Sarjana

Tidak terasa sudah beberapa bulan sejak kita bertemu kembali, berbagai cara sudah kulakukan untuk beradaptasi dengan keadaan demi metamorfosis rasa menuju ke bentuk yang lebih baik. Sayangnya, semuanya selalu kembali kepada pemakluman -bentuk adaptasi absolut- yang berujung pada stagnansi bentuk rasa.

“Ah, bicara apa aku ini?” Kataku memecah hening. Padahal sebelumnya tidak ada yang berbicara apa-apa.

Sendirian, sebuah keadaan yang selalu membuatku berbicara sendiri. Entah di dalam hati, entah itu terlontar oleh lidah lancangku ini, semuanya adalah refleksi diri melalui logika dan rasa, hanya saja semuanya dipengaruhi oleh benda-benda tempatku becermin yang kian tidak stabil. Mereka bermetamorfosis.

Aku duduk di kursi panjang dengan kaki terlipat ke atas kursi, melamun, memandangi sekeliling. Tampak alat-alat kantor berserakan di tempatku bertugas kini. Seingatku pagi tadi semuanya sangat sibuk kasak-kusuk sana sini sampai tidak peduli pada apapun. Sekarang? Aku bahkan bisa berbicara pada semua yang ada di sini, printer, kertas yang berserakan, catatan yang tertempel di papan, kursi panjang yang diterpa hangat mentari, dan semuanya mengatakan aku telah gila.

***

Aku duduk, menunggu apa yang akan datang di ponselku siang ini. Aku menunggu kabarnya, untuk bisa mengirim balasan selamat untuk yudisiumnya hari ini. Aku gila, aku lagi-lagi berbicara pada diriku sendiri. Apakah ini suatu pertanda gangguan jiwa yang nyata? Kenapa pula aku harus jadi gila? “Masalahmu apa?” kataku pada pantulan wajah yang ada di monitor laptopku. Aku sendirian di sini, aku benar-benar gila.

“Segalanya tidak berjalan sebagaimana mestinya, kau sadar tidak?” kurasa itu sisi berwarna hitamku yang berbicara. Dia berbicara kepada pantulan di layar laptopku, sehingga aku merasa dimarahi. Sial! Kenapa pula aku dimarahi? Aku salah apa?

“Kau buyar! Kau sadar tanggung jawabmu tidak?” lanjutnya. Aku kini sadar bahwa yang dimaksudkan si hitam adalah menyangkut pekerjaanku yang berserakan tidak beraturan. Hitam, dia adalah logika dengan banyak rasa takut.

“Tenangkan dirimu, kau tidak bisa berpikir dalam kondisi serba salah.” kurasa ini si hijau yang berbicara. Secara langsung dia membuatku menghela napas panjang dan merasakan oksigen 21% yang berceceran di udara sekitarku.

“Banyak pekerjaan! Jangan terlalu santai. Ayo kerja lagi!” tanpa kusebutkan kurasa semuanya sudah tahu siapa yang kali ini berbicara, Hitam. Kurasakan dadaku terputar hampa, rasa takut pun menyelimuti. Si hitam ini memiliki sisi aneh di balik kekuatannya. Dia yang menyuruh, dan dia pula yang ketakutan.

“Sepenting itukah dia?” ini hijau yang bertanya. Kurasa dia bertanya kepada si merah yang sedari tadi diam. “Sampai kau kacau begini?”

“Ya, ini adalah waktu kosong, tidak ada orang di sini, tidak ada perintah, kau bisa lakukan pekerjaanmu! Lakukan! Lakukan sebelum…” lalu dia menarik napas panjang. Aku bisa merasakan kepanikan dari hitam yang terus-menerus mengomel.

“Lupa kan? Mau buat apa? Tenangkan dirimu, tapi jangan tidur kalau tidak mau dapat masalah lagi.” kurasa hijau menyambung si hitam lagi. Dia adalah sisi diriku yang menghendaki ketenangan jiwa, semacam bagian kecil yang menjabat sebagai penasehat.

Aku tahu ini tidak boleh terjadi, kejadian di mana bagian-bagian kepribadianku terpencar sehingga sikap yang kuambil selalu punya beberapa opsi. Ini adalah sumber kekacauanku sekarang. Logika lemahku selalu membuat rencana yang pasti tidak terlaksana disebabkan rasa yang tidak kunjung stabil dari proses adaptasi dan evolusinya yang takhenti karenamu. Tapi, di mana si Merah? Rasa dan ambisi yang biasanya meledak-ledak?

***

Selamat atas gelar sarjananya : D

Akhirnya pesan itu bisa kukirimkan kepadamu. Dan akhirnya si merah pun berbicara, “Mari lanjutkan pekerjaan.”

Tagged:

4 thoughts on “Sarjana

  1. azzaitun Kamis, 6 September 2012 @ 4:09 AM pukul 4:09 AM Reply

    bagus ceritanya mas Fal, banyak paradoksal dalam satu kepala ya..
    dan semangat!đŸ™‚

  2. puchsukahujan Kamis, 6 September 2012 @ 7:23 AM pukul 7:23 AM Reply

    “Selamat atas gelar sarjananya,” saya ikut mengucapkan.

  3. Danni Moring Kamis, 6 September 2012 @ 1:33 PM pukul 1:33 PM Reply

    selamatđŸ™‚

  4. Eko Wardoyo Jumat, 7 September 2012 @ 9:10 AM pukul 9:10 AM Reply

    begitu pentingkah dia bang fal ^___^

    lama gak jumpa – ganti kulit yah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: