Aku dan Bidak Catur

Memikirkan bagaimana aku melangkah, seperti memikirkan bidak mana yang akan kumajukan. Aku selalu bermain cepat, melangkahkan bidak mana dengan serangan tidak terarah. Perencanaan sederhana berpadu dengan keangkuhan langkahku yang membuat bingung lawan. Kukira aku akan menang, tetapi tepat ketika aku sadar sesuatu , suasana pun menjadi mencekam.

Seluruh bidak andalanku dalam bahaya, Ratu, Benteng, Kuda, Peluncur, bahkan Raja. Bahaya dalam keadaan bersamaan dan berantai. Aku dalam bahaya kekalahan. Kesombongan membuatku termakan jebakan. Aku kini sadar, di setiap langkahku aku membuat kesalahan. Di setiap seranganku aku tidak terlalu memikirkan efek serangan itu. Dan setiap taktikku terlalu mudah dibaca lawan.

Ketegasanku dalam melangkah adalah sebuah kebodohan. Setiap kali kupikir ‘ya’ maka aku akan melaksanakan ‘ya’, dan setiap kali kupikir ‘jangan’ maka aku akan melaksanakan ‘jangan’. Aku tidak pernah berpikir terlalu panjang bahwa di balik ‘ya’ ada ‘jangan’, dan dibalik ‘jangan’ ada ‘ya’. Aku tidak pernah terlalu panjang berpikir untuk melangkahkan bidak-bidakku dengan bijaksana.

‘Langkah Klasik’, begitu kata lawanku. Tepat ketika dua kata itu terlontar, aku sadar bahwa aku terpojok. Lawanku bermacam-macam. Ada yang dengan sedikit bidak dia berhasil menguasai hampir seluruh pergerakan bidakku, gerakannya benar-benar efisien. Ada pula yang bidaknya tersusun rapi dengan formasi pertahanan tertentu sehingga butuh pengorbanan lebih untuk menembusnya. Juga ada yang bidaknya seolah berantakan, tetapi seperti serigala berbulu domba selalu memanfaatkan serangan ‘open’ semacam ‘openskak’.

Dalam kehidupan, beginilah langkahku, ‘klasik’, mengambil kesempatan dengan beringas tanpa perencanaan yang matang. Aku mudah sekali kalah. Aku bukanlah seperti si ‘efisien’ yang hanya dengan beberapa bidak mampu menguasai lapangan, juga bukan seperti si ‘rapi’ yang selalu punya rencana cadangan, dan juga bukan seperti si ‘licik’ yang memanfaatkan ketamakan lawannya. Aku hanyalah si ‘klasik’ amatiran yang bahkan tidak pernah menyadari bahwa aku sedang dimanfaatkan.

Sekarang aku terjebak. Apa yang harus kulakukan?

Kuyakin, hidup ini tidak seperti ‘permainan’ catur. Hidup adalah ‘biji’ catur yang langkahnya sudah jelas ke mana. Raja hampir selalu bersembunyi dengan langkah sederhananya dan Ratu sudah pasti beringas dengan langkahnya yang bebas ke segala arah, mungkin sulit ditebak, tapi yang menciptakannya telah menentukan ke mana dia akan berjalan. Mereka tidak perlu khawatir tentang dirinya akan dimakan oleh bidak lain atau tidak. Benteng yang selalu berjalan lurus pun begitu, sama persis dengan Peluncur yang berjalan menyilang dan menyelinap. Juga Kuda, yang paling ahli dalam meloloskan diri meski langkahnya pendek. Semuanya sudah berjalan dengan cara jalannya masing-masing dan percaya bahwa mereka akan sampai ke tujuannya, tidak peduli menang atau kalah. Bukan mereka yang memainkan diri mereka, melainkan yang menciptakan mereka.

Aku hanyalah prajurit biasa, langkahku hanya maju selangkah setiap ada kesempatan. Mungkin aku bisa melangkah cepat pada langkah pertama, tetapi setelahnya aku akan lelah dan berjalan selangkah-selangkah selama ada kesempatan. Aku ini juga mudah tergiur, tapi bagaimana lagi? Aku hanya prajurit. Setiap kenikmatan bisa membelokkanku dari jalanku yang semula lurus. Selain itu aku mudah sekali dihentikan. Cukuplah seseorang berdiri tepat di depanku dan terhentilah aku.

Jika aku adalah benteng, semua yang berada di depanku akan kutendang sampai hancur. Jika aku adalah Peluncur aku akan menyelinap lincah melalui jalan sempit. Jika aku adalah Kuda, aku akan melakukan langkah ajaib dan menghilang ke belakang mereka yang menghalangiku. Jika aku adalah Ratu, aku akan melakukan hal terbaik yang bisa mereka bertiga lakukan. Namun, jika aku adalah Raja, aku akan lari bersembunyi. Sayangnya, aku hanyalah prajurit catur yang selalu melangkah pelan, mudah tergiur, dan mudah dihentikan.

Akan tetapi, bukan aku yang memainkan langkahku. Langkahku sudah ditentukan. Dia, Yang Menciptakan aku telah membuat seolah-olah aku berjalan dan memilih langkahku, padahal sebenarnya Dia-lah yang menjalankanku. Entah aku akan terus berjalan, entah aku akan tergiur dan melenceng dari jalanku, atau justru dihentikan dengan mudah oleh seseorang, atau lebih parah: dimangsa oleh bidak lain. Aku tidak tahu, tidak perlu tahu, aku hanyalah bidak prajurit yang terus hidup dan berjalan maju menuju takdirku. Aku akan selalu tahu kemana seharusnya aku melangkah, mudah-mudahan langkahku adalah langkah yang benar. Kalaupun aku mati, kuharap ada kemenangan di baliknya, ada ’ya’ dibalik ‘jangan’, atau ada ‘menang’ dibalik ‘mati’, persis seperti bidak catur.

-end-

8 thoughts on “Aku dan Bidak Catur

  1. misstitisari Selasa, 24 Juli 2012 @ 5:22 PM pukul 5:22 PM Reply

    ngga apaapa fal langkahnya cuma bisa selangkahselangkah, biar pelan asal selamat😀

    Falzart Plain:
    Ya, nggak apa-apa. Kurasa juga begitu, Miss.

  2. @SobatBercahaya Selasa, 24 Juli 2012 @ 6:46 PM pukul 6:46 PM Reply

    biar jalannya ga selangkah2 aku sulap aja yaaa kamu jadi kuda.
    gesit-zigzag, pokoknya enak dah jadi kuda tapi kamu harus makan rumput. :p

    maju terus pantang mundur, alon alon asal kelakon. :))

    Falzart Plain:
    Kuda catur nggak makan rumput, lho. Dia makan semuanya.

  3. Ely Meyer Selasa, 24 Juli 2012 @ 9:16 PM pukul 9:16 PM Reply

    nggak ngeh sama catur, tapi kalau bicara klassik , aku pecinta musik klassik

    Falzart Plain:
    Saya juga Mbak, tapi sebatas suka, nggak cinta sama musik klasik.😀

  4. Ely Meyer Selasa, 24 Juli 2012 @ 9:20 PM pukul 9:20 PM Reply

    btw, blognya Danni nggak bisa kebuka ya Falz ? dia khan sering mampir ke blogmu ini ya

    Falzart Plain:
    Iya nih, Mbak. Terakhir saya cek sih begitu…

  5. Dhenok Habibie Rabu, 25 Juli 2012 @ 11:31 AM pukul 11:31 AM Reply

    keren mas, gk tahu ini beneran nyata menceritakan tentangmu atau tidak.. tapi cerita aku dan bidak catur ini keren.. serius!! santai, sederhana tapi kamu bisa menceritakannya dengan sangat jelas dan rinci..🙂

    Falzart Plain:
    Ini aku, si bidak catur.🙂

  6. puchsukahujan Rabu, 25 Juli 2012 @ 1:29 PM pukul 1:29 PM Reply

    curcol terselubung…

    Falzart Plain:
    Nggak terselubung, kan ini blog pribadi. Dikhususkan untuk itu…

  7. affanibnu Rabu, 25 Juli 2012 @ 1:29 PM pukul 1:29 PM Reply

    bidak catur sekali tumbang, tumbanglah sudah…

    kita hanya dapat berharap pada pion pion yang seharusnya menjadi korban untuk menjadi perdana menteri ketika menyentuh garis akhir pada setiap langkah…

    Falzart Plain:
    Bagitu juga Aku, si bidak catur. Ketika Ratu wafat, maka aku bersiap menjadi Perdana Menteri.

  8. de cipia Rabu, 1 Agustus 2012 @ 5:40 PM pukul 5:40 PM Reply

    Yup! Analoginya pasdan menarik . Saya pun bisa memetik pesan hikmahnya. 😉

    Falzart Plain:
    Hahahaha… Iya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: