Crisis

MakassarI was shocked! Saya tidak menyangka kehidupan jadinya seperti ini, berjalan secepat ini. Sepertinya memang benar ungkapan selamat menempuh hidup baru disematkan kepada orang yang baru saja menikah. Banyak hal terjadi setelahnya yang sama sekali tidak terpikirkan sebelumnya. Setidaknya itu bagi saya.

Sebelum saya melanjutkan tulisan ini, saya ingin mengucapkan selamat kepada Lady N atas pertunangannya. I am really happy and wishing you a really happy life.

Oke, sejauh ini saya merasa creepy atas apa yang telah saya lakukan di separuh hidup saya sampai pada titik ini. Tidak ada cara memperbaikinya kecuali dengan menjalani kehidupan sekarang dan setelah ini dengan sebaik-baiknya. Dan di sinilah saya mulai bercerita lagi.

Tahun lalu, saya bimbang apakah saya akan melanjutkan kontrak di RSUD Maba atau tidak. Berhubung saya akan menikah saat itu, yang juga artinya saya akan kehabisan pendanaan, saya berencana memperpanjang kontrak setahun lagi. Yap, andaikata rencana itu terlaksana maka kebimbangan tahun lalu akan terulang lagi hari ini. Tapi tidak!

Ternyata saya tidak perlu repot-repot memikirkan tentang perpanjangan kontrak saya karena direktur dengan keputusannya sudah berkata lain. Saya diberhentikan karena kebijakan tidak tertulisnya tidak mengizinkan pasangan suami istri dalam satu instansi, atau dengan kata lain: perpanjangan kontrak saya tidak diterima.

Saya lalu mengembara lagi ke Bekasi, hanya untuk menemukan bahwa cara hidup dengan menjadi tenaga dokter tidak tetap / pengganti sudah bukan zamannya lagi. Belum berapa minggu saya di Bekasi, istri saya sudah mencak-mencak meminta saya kembali ke Halmahera Timur.

Saya juga menemukan bahwa dalam kehidupan pernikahan ini, hasrat saya untuk berkelana harus ditekan sedemikian rupa. Sebetulnya saya berkesempatan untuk turun membantu di bencana nasional yang terjadi tahun ini (bencana Lombok dan Palu), tetapi istri tidak merestui jadi apa boleh buat.

Menunggu kontrak istri di RSUD Maba selesai, saya mengajukan diri ke dinas kesehatan kabupaten untuk mengisi puskesmas. Namun pada akhirnya saya terpaksa mengundurkan diri karena masalah kesehatan kandungan istri. Akibat pengunduran diri itu, didukung oleh situasi kas kabupaten, sampai sekarang setengah gaji saya belum dibayarkan.

Saya sempat mendaftar untuk jadi CPNS, tetapi tidak lulus. Dan seterusnya sampai saat ini saya masih berstatus pengangguran.

Terus, apa rencana saya sekarang? Kalau tentang pekerjaan, tidak ada. Sertifikasi ACLS saya tinggal sebulan lagi kedaluwarsa. Sertifikasi ATLS belum pernah ikut. Kalau mau kerja di UGD setidaknya pihak RS akan minta dua sertifikat itu. Yang ada hanya sertifikasi hiperkes untuk kerja di perusahaan, tetapi tawaran yang tersedia tidak direstui oleh istri. Ribet ya kehidupan setelah menikah itu? Well, I’ve been warned.

Sekarang saya berencana sekolah lagi. Bagaimana pun juga hati ini tidak tenteram kalau belum mencapai tahap itu. Soal pembiayaan saya angkat tangan! Saya tidak bisa membiayai diri saya sendiri. Tapi soal restu, istri dan orang tua saya mendukung. Yang selanjutnya dijalani saja dulu, mudah-mudahan ada jalannya.

Special messages: Despite my crisis, I glad everyone is doing okay with their life. Some of them pass the Civil Servants / Federal Workers test. Some of them continue to residency. Some of them still struggle to be doctors. Some of them has finally settled down to build their own little family. And I want them to know I really am proud of them and I missed them so much! Time sure flies so fast.

2 respons untuk ‘Crisis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s