Menunggu di Tepi Hujan

Angin berhembus pelan, langit hampir tertutup awan. Aku masih berjalan-jalan kecil, hilir mudik, menunggu. Langit makin gelap terasa mendung, tapi rinai gerimis belum juga turun. Aku masih bisa menunggu di sini, setidaknya di sekitar sini. Jalur bolak-balik yang sedari tadi kujejali kini kutinggalkan dan sekarang adalah giliran bagi kursi di halte kuning itu untuk merasakan kegelisahanku.

Halte kuning itu mungkin dulunya adalah telepon umum koin, aku bisa melihatnya dari corak cat yang melambangkan perusahaan komunikasi tertua di negeri ini. Atau mungkin juga tidak, aku tidak tahu persisnya. Lapangan hijau di belakangku ini dipagari oleh dinding rendah bercat kuning dan merah bata, serta aku juga bisa melihat sebuah gapura yang menjadi gerbang masuknya. Di atas gapura itu tertulis jelas, Lapangan Sepak Bola Emmy Saelan. Aku tidak mungkin salah tempat.

Jalan Hertasning, depan Kantor PLN Sulselrabar, di sudut jalan, kami berjanji bertemu di sini. Entah mengapa dia memintaku bertemu dengannya di sini. Kenapa bukan di rumahnya saja?

Langit makin gelap dan angin makin sepoi-sepoi. Kurasa akan ada badai sebentar lagi. Namun, kemungkinannya kecil menurutku. Tempat ini berada di tengah kota, yang paling mungkin turun saat ini adalah air mata langit yang kemudian akan meluluhlantahkan bumi dan mengusir anak-anak kecil yang tidak terlalu ramai bermain di lapangan di belakangku itu. Dan, sesuai dugaanku, sekarang aku harus mengangkat kakiku di atas kursi halte untuk menghindari percikan hujan yang menghempas lumpur.

Di depanku kendaraan berlalu-lalang, sebuah jalan dua arah yang dibatasi oleh trotoar. Jauh di depan sana, ada kantor besar PLN Sulselrabar. Pikirku, dia pasti sedang berada di sana. Entah magangnya istirahat jam berapa. Akan tetapi, ya sayang sekali, dia terlambat dari perjanjiannya.

***

“Kakak, aku lulus!” Rio bersorak, lalu menghambur memelukku.

“Lulus apa? Dari mana kamu? Usai Tarwih kenapa teriak-teriak begitu?” tanyaku heran, sedari tadi aku berada di rumah, tetapi adikku ini baru saja tiba.

“Warnet, coba tebak lulus apa?” lalu dia tersenyum, sebuah senyum yang kadang tidak mengenakkan bagiku karena merupakan sebuah bahasa tubuh bahwa dia hendak meminta uang.

“Oh, itu… Alhamdulillah deh, jadi selanjutnya bagaimana? Sudah bisa mengurus sendiri kan?” Aku tersenyum, sedikit mewanti-wanti sikap ketergantungan adikku itu. Dia pasti tahu bahwa aku hendak menolak bahasa tubuhnya.

“Menurut yang kubaca tadi, hari Senin aku sudah harus ada di Makassar, katanya buat pengarahan selanjutnya.” Jawabnya.

“Terus, kuliahnya mulai kapan?” tanyaku lagi.

“Entahlah.”

Percakapan itu terjadi begitu cepat, Rio bergegas ke kamarnya, menyiapkan barangnya dengan segera, lalu bermalas-malasan di kursi malasnya dengan santai. Suasana di kota Masamba terasa hangat malam ini, sungguh memanjakan Rio untuk bermimpi tentang cita-citanya untuk bekerja di Perusahaan Listrik Negara itu. Dia terlelap, seperti dugaanku.

Aku tidak terlalu memperhatikan apa yang Rio gumamkan dalam tidurnya itu. Dua bulan sudah dia menunggu pengumuman kelulusan calon mahasiswa ikatan kontrak dengan Perusahaan itu, kurasa terlalu banyak mimpi yang berlalu selama itu dan berkumpul semuanya di malam yang hangat ini. Aku tidak harus peduli dulu tentang mimpinya, aku hanya harus menyiapkan makanan untuk sahur kami berdua nanti.

***

Pagi itu telepon berdering, membangunkanku dari tidur pagi yang melelahkan. Semenjak kedua orangtuaku meninggal, akulah yang harus membiayai adikku yang usianya terlampau jauh dariku, delapan tahun. Aku yakin, telepon ini adalah Rio yang hendak minta dikirimkan uang lagi. Pertanyaan berseliweran di kepalaku, baik-baik sajakah dirimu di Makassar, dik?

“Halo kakak, minggu depan aku sudah mulai magang.” katanya gembira.

“Magang? Wah, cepat sekali. Jadi, apa yang harus dibayar lagi, Rio?” tanyaku.

“Ah, kakak. Bukan ituuu… Kakak selalu mikirnya itu mulu…”

“Terus apa?”

“Aku mau kakak lihat seragam baruku.”

“Yah, kirim saja lewat email fotomu, dik.”

“Hahaha… Tidak, aku mau bicara sesuatu juga sama kakak.”

“Tentang apa? Tentang Nita pacarmu itu kah?”

“Pokoknya kutunggu di Makassar, ya!”

Lalu dia pun menutup teleponnya. Sejujurnya aku juga merindukan dia, jadi mungkin tidak ada salahnya kalau aku berangkat ke sana untuk menemuinya. Satu setengah, eh bukan, hampir dua tahun dia meninggalkan Masamba. Itu cukup lama. Dan mengeluarkan uang untuk hal seperti ini kurasa tidak ada salahnya juga.

***

Hujan tidak kunjung reda, malah semakin deras. Ada apa ini? Firasatku tidak enak. Aku membalik telapak tanganku dan menyingkapkan ujung lengan bajuku, mencoba melihat sudah berapa lama aku menunggu. Lima puluh menit. Rio sudah terlambat sepuluh menit dari perjanjian, dia bilang akan menemuiku di sini.

Aku mencoba menenangkan diri, aku merapatkan punggungku di sandaran tempat duduk halte ini. Aku jadi berpikir ini sebenarnya bukan halte karena tidak ada kendaraan umum yang berhenti di sini dari tadi. Melakukan hal bodoh, aku menghitung jumlah kendaraan yang melaju kencang sampai aku terlelap di kursi itu. Hujan memang sepertinya selalu turun bersama dengan malaikat pembawa kenikmatan tidur. Dan ini sama sekali tidak menghabiskan biaya.

***

Aku membuka mataku. Hujan belum juga reda. Aku melihat orang berkerumun di seberang jalan sana, tapi aku tidak peduli. Aku lebih peduli pada berapa lama aku telah menunggu di sini. Kupandangi jam tangan coklat yang melingkar di punggung tanganku, ternyata aku tertidur cukup lama, satu jam. Rio tidak pernah seterlambat ini. Kalau dia menyuruhku menunggu di sini, dia pasti sudah mengintaiku dari tadi. Tapi, aku belum melihat di mana Rio berada.

***

Kerumunan itu reda, sebuah mobil Ambulans berlalu dan sontak semua orang yang berkerumun di sana pun kembali berlindung dari hujan yang tidak kunjung reda. Tiba-tiba firasatku tidak enak. Aku terlalu malas untuk berbasah-basahan melihat kejadian itu dari dekat, aku hendak menghubungi Rio sekarang. Aku takut terjadi apa-apa dengannya. Dan ketika aku hendak menekan tombol panggil di ponselku, ponselku berdering. Sebuah telepon masuk, dari nomornya Rio. Firasatku sedikit tenang.

***

“Halo, Rio. Kenapa lama sekali?”

“Mbak, Rio kecelakaan.”

“Apa? Ini siapa?”

“Nita, Mbak. Dia kecelakaan di depan Lapangan Emmy Saelan, tertabrak mobil. Sebaiknya Mbak cepat ke rumah sakit sekarang.”

“OK, saya segera ke sana, tapi rumah sakit mana?”

“Rumah sakit yang di Hertasning itu. Aduh, Mbak. Saya lupa namanya.”

Kututup telepon itu. Kami sama-sama panik sekarang, kurasa itulah alasan mengapa dia lupa. Aku pun berbasah-basahan menghambur ke arah jalan, dan menanyakan perihal barusan kepada orang yang masih berdiri di seberang jalan sana. Aku tidak menyangka perjanjian hari ini akan berakhir begini. Sungguh tidak menyangka. Anak itu, betul-betul menghabiskan banyak biaya.

Huft. Sebenarnya saya nggak pintar bikin beginian. Emangnya saya pintar apa sih, sebenarnya?πŸ˜† Saya mencoba ikut di GA-nya Sulung, kategori fiksi, nih. (Rencana pengen ikut juga yang kategori non-fiksi, tapi nggak jadi deh. The Last: Selamat Panjang Umur buat Sulung Lahitani Mardinata si Anak Pertama, semoga diberikan kesuksesan dan kemudahan dalam segala hal.πŸ˜€ Aaamiiin.

17 thoughts on “Menunggu di Tepi Hujan

  1. elfarizi Selasa, 26 Juni 2012 @ 1:10 PM pukul 1:10 PM Reply

    Sini, Mbak … saya sediakan bahu kalo Mbak mau nangis …πŸ˜›

    Falzart Plain:
    Bahunya bungkus, ya. Kalau bisa diiris tipis-tipis…

    • gandifauzi Selasa, 26 Juni 2012 @ 1:32 PM pukul 1:32 PM Reply

      Awas si tetah marah,πŸ˜†

      Falzart Plain:
      Iya, awas…

      • elfarizi Selasa, 26 Juni 2012 @ 1:35 PM pukul 1:35 PM

        Gapapalah Gandi … yang penting gak genit sama si Mbak Jogja wewπŸ˜›πŸ˜†

        Falzart Plain:
        Nah, ini juga awas, ya…πŸ˜†

      • Danni Moring Rabu, 27 Juni 2012 @ 7:09 PM pukul 7:09 PM

        Hahahahahahhahaahahahha…. ada suatu kota yang disebut-sebut ituπŸ˜† ….. gandi di bullyπŸ˜†
        btw si el ini kayaknya tempat penyedia bahu ya?πŸ˜€

