyata. Semuanya menjadi kumpulan rasa tanpa objek. Semuanya menjadi kumpulan energi tanpa pelampiasan. Masa depan dengan teka-teki berwarna kelam di tengah-tengahnya.
Iklan

11 thoughts on “Diary: Rasanya Hari Ini…

  1. lho, saya kira Falzart beneran hiatus sejak postingan maaf itu ada, eh ternyata ada postingan2 lain jg 🙂

    Falzart Plain:
    Ya. Anggap saja saya hiatus. Saya bilang saya hiatus karena saya sedang tidak bisa komitmen untuk ngisi blog ini.

  2. kalau di sini kulit hitam itu malah kulit idaman Falz, byk yg bela bela in ke solarium hanya biar bisa kulitnya hitam, maklumlah lain ladang lain belalang ya, di sana kulit putih itu kulit idaman, padahal di sini orang malu sekali kalau kulitnya putih, kayak zombie katanya

    Falzart Plain:
    Wah, tukeran lokasi keren kayaknya tuh…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s