Diary: 2012.06.10.20.00-02.30

–Berpikir–

Sebuah catatan kehidupanku selama beberapa jam yang tidak penting dan tidak menarik. Just for typing.

Saya berada di ruangan itu, di mana forum evaluasi caturwulan ketiga bagi pengurus yang dulunya adalah anggota termuda. Saya masih cukup ingat dengan keangkuhan mereka dulu sebelum menjadi pengurus, dan sampai sekarang keangkuhan itu masih bertahan. Kalau bagiku, hal ini sebetulnya bukanlah suatu persoalan yang besar; lain halnya bagi kalangan senior yang lain, yang mengedepankan masalah attitude. Perilaku mereka mengecewakan. Sepatutnya memang begitulah tanggapanku sebagai seorang senior terhadap mereka. Akan tetapi, saya sudah terlalu maklum dengan mereka. Saya terlalu lemah terhadap mereka, terlalu lemah.

Benar saja, akhirnya mereka dihabisi habis-habisan di forum ini. Berbagai pertanyaan menusuk, kata-kata kasar yang menjatuhkan, dan sebagainya pun terlontar. Ini sudah menjadi budaya, tetapi sebenarnya bagiku ini tetaplah terasa tidak menyenangkan. Mendengar kata-kata kasar itu lagi menjadikan saya berpikir bahwa saya ini adalah besi gagal tempa.

***

Saya hendak memperhatikan forum, kupandangi barisan pengurus di sana. Mataku kemudian sepersekian detik terpaku pada sosok seorang perempuan di sana dengan jilbab berwarna coklat. Saat itu juga, jantungku berdetak kencang sebanyak sekali detakan, dan bibirku refleks berucap pelan, “Subhanallah, kenapa ada makhluk secantik dia?” Ini bukan pertama kali terjadi, jadi sebelum saya terpesona jauh lebih dalam, saya menghindar.

Apa daya, dia terlalu menarik. Mataku pun memandang ke arahnya selama beberapa saat sampai akhirnya saya merasa sedikit bosan dan tidak fokus lagi terhadap segala sesuatu. Sekalimat pemikiran aneh pun muncul di kepalaku, Apa hakmu, Zart? Lalu, saya pun berusaha fokus kembali kepada apa yang tengah dibicarakan forum, meski tetap saja saya gagal.

***

Saya mengambil novel yang berada di meja sebelahku, sekedar mengisi waktu karena kondisi forum sepertinya tidak menyenangkan. Saya membuka satu per satu lembaran novel itu, membaca kalimat demi kalimatnya yang menurutku tidak menarik itu. Sebetulnya saya bukan membaca novel itu untuk menikmati, melainkan untuk belajar bagaimana cara membuat novel. Saya memangkap maksud dari tiap chapter yang disajikan, dan saya pun mengerti sesuatu.

Perlahan, novel itu pun menjadi terasa menyenangkan untuk dibaca. Saya adalah orang yang bertipe ‘menerima’ atau biasa juga disebut perceiver,Β makanya saya pasti akan hampir selalu menikmati segala sesuatu yang ada di hadapanku. Biasanya, saya hanya butuh waktu untuk memahami. Novel itu pun menjadi menyenangkan, sampai senior di sampingku merampas novel itu dari tanganku.

“Zart, daripada kau baca ini, mendingan kau perhatikan LPJ ini.” katanya sambil merebut dengan mantap novel itu dari tanganku.

Dia pun membolak-balik novel tentang mitologi Romawi dan Yunani itu, bagian belakang, depan, lalu dia perlahan membacanya. Dia seniorku. Saya sendiri adalah senior, tetapi saya adalah senior yang masih ‘muda’ jika dibandingkan dengan senior-senior yang ada di ruangan ini. Kupikir, benar juga. Saya harus memperhatikan forum ini, dan bukannya malah membaca novel.

Memperhatikan forum ternyata menyebabkan kebosanan yang teramat sangat. Forum ini hendak menjatuhkan wibawa pengurus, ingin mengatakan kepada seluruh anggota bahwa pengurus tidak bertanggung jawab, dan mengatakan bahwa pengurus hanya kerja asal-asalan. Benar juga. Meskipun saya merasa ini sedikit menyakitkan, saya tahu mereka harus menerima pernyataan ini dengan lapang dada agar penerus mereka tidak mengulanginya.

***

Saya mengubah-ubah gayaku duduk di kursi yang dijejer rapi itu. Dan hampir setiap kali saya membuat gerakan, seorang berjilbab kuning yang belakangan ini memanggilku dengan sebutan ‘kakak lucu’ pun tertawa. Dalam hati sebetulnya saya bertanya-tanya kenapa dia harus tertawa; saya sudah terlalu sering melakukan gerakan aneh di lingkungan ini, dan saya sudah lama berada di sini, jadi seharusnya tidak aneh.

Saya selalu membalas tawa dengan tawa, membalas senyum dengan senyum. Begitulah saya. Hanya saja, saya teringat sebuah kalimat dari seniorku yang lain beberapa hari yang lalu bahwa ternyata saya memiliki senyum yang aneh. Dengan ini, saya yakin sekali senyumku juga bisa mengundang tawa bagi mereka yang tidak terbiasa. Namun, ternyata prediksiku salah. kukira orang di samping dan di belakangnya akan tertawa, tapi ternyata hanya si ‘adik lucu’ itu yang tertawa. Pertanyaanku, apakah dia menertawai semua orang? Ataukah dia memang merasa tingkahku ini lucu, atau mungkin aneh? Oh, saya tidak pernah keberatan ditertawakan.

***

Forum berlanjut, seorang senior lain datang dan sepertinya tempat duduk di barisan samping depan sudah penuh. Saya tidak mungkin membiarkan senior yang satu ini duduk di belakang; dia mantan ketua, dan dia berhak untuk mengevaluasi pengurus di tempat duduk terbaik. Saya pun bergeser ke belakang, kursi paling belakang, dan bersantai di sana.

Saya merasakan kebosanan yang teramat sangat di sini. Auranya sangat tidak fokus. Bisa kuamati orang di depanku sedang memainkan laptop yang bercolokkan modem di pangkuannya. Juga dua orang yang bercerita di samping kiriku, entah mendiskusikan apa. Dan orang di samping kirinya lagi yang sedang bermain rubik dengan cepat, speedcube.

Saya hendak menegur mereka, dan tentu saja saya bisa karena saya senior, tetapi saya memilih tidak melakukannya. Salah, saya bukannya tidak melakukannya, melainkan kehilangan mood untuk menegur setelah menegur pertama kali. Saya hanya sempat menegur orang yang bermain laptop di depanku, tetapi kemudian saya tidak melarangnya secara langsung, sungguh diplomatis. Saya berada di antara dilema kebosanan dan kedisiplinan. Jangan salah, saya adalah mahasiswa, tetapi saya sudah tidak memegang idealismeku sendiri. Kurasa itu artinya masalah.

***

Saya memutuskan untuk mengarahkan telunjuk dan jari tengahku ke pelipis kanan, seperti pose Xavier di X-Men. Saya berpikir. Mengarahkan jemari tanganku seperti ini membuatku sedikit nyaman karena membuat pelipisku sedikit hangat dan membuatku bisa merasakan sentuhannya. Saya berpikir, kenapa saya berpikir? Sebuah pemikiran yang aneh. Bahkan kelanjutannya pun lebih aneh, untuk apa saya berpikir seperti ini? Semestinya pemikiranku berhenti tepat sampai di sini, tapi ternyata tetap saja berlanjut.

Bosan. Pikiranku menjadi lelah berpikir hal tidak penting semacam itu, meski kuakui pikiran itu terus saja berlanjut sampai beberapa jam berikutnya. Saya mengabaikan pikiran aneh itu dengan mengeluarkan ponsel SAMSUNG GT-1080F yang kupunya, ponsel termurah yang menjadi ponsel sejuta umat versi 2012. Saya bermain game di sana, setidaknya sampai saya bosan untuk bermain game.

Kusadari mataku merabun. Saya pun bermain game dengan menjauhkan ponsel itu dari arah mata, lalu akhirnya memutuskan untuk menghentikan bermain game ini. Lelah dan bosan. Setidaknya, rasa bosan telah memiliki sahabat yang menemaninya yang disebut rasa lelah.

Saya kembali mengarahkan jemariku ke pelipis, seperti sebelumnya, dan berpikir. Pertanyaan-pertanyaan aneh itu pun kembali menyeruak. Bagaimana membuat cerita? Apa ceritaku tidak cukup menarik untuk dibuat cerita? Ya, kalau tidak ada hebat, tidak layak menjadi cerita. Saya tidak cukup hebat, jadi bagaimana caranya supaya terlihat hebat? Refleks saja pikiran itu menyeruak, entah kenapa.

***

Saya betul-betul tidak memperhatikan forum, saya berpikir alangkah baiknya jika saya melepas kebosananku di luar. Saya berjalan menuju ke pintu luar dan mengisi form perizinan. Kutulis namaku di situ, nomor anggotaku, dan ketika sampai pada kolom tujuan, saya terhenti sejenak. Saya melihat alasan-alasan yang dituliskan di kolom itu antara lain; WC, beli minum, sholat, terima telpon, dan sebagainya. Saya pun menuliskan dua kata di kolom itu: Ada deh. Saya sebenarnya tertawa sendiri di dalam hati, ini adalah perizinan keluarku yang ketiga dengan alasan yang sama: Ada deh. Tidak sopan memang, tapi yakin saja saya ini bukan orang yang dengan tidak sopan ‘kabur’ dari ruangan untuk tujuan ‘pulang’ tanpa berizin langsung ke pimpinan forum. Kurasa ini adalah salah satu perilakuku yang mungkin dianggap ‘lucu’.

***

Saya keluar ruangan, berjalan lambat dan perlahan, sambil berpikir. Berpikir untuk sesuatu yang tidak penting. Berpikir tentang pertanyaan bagaimana caranya. Berpikir tentang pertanyaan yang tidak pernah selesai kalimatnya. Kurasa saya harus melengkapi kalimat pertanyaan itu dulu baru bisa menjawabnya, sehingga pertanyaannya menjadi, bagaimana caranya supaya saya bisa mendapatkan ‘dia’?, atau bagaimana caranya supaya saya menjadi hebat sehingga saya patut diceritakan? atau bagaimana caranya membuat cerita yang bagus? Akan tetapi, tidak satu pun dari pertanyaan itu ternyata bisa terjawab.

***

Seorang dewan tinggi yang baru saja hendak memasuki ruangan memanggilku masuk juga, dia berkata, “Zart, Diklat sudah mau maju. Ayo!”

Kubilang, “Sebentar saya menyusul.”

Saya cukup tahu kalau divisi diklat tidak akan maju malam ini karena rekapitulasi kualitas anggotanya ternyata belum selesai. Saya cukup tahu kalau divisi operasional bantuan medis akan mengakhiri malam ini dengan evaluasinya. Tentu saya cukup tahu karena saya baru saja keluar dari ruangan dan mendengarkan forum, tidak seperti dewan tinggi yang mengajakku tadi; dia baru saja kembali dari suatu tempat.

Kepentinganku untuk masuk ke forum itu sebetulnya hanya karena divisi diklat, divisi yang dulunya saya di sana. Dan mungkin saja saat ini saya adalah calon Dewan Tinggi untuk divisi diklat selanjutnya. Entahlah, saya hanya ingin terus berpikir.

***

Malam berakhir seperti dugaanku. Dan pikiran-pikiran anehku pun masih terus berlanjut.

***

“Ini adalah kejadian dari jam delapan malam sampai jam setengah tiga malam hari kemarin, –maksudku malam Senin ini– yang membuat saya lupa untuk sahur. Ternyata membuat Diary itu betul-betul SUSAH! Bagaimana ya kira-kira kalau saya mau membuat cerita selama 24 jam? Huhuhu… (nangis). Asal tahu saja kalau ini juga belum mencakup semua kejadian pada kurun waktu enam setengah jam yang hampa itu.”

7 thoughts on “Diary: 2012.06.10.20.00-02.30

  1. Danni Moring Senin, 11 Juni 2012 @ 1:41 PM pukul 1:41 PM Reply

    hebat zart bisa nulis panjang gini..ini lagi mood atau ga?
    ahhaha ngindari lebih dalam yah.supaya ga terpesona lebih lagi ma cewe jilbab yang “subhanallah” ituπŸ˜€

    Falzart Plain:
    Eh eh eh, kenapa malah itu yang dikomentarin, Bang?

    • Danni Moring Selasa, 19 Juni 2012 @ 9:56 PM pukul 9:56 PM Reply

      ahhahaha jadi sebenarnya udah move on dari si eh ga jadi dehπŸ˜†

      Falzart Plain:
      Ehem…

  2. Ely Meyer Senin, 11 Juni 2012 @ 4:50 PM pukul 4:50 PM Reply

    setuju sama Danni …. bagi bagi tips dong gimana bisa menulis seperti di atas Falz

    Falzart Plain:
    kalau saya lagi mood ya bisa begitu, Mbak. Gimana ya tipsnya? Bingung sendiri nih saya…πŸ™‚

  3. yisha Senin, 11 Juni 2012 @ 4:55 PM pukul 4:55 PM Reply

    post panjaaaaaaang……….
    sakit bikin kangen nulis ya? met sembuh……….. πŸ™‚

    Falzart Plain:
    Iya…πŸ™‚ Sebenarnya galau lah yang menyebabkan kangen nulis.πŸ™‚ Tapi saya nggak galau.πŸ™‚

  4. jayputra9 Senin, 11 Juni 2012 @ 5:39 PM pukul 5:39 PM Reply

    Penggemar X-MEN ya?, saya juga punya tokoh fiksi yang saya suka BEN TENESEN, sayangnya dia tidak punya gaya khas, jadi tidak bisa bergaya seperti tokoh idola saya.

    Falzart Plain:
    BEN, saya juga suka. Tapi dia kan anak-anak, Tra. Ceritanya dia umur 15 tahun kan?πŸ™‚

  5. Asop Selasa, 12 Juni 2012 @ 12:10 PM pukul 12:10 PM Reply

    Ah, saya pikir bener2 hiatus lama. Ternyata Falzart tetap update. Hebat.πŸ™‚

    Falzart Plain:
    Hiatus sih, tapi kangen nulis.πŸ™‚

  6. freezerfananta Selasa, 12 Juni 2012 @ 12:38 PM pukul 12:38 PM Reply

    Menyimak gan….

    Falzart Plain:
    Makasih udah nyimak…πŸ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: