Diary: Antara Panum dan Perang (Edisi Nggak Jelas)

Sebenarnya saya kering ide lagi pas di depan netbook nih. Akan tetapi, saya sangat bersyukur kiranya saya masih bisa bertemu dengan halaman New Post blog ini meski hanya sejenak. Kalau mau dihitung-hitung, nikmat yang kuperoleh sore ini sungguh banyak dan nggak bakalan bisa terhitung. Alhamdu… lillah. (Gaya Ustadz Nur Maulana)

Tadi katanya ada Panum. Jelek bener namanya. Katanya Dhenok sih, ini mirip merk eskrim. Tapi, eskrim apa ya? Saya nggak tahu, mungkin hanya Dhenok dan orang-orang yang sering nonton televisi khususnya iklan eskrim Magnum aja yang ngerti. OK, langsung saja kembali ke pokok bahasan kita, Panum. Menurut yang ikut Panum tadi, yang katanya ikutan Panum sampai ketawa-ketawa sendiri dalam hati karena ngelihat teman-temannya tidur di ruangan pas materi, Panum itu artinya Pembekalan Umum. Ya, tapi jujur ya. Saya nggak tahu kalau ternyata Panum itu adalah kepanjangan dari Kepaniteraan Umum (langsung Gugling).

Panum itu wajib katanya. Wajib sekali. Kalau nggak ikut, nggak bisa lanjut. Katanya, Panum itu seperti materi-materi ruangan yang membosankan saja disertai dengan keliling-keliling Rumah Sakit sampai ikutan sakit juga. Eh, nggak ding. Saya nggak tahu, saya hanya diceritakan saja sama teman saya yang wisuda kemarin. #mendadaksedih

Oh, mungkin ada yang bertanya-tanya apa gerayangan eh gerangan yang membuat gaya menulis saya menjadi agak sedikit narsis, aneh, gembira, dan bodoh secara bersamaan. Ini terjadi sejak saya mencabut status hiatus saya, Hahahaha… Ini barangkali nggak ada sama sekali hubungannya dengan Panum tadi, tapi sudahlah.

Perang telah usai, itulah sebabnya saya berhenti hiatus dan mulai ngeblog tiap hari lagi, seperti dulu. Perang? Ya, perang. Perang antara diriku sendiri dan diriku sendiri. Ringkasnya, saya sibuk. Akan tetapi, kata temanku saya galau. Kemarin-kemarin itu, saya sedang dirundung berbagai urusan. Urusan akademik lah, urusan organisasi lah, urusan hati lah, #eh. Pokoknya ribet. Kesemua urusan tadi sedang dalam masa kritis, di mana kejadiannya hanya akan terjadi sekali seumur hidup. Pada akhirnya, saya tidak bisa dibilang berhasil tapi juga tidak mau lagi dibilang gagal. Konkretnya, saya nggak dapat wisuda meski sudah kupersiapkan, dan dengan kesewenang-wenangan dari pihak koordinator sistem, saya tidak dapat yudisium hari itu. Itu baru persoalan akademik, persoalan organisasi pun demikian sulitnya, bedanya yang ini saya nggak tahu berhasil atau tidak. Persoalan hati? Nggak usah dibahas deh.

Kenyataan tidak seindah impian, dunia maya juga tidak seindah dunia nyata. Itulah seninya doa. Saya masih di sini, masih berharap sesuatu yang bagus akan terjadi seperti kemarin-kemarin beberapa tahun yang lalu ketika saya tidak benar-benar mengharapkannya dan harapan itu muncul. Ah, sudahlah. Saya hanya ingin merasa gembira, seolah-olah bebanku tidak ada lagi. Ya, apa lagi coba? Kan, perangnya sudah usai.🙂

13 thoughts on “Diary: Antara Panum dan Perang (Edisi Nggak Jelas)

  1. Ely Meyer Jumat, 22 Juni 2012 @ 5:06 PM pukul 5:06 PM Reply

    kalau perangnya sdh usai khan tinggal dirayakan kemenangannya Falz

    Falzart Plain:
    Kan nggak menang, Mbak…😀

    • Ely Meyer Jumat, 22 Juni 2012 @ 5:38 PM pukul 5:38 PM Reply

      menang atau nggak menang yg penting khan udah selesai perangnya Falz

      Falzart Plain:
      Iya, kan saya gembira nih sekarang, Mbak…😀

  2. Danni Moring Jumat, 22 Juni 2012 @ 5:14 PM pukul 5:14 PM Reply

    ga wisuda sekarang ga apa2 zart😀.. yang penting udah berusaha😀.. #sokBijak😆

    Falzart Plain:
    Saya nggak perlu lagi ngejar wisuda. Wisuda mendatang, dia yang akan kejar-kejar saya. Saya yakin!

  3. Idah Ceris Jumat, 22 Juni 2012 @ 6:24 PM pukul 6:24 PM Reply

    Baru kenal Panum disini. . .
    ikut bergembira karena perang telah usai. . .😉

    Falzart Plain:
    Perang telah usai, sekarang tinggal membereskan sisa-sisa perang untuk perang selanjutnya…😀

  4. jayputra9 Jumat, 22 Juni 2012 @ 8:15 PM pukul 8:15 PM Reply

    saya sangat suka keliling rumah sakit tapi saat malam. unik aja rasanya. saya juga suka perang oleh karena itu saya suka ngoleksi permainan perang. ingin menjadi komandan perang.

    Falzart Plain:
    Eh, gitu ya Tra? Emang keliling RS malem-malem gimana rasanya?

  5. sweetyvinz Jumat, 22 Juni 2012 @ 9:13 PM pukul 9:13 PM Reply

    gak pernah panum jd gak ngerti hehe…
    tp yg pasti saya benci rumah sakit……..

    Falzart Plain:
    Makanya, jangan sakit…😛

  6. puchsukahujan Sabtu, 23 Juni 2012 @ 8:58 AM pukul 8:58 AM Reply

    Bolehlah situ udah selesai perangnya, saya baru mulai menakhlukkan tantangan 29 Juni, semoga kali ini saya berhasil😀

    Falzart Plain:
    OK.. Saya dukung dari sini, biarpun dengan doa saja… Bantu saya juga karena perangku belum menang (meski sudah selesai)…😀 #eh

  7. jayputra9 Sabtu, 23 Juni 2012 @ 11:09 PM pukul 11:09 PM Reply

    seperti nonton film horor rasanya, kebetulan saat itu keluarga tra lagi nginep di rumah sakit. ya mumpung di sana, iseng buat menjelajah saat tengah malam kebetulan ngidap insomnia juga. rumah sakit agak sepi jika tengah malam. ingin membukti in hantu di film horor. ternyata benar lo tra kadang kadang melihat sekilas, samar samar cuma bentar sesok putih mungkin imajinasi tra, dan juga seperti ada yang ngikutin tra di belakang padahal gak ada ama ada suara suara aneh. tra juga seperti ada yang memperhatiin. tanpa sadar tra seperti diarah kan ke suatu tempat. #akhir cerita tra dimarahin ama ayah karena menghilang begitu saja.

    di rumah sakit selalu seperti itu ya falzart?

    Falzart Plain:
    Nggak tahu juga, Tra. Soalnya saya nggak bisa ngelihat yang gitu-gitu. Menurutku biasa aja.

  8. jayputra9 Sabtu, 23 Juni 2012 @ 11:37 PM pukul 11:37 PM Reply

    iya kata teman tra, dokter di rumah sakit gak bakalan diganguin. mereka suka ganguin orang baru, atau ngajak anak kecil main. kebetulan (lagi lagi kebetulan) tra saat itu masih kelas 4 sd.

    Falzart Plain:
    Wah, sudah bisa ngeliat dari kecil ya Tra? Hiii… serem deh… Mereka nggak gangguin dokter RS kan? Kalau misalnya dokter baru, gimana? #eh, saya bukan dokter

  9. jayputra9 Minggu, 24 Juni 2012 @ 4:15 PM pukul 4:15 PM Reply

    mungkin tidak, tra juga tidak pernah nemuin orang kesurupan di rs. mereka cuma memajang diri mereka. tra juga seram lihatnya. dulu kecil tidak apa apa tapi sekarang udah tahu artinya takut. film horor memang berpengaruh terhadap tra.

    Falzart Plain:
    Jadi ini juga efek filem horror? Sering nonton ya?

    • jayputra9 Senin, 25 Juni 2012 @ 12:22 PM pukul 12:22 PM Reply

      iya, mungkin karena keseringan nontonnya, atau karna tra suka berimajinasi. tra suka film horor setelah film kartun.

      Falzart Plain:
      Saya paling males malah nonton filem horror. Pikirku: Ini pasti bohongan, trik apa yang dipakai, ya?😆

      • jayputra9 Senin, 25 Juni 2012 @ 9:53 PM pukul 9:53 PM

        iya, tra juga bingung. ngapain film horor dibuat, gak ada lucu lucunya gitu. tra sebenarnya terpaksa nontonnya. #makin ngelantur.

        Falzart Plain:
        Mungkin filem horror memicu adrenalin sehingga ada sensasi menyenangkan yang timbul, Tra.🙂

  10. jayputra9 Rabu, 27 Juni 2012 @ 1:22 AM pukul 1:22 AM Reply

    tra, lebih suka micu adrenalin dengan berlari depan mobil tronton. pasti lebih menyehatkan. iya kan falzart?

    Falzart Plain:
    Nah, itu baru horror…😆

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: