Potongan Diary: Melelahkan.

Saya bingung hari ini mau menulis apa. Menurutku tajuk diary itu sudah tidak cocok lagi karena mood-ku sedang sangat jatuh sampai hari ini. Istilahnya, belum sempat dibangkitkan.

Asal mula saya menulis diary adalah untuk maintain memori di kepalaku. Ya, saya pernah membaca buku tentang memaksimalkan ingatan, dan metode sederhananya adalah menulis diary. Akan tetapi, ternyata itu tidak sesederhana yang kubayangkan. Mulanya saya hanya menuliskan 500-1200 kata untuk menggambarkan kegiatanku dalam sehari. Tapi sekarang? Huh, semuanya menjadi sangat melelahkan.

Di bawah ini adalah salah satu contoh diary yang tidak saya selesaikan karena capek. Sudah makan 810 kata, padahal kejadian yang terjadi yang saya tuliskan di situ baru kejadian sampai pukul setengah sembilan pagi. OK, setiap hari saya tidur sekitar jam 11 malam sampai jam 2. Bayangkan berapa banyak kata lagi yang harus saya tuliskan hanya untuk membuat diary yang menggambarkan kegiatanku dalam satu hari?

Saat saya menuliskan diari ini, waktu di netbookku, AO722, menunjukkan jam sembilan malam lewat tujuh menit. Saya berencana menuliskan segala macam hal tidak penting yang terjadi hari ini, Minggu 3 Juni 2012. Awalnya, saya berencana menuliskannya di kertas atau di blog, tetapi menuliskannya di kertas tidak membuat tujuanku tersampaikan, begitu pula di blog. Tujuanku menuliskan ini adalah untuk me-recovery ingatanku. Belakangan ini saya memiliki ingatan yang buruk dan juga mental state yang tidak kalah buruknya.

Saya terbangun pagi tadi sekitar pukul enam. Sholat shubuh adalah hal pertama yang kulakukan. Saya terbangun dengan baju hijau tahi kuda bertuliskan Jogja, dan sebuah celana berwarna krem dengan resleting yang aneh. Ya, sepasang pakaian itu sebenarnya sudah sejak Rabu saya tidak menggantinya, dan jelas sejak Rabu juga saya tidak mandi. Rambutku acak-acakan, meski kadang terlihat sedikit rapi. Tepat setelah sholat shubuh, saya melirik ke arah wafer durian dalam toples kaca di ruang tamu, dan mencicipi beberapa, sebuah kebiasaan.

Rumah terlihat sedikit berbeda sejak saya pulang malam minggunya. Sebetulnya, saya ingin tidur lagi setelah sholat shubuh, tetapi karena Bude Hafsoh dan Om Malik mau diantar untuk sekedar melihat Pantai Losari, saya menahan keinginan itu. Saya hanya berbaring di meja biru yang dipasang di teras, sebuah meja ceragem yang sebelumnya seharusnya tidak berada di tempat itu. Berbaring beberapa menit sampai hampir tertidur pulas. Untungnya beberapa kue yang terdiri dari bolu hitam-hijau lembut dan beberapa donat dalam satu piring diletakkan begitu saja di sampingku, jadi saya makan beberapa, mula-mula donat berbalut coklat menjadi santapanku.

Memuat seluruh interaksi dalam satu hari dalam hidupku di diari ini akan sedikit melelahkan buat mata, jemari, dan ingatanku. Entahlah, aku akan menuliskan semuanya atau tidak. Seingatku bajuku terganti menjadi kaos hijau, Ayah yang menyuruhku menggantinya karena sudah bau, tapi kapan suruhan itu muncul, saya lupa. Asumsikan saja, saya mengganti baju untuk mengantar Bude dan Om ke Pantai.

Bajuku sudah terganti, Ciplut, adik bungsuku, datang dari dalam rumah dan mencicipi kue bolu hitam-hijau itu dengan pilih-pilih. Dia inginkan bagian hijaunya saja. Jelas, tidak kubolehkan. Siapa yang bersedia makan sisanya? Ya, meski pada akhirnya saya lah yang makan sisanya.

Acara mengantar ke Pantai Losari dimulai. Setelah motor dikeluarkan, ada sedikit problematika terjadi. Sandal. Saya bingung memilih sandal yang mana. Eiger Black Diamond 43, sandal gunung ini bagus, rencananya saya akan pakai ini, tetapi agak susah dipakainya. Jadinya saya malah pakai sandal berwarna abu-abu kehijauan milik Jombreng. Sampai di Losari, baru kusadari bahwa sandal kirinya putus pada tali bagian kanan. Oh, andaikan Eiger Black Diamond 43 saja yang kupakai saat itu!

Mungkin saya salah juga karena memilih tipe Black Diamond yang susah dipakai pada awalnya, meski nyaman. Mungkin tipe Eiger Catalyst lebih bagus, tapi sudahlah. Saya berada di pantai tidak dengan kedua sandal itu. Foto menjadi hal wajib untuk mengabadikan dan juga membuktikan keberadaan kita di suatu tempat, begitu juga dengan Bude dan Om Malik. Mereka berfoto, dan salah satu foto pertamanya adalah dengan saya juga. Soal foto, sepertinya mereka berdua sudah foto dengan kami sekeluarga sewaktu hendak berangkat ke Pantai. Ya, sebelum saya membonceng Bude dan Ayah membonceng Om Malik ke pantai.

Sepanjang ini, memori pagi hariku belum juga selesai. Bingung, akan kubawa kemana pembicaraan ini. Kami pulang membawa taksi, Ayah yang memesannya. Saya lupa taksi apa, platnya 1515 dan nomor teleponnya 888111, berwarna putih.

Sampai di rumah, barang-barang Bude dan Om dimasukkan ke taksi, dan saya disuruh ke bandara mengikuti taksi, dan juga bawa dua helm. Ibuku ikut di taksi, mengantar Bude ke bandara.

Singkat kata, taksi pun jalan dengan kecepatan sedang di jalanan pagi yang sepi. Waktu itu adalah sekitar pukul tujuh pagi. Yang saya herankan adalah karena si taksi ini menuju bandara, tetapi berjalannya ke arah pantai. Awalnya kupikir, mungkin saya salah dengar dengan kata bandara, mungkin maksudnya pelabuhan. Akan tetapi, taksi itu melewati pelabuhan. Pikiran pun lewat, taksi ini pasti lewat tol.

Terlambat. Saya sudah berada di jalan Nusantara, dan tidak mungkin saya berbelok arah menuju bandara dengan jalur konvensional. Saya bisa makan waktu jauh lebih lama lagi. Akhirnya saya memutuskan untuk melalui jalan kecil di samping tol untuk menuju bandara. Saya yakin akan sampai karena sedikit banyak saya pernah melewati jalan itu. Ya, saya sampai di sana meskipun ternyata saya sangat terlambat.

Saya parkirkan motorku, si Zero Serigala Merah, di parkiran motor bandara, antara pengait tali parkir keenam dan ketujuh berwarna orange dari arah kanan. Lalu, saya ke lobi. Awalnya saya bingung, karena saya nyasar di bagian bawah, lalu saya pun naik ke atas dan mendapati ibu di sana.

Di toilet wanita bersama Bude, ibu rasanya lama sekali. Saya merasa disuruh menunggu seperti ini tidak masalah. Selingan, ada orang yang keluar dari pintu keluar dengan membawa koper dan menanyakan di manakah pintu masuknya. Sepertinya orang ini nyasar. Haha… dan bodohnya saya juga tidak tahu di mana pintu masuknya. Saya asal jawab, dan dia tidak peduli. Saya memang menunggu di depan toilet yang itu juga berarti di depan pintu keluar bandara.

Capek melanjutkan. Sebenarnya belum semua saya masukkan di sini, masih ada candaan si Jombreng pukul tujuh pagi yang tiba-tiba dengan bangga bilang ke saya kalau dia itu ‘melankolis’ (ini lucu, ketawa dong). Dan beberapa kejadian tersisip yang tidak teringat waktu saya menuliskan ini. Huh sudah ah. Saya tidak punya cukup Mood untuk lanjut menulis.

Iklan

10 thoughts on “Potongan Diary: Melelahkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s