2012.06.14.08.45-11.20

–Remedial–

Lagi, beberapa kata tentang kejadian hari ini, Kamis 14 Juni 2012 dari jam 08.45 sampai 11.20. Just for writing.

Saya terbangun di ruangan ini, BEM. Usai shubuh tadi, saya tertidur di sini. Lagi. Dengan ini, total jam tidurku sejak semalam adalah delapan jam. Niatku tidur hanya lima jam, tetapi ternyata jam enam sampai hampir jam sembilan ini saya tertidur lagi. Tertidur di tumpukan soal kemarin. Tertidur di tumpukan ringkasan materi yang kubuat sendiri. Dan kini saya terbangun, kurasa mataku bengkak.

Ah, andaikan saja saya tidak tertidur, mungkin rasa sakit hatiku akan lebih besar dari ini. Pagi ini mereka yudisium, sementara saya masih ujian remedial mata kuliah terakhirku di kampus ini. Dosen koordinator sistem ini terlalu menyusahkan karena mengundur-undur hari ujian sampai hari ini. Kesal, tapi mau diapakan lagi? Saya hanyalah mahasiswa biasa yang tidak punya kekuatan dari segi genetik, apalagi material. Saya terima, saya tidak dapat yudisium hari ini. Sudahlah.

Lima belas menit, artinya saya tidak perlu mandi. Saya bergegas menuju ke kamar mandi, mencuci muka. Namun, saat kulihat di cermin, ada sesuatu yang tidak bisa kuhilangkan dengan sekedar cuci muka; mataku benar-benar bengkak. Ini hanya bisa diselesaikan oleh waktu, jadi kubiarkan saja.

Saya menuju tangga, berniat merangsek ke depan kantor Unit Pendidikan di fakultas ini, mencari informasi tentang ruangan ujian. Ternyata, di tangga ini banuak sekali mahasiswa. Yang tua maupun yang muda. Meskipun saya sudah mahasiswa tua, masih ada mahasiswa yang lebih tua dariku –kalau tepat waktu, semestinya titelnya sudah ‘dokter’– dan kami tentu saling mengenal. Dia menyapaku.

“Zart, baru bangun ya?” katanya

“Hahaha, begitulah, kak.” jawabku. Saya menjawab dengan tidak sopan karena bukannya berhenti, saya tetap menjejalkan kaki-kaki besarku di anak tangga.

Saya sampai di persimpangan tangga, menuju ke kantor Unit Pendidikan. Setelah tigabelas anak tangga, ada mading yang membuatku berhenti sebentar, dan masih ada tiga belas anak tangga lagi untuk menuju ke lantai dua; totalnya ada dua puluh enam anak tangga. Di perhentianku itu, saya mengamati beberapa mahasiswa yang juga punya tujuan yang sama denganku. Di luar dugaan, dia datang dari arah belakang.

Gadis berkacamata itu kali ini memakai jilbab oranye, baju putih bercorak bunga-bunga, serta bawahan berwarna sedikit lebih muda dari jilbabnya. Dia lewat dan menyapaku dengan senyumnya. “Subhanallah, senyum apa itu?” Saya pun membalas senyumnya dengan senyum. Ada sedikit keherananku tentang gadis ini; dia jarang sekali menyapaku dengan kata, kecuali kalau lagi ada perlu. Namun, keherananku itu tertutupi sepersekian detik oleh degup jantung yang tiba-tiba aneh untuk beberapa detakan sampai dia lewat. Dan juga tertutupi oleh salah tingkah akibat mata bengkakku yang kupamerkan kepada setiap orang yang melihat.

Saya cukup tahu kalau hampir seluruh mahasiswa yang ‘mahasiswa’ pasti sudah tahu pola hidupku ini, mereka tidak akan heran, termasuk juga gadis itu. Ah, andaikan saja saya menyempatkan diri untuk mandi. Sudahlah. Saya melanjutkan langkah kakiku ke kantor Unit Pendidikan di lantai dua itu, berjalan beberapa meter di belakang gadis berjilbab oranye itu. Saya sedikit takut untuk jalan berjarak terlalu dekat dengan dia, itu membuatku terkena semacam disritmiaΒ sesaat.

Akhirnya, saya pun tiba di depan kantor itu. Tampak banyak mahasiswa yang sedang belajar mempersiapkan dirinya untuk ujian remedial ini. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan lewat beberapa menit. Pengumuman ruangan ujian belum ditempel juga. Mahasiswa masih banyak yang berdiskusi. Saya pun mencari beberapa orang mahasiswa tua yang sebangsa seperjuangan denganku. Saya mendapatkan seseorang yang ingin nilainya segera dikeluarkan, maka saya pun membuat kesepakatan dengannya untuk menghadap kepada dosen koordinator sistem untuk percepatan nilai seusai ujian. Kurasa ini bagus, meskipun ada firasat yang Β menyatakan ketidaksesuaian rencana dan realisasi muncul dari benakku.

Usai membuat janji, saya bingung. Apa sekarang? Saya pun sekedar berjalan menuju tempat duduk di depan pintu masjid lantai dua. Masjid yang berada tepat di samping kantor Unit Pendidikan itu. Maka sebagian diriku berbisik, dhuha?

Saya tidak bisa menahannya di tempat duduk itu. Berbincang ringan dengan junior yang duduk di sampingku sama sekali tidak akan membuahkan efek apa-apa. Saya anti-nyontek, dan saya tidak akan membuat janji untuk kesepakatan yang berbau pernyontek-nyontekan. Lagipula, untuk apa saya yang sudah tiga kali ujian sistem ini berharap kepada mahasiswa yang baru sekali ini ikut sistem ini? Sekarang, saya tidak bisa menahannya lagi, saya pun melepas sepatu dan beranjak ke tempat wudhu.

Dhuha? bisikan itu muncul begitu saja. Dan seusai panggilan itu sudah saya tunaikan, ternyata bangku-bangku itu sudah kosong. Sekilas kulihat gadis berjilbab oranye tadi itu berlalu ke arah koridor sebelah kanan. Saya tahu, ruanganku pasti sama dengan ruangannya, tapi apa gunanya?

Sepatu kukenakan. Saya menghambur ke papan pengumuman pembagian ruangan ujian remedial. Tepat! Saya seruangan dengan gadis itu. Tapi, ah, kenapa hal itu yang kupikirkan? Saya pun berlalu menuju ruangan yang dimaksud.

“Hape dinonaktifkan, disimpan di tas, dan tasnya semua ditaruh di depan.” kata pengawas.

Saya tidak peduli. Saya tidak membawa tas, jaket hitam kesayanganku yang kukenakan ini sudah membawa segala yang kubutuhkan. Dan saya pun memilih tempat duduk, tempat duduk yang paling nekat yang pernah ada; tepat di depan pengawas. Ini bukan karena tidak disengaja, saya memang suka duduk di tempat seperti itu. Rasanya seperti menjamin originalitas jawabanku.

Seperti biasa, pengawas melakukan pengacakan tempat duduk, saya tetap berada di depan, tapi kali ini tidak di depan pengawas. Semuanya baik-baik saja sampai pilihan ganda soal seratus nomor itu pun dibagikan.

Tuhan! Soal macam apa ini? Stres, saya mencium bau stres itu terpancar di seluruh penjuru ruangan. Ini adalah soal yang sulit dan sangat membingungkan. Terpaksa, saya melakukan hal yang tidak boleh dilakukan. Analitik.

Saya menganalisa soal satu per satu, sampai perutku yang lupa sahur ini pun meningkatkan asam lambungnya. Stres memang selalu berhubungan dengan asam lambung, dan ini selalu terbukti utamanya di ruangan ujian dengan soal yang mencekam seperti ini. Saya melakukannya, analitik, sesuatu yang tidak boleh dilakukan karena kemungkinan salahnya adalah sangat besar. Tidak ada pilihan lain, saya melakukannya sampai soal keseratus.

Saya keheranan melihat banyaknya mahasiswa yang keluar ruangan untuk buang air kecil, entah AC di ruangan ini terlalu dingin, ataukah ini adalah efek dari stres akibat soal, ataukah strategi nyontek yang baru. Saya tidak peduli. Yang membuat saya lebih keheranan lagi, beberapa orang yang kukenal keluar dari ruangan sebelum waktu seratus menit itu habis; tetapi gadis itu tidak. Berhubung semua soal juga sudah kujawab di lembaran jawaban ini, saya juga melakukan hal yang sama; mengumpulkan lembar jawaban.

Keluar dari ruangan ujian, saya berpapasan dengan Yudi yang juga mengambil sistem ini lagi di semester ini.

“Bagaimana, bro?” katanya.

Kami bertatapan sejenak, terdiam.

“Sial!!! Soal apa itu tadi?!” teriakku kesal.

“Hahahaha… pasti kau stres, kan? Tadi saya keluar cepat karena itu juga. Daripada stres di ruangan.” katanya tersenyum.

Sial. Kukira Yudi belajar keras juga, ternyata dia juga merasakan penderitaan dengan kadar yang sama. Kami pun berjalan menuju kantin, sambil bercerita ringan tentang soal sulit tadi. Usut punya usut, ternyata Yudi juga melakukan hal yang sama; analitik. Tunggu dulu, eh, kantin?

Saya berpisah dengan Yudi di kantin, saya lalu menuju sekretariat, merundung duka sendirian, di sini, sambil menunggu keputusan akan titik terang yang tercipta. Entah apa.

Iklan

12 thoughts on “2012.06.14.08.45-11.20

  1. jadi benar ya stress itu berhubungan langsung dgn asam lambung, saya jd mengerti kenapa tiap stress selalu mules2 & berkeringat dingin 😦
    ohya, analitik? itu maksudnya berpikir dgn nalar kan? eliminasi jawaban, seperti itu? mm, saya sering melakukan proses analitik ketika mengerjakan soal, dan hasilnya relatif baik sekali. apa mungkin itu karena fisika dekat dgn penalaran ya? hehe πŸ™‚

    Falzart Plain:
    Iya, itu punya mekanisme tersendiri, nyeri dan stres itu bisa meningkatkan sitokin-sitokin tertentu yang punya efek langsung ke lambung. (*sotoy)
    Eh, terakhir analitik saya mempan adalah waktu semester 1, setelah itu teori terlalu banyak untuk dipelajari. Nah, karena terlalu banyak materinya, logika dan analisis sok tahu pastilah nggak mempan. Lagian opsi jawabannya itu selalu benar semua, cuman ada salah satu yang paling benar. Kalau udah begini cara analitik nggak mempan sama sekali.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s