        Falzart Plain:
        Sepertinya… Tunggu dulu, (kota), (jogja),(gandi), jadi mungkin jawabannya … aduh, no idea.πŸ˜†

  2. sulunglahitani Selasa, 26 Juni 2012 @ 1:15 PM pukul 1:15 PM Reply

    Sudah terdaftar sebagai peserta Hajatan Anak Pertama, Mas
    Terima kasih atas partisipasinyaπŸ™‚

    Falzart Plain:
    Hehehehe… terima kasih Mas Sulung…πŸ˜€

  3. ririe Selasa, 26 Juni 2012 @ 3:18 PM pukul 3:18 PM Reply

    pilihan judulnya ‘eye catching’ banget..menunggu di tepi hujan..punya makna yang filosofis..

    Gudluck kontesnya yaa

    Falzart Plain:
    Padahal nggak sesuai isinya, ya?πŸ˜†

  4. Idah Ceris Selasa, 26 Juni 2012 @ 3:56 PM pukul 3:56 PM Reply

    “Aku tahu terjadi apa-apa dengannya”.

    agak rancu dengan kalimat diatas, mas. . .

    Falzart Plain:
    typo, udah diganti kok…πŸ™‚

  5. ~Amela~ Selasa, 26 Juni 2012 @ 5:36 PM pukul 5:36 PM Reply

    bagus kok zart.. wah lama sekali ga mampir ke sini. hehehe
    belum ngecek blackbook of despair juga.. udah ada lanjutannya belum?

    Falzart Plain:
    Belum. Lost of Mood nih…πŸ˜€

  6. giewahyudi Selasa, 26 Juni 2012 @ 9:43 PM pukul 9:43 PM Reply

    Kalau di tengah hujan nanti ditabrak mobil, eh itu di tengah jalan ding..

    Falzart Plain:
    πŸ˜† Dibalik ya, Mas Gie? Bener juga sih…

  7. Ely Meyer Selasa, 26 Juni 2012 @ 10:20 PM pukul 10:20 PM Reply

    semoga menang kontesnya Falz

    Falzart Plain:
    Thanks, Mbak…πŸ˜€

  8. jayputra9 Rabu, 27 Juni 2012 @ 12:31 AM pukul 12:31 AM Reply

    lomba lagi, tra suka. tapi gak bisa ngikut. tulisan dan bahasa tra gak bagus. juara ya dokter falzart.

    Falzart Plain:
    Ngikut aja Tra. Nggak ada salahnya kok kalau ikutan.πŸ˜€. Ini lebih dari sekedar lomba, ini menulis.πŸ™‚

    • jayputra9 Kamis, 28 Juni 2012 @ 5:20 PM pukul 5:20 PM Reply

      gkgk, kak falzart gokil. kalo saya suka lo di kasih gelar sebelum jadi. misalkan profesor tra, kolonel tra, kapten tra, atau lionel tra. kalo gitu tra panggil kak falzart y.

      Falzart Plain:
      Tahu mitosnya nggak? (*mitos :lol:) kalau kita sendiri yang menyematkan sesuatu yang ‘belum waktunya’ ke diri kita, maka kita akan lama jadinya. Tumben ada perhatiin kalau kata itunya kucoret…πŸ˜† Bagaimana Professor Kapten Lionel Tra?

      • jayputra9 Jumat, 29 Juni 2012 @ 11:08 AM pukul 11:08 AM

        gak jadi. panggi tra aja ya kak falzart.

        Falzart Plain:
        OK deh…

  9. angananTyas Rabu, 27 Juni 2012 @ 12:55 PM pukul 12:55 PM Reply

    bagus kak Falz, twist alurnya kereeen; semoga menang kakπŸ™‚

    Falzart Plain:
    thanks, Kur :D… Saya sebetulnya nggak bakat bikin ginian.

  10. amhar Rabu, 27 Juni 2012 @ 12:58 PM pukul 12:58 PM Reply

    bagus,,,GA lagi ya..banyak ga..

    Falzart Plain:
    Iya nih…πŸ˜€ Kok namanya dibalik, Rahma?πŸ™‚

  11. Danni Moring Rabu, 27 Juni 2012 @ 7:10 PM pukul 7:10 PM Reply

    wuihhhhh ikut GA ternyataπŸ˜€, itu memang ga ada kelanjutannya lagi ya ceritanya…

    Falzart Plain:
    Kelanjutannya: Mereka hidup bahagia selamanya…πŸ˜€

  12. puchsukahujan Kamis, 28 Juni 2012 @ 10:09 AM pukul 10:09 AM Reply

    saya ke sini cuma karena penasaran, ada ‘hujan’ di judulnyaπŸ˜€

    Falzart Plain:
    Tapi kan nggak ada Petrichornya?πŸ˜†

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